Halaman

Selasa, 12 November 2013

EXO FANFICTION|THE GANGSTER CLASSMATE

Cast     : EXO & Nicole
Genre `: Friendship
Author  : Sarni_Sky

“Halo. Aku Nicole.” Sapa Nicole membungkuk di depan teman-teman barunya. Dan cerita pun dimulai…..
Nicole merupakan seorang murid baru di sebuah SMA elit. Ia dipindahkan karena ibunya tak ingin ia berada satu sekolah dengan adiknya. Semasa SMP, ia terus membuat masalah sepanjang tahun. Ia dan adiknya yang lebih muda dua tahun darinya adalah Partner In Crime. Awalnya, Sehun (adik Nicole) yang akan dimasukkan ke sekolah baru Nicole, tapi Sehun bersikeras bahwa ia tak akan masuk SMA selain sekolah lama Nicole. Alasan sebenarnya adalah gadis yang disukai Sehun ternyata akan masuk ke sekolah itu. Ibu akhirnya mengabulkan permintaan Sehun dan memutuskan Nicole harus dipindahkan.  Ibu mereka khawatir sekolah SMA akan kacau balau lagi jika kedua kakak beradik itu terus berdekatan.

^_^

Nicole berjalan di dalam laboratorium biologi, mencari tempat untuk duduk. Di belakangnya ada Kai yang mengikutinya sambil bersiul. Kai tiba-tiba menyenggolnya dengan sengaja hingga Nicole jatuh tersungkur. Mungkin Kai sedang melakukan penyambutan bagi Nicole sebagai teman sekelas barunya, tapi Nicole ternyata jadi kesal.
“Hey, apa kau tidak melihat? Di depanmu ada orang.” Kata Nicole bangkit dengan cepat
“Wooooo……” Teriak kawan-kawan sekelasnya serempak
“Benarkah? Ku pikir yang sejak tadi berada di depanku itu tempat sampah.” Ujar Kai menyebalkan.
“Hei! Kau pikir karena aku miskin, maka aku adalah sampah, seorang pecundang dan takut padamu??? Sayang sekali aku tidak begitu. Mulai sekarang, sebaiknya pakai matamu dengan benar!” ujar Nicole mendorong Kai  ke meja. Lengan Kai bertumpu di atas meja. Nicole kemudian menancapkan pisau praktikum tepat di lengan seragam Kai. Nicole menyeringai, wajahnya jadi agak menyeramkan. Teman-teman Kai hanya ternganga tak percaya melihat pemandangan ini. Tak ada satu murid pun yang pernah melawan Kai sebelumnya.
Nicole mengambil tempat di pojok ruangan. Di sana ada tiga anak lain yang hanya menunduk dan sibuk dengan urusannya masing-masing.
“Kalian bertiga……” Ucap Nicole duduk di hadapan Kyungsoo, Baekhyun dan Chen sambil melipat lengannya. Ketiga anak lugu itu memandang Nicole.
“Kami kenapa???”  Baekhyun memberanikan diri bertanya.
“Kalian bertiga tampak seperti pecundang.” Jawab Nicole menatap mereka bertiga secara bergantian.
“Ya. Kami memang pecundang.” Ujar  Kyungsoo lalu kembali membaca prosedur praktikumnya.
“Mau berteman denganku?” Tanya Nicole tersenyum. Ketiga anak itu sontak mengangkat wajahnya, memandang Nicole dengan tatapan tak percaya.  “Kalian mau berteman denganku tidak???” Nicole mengulang pertanyaannya. Ketiga anak itu mengangguk. Mungkin karena takut pada Nicole. haha…  

^_^

Nicole pulang sekolah bersama Baekhyun. Sepanjang jalan, Nicole tak henti-hentinya mengusili Baekhyun. Entah itu menarik rambut Baekhyun dari belakang, atau menyelipkan rumput ke kerah seragam Baekhyun. Baekhyun yang sudah terbiasa dengan kejahilan semacam itu tidak mempedulikannya. Baekhyun hanya menampilkan senyum perdamaian. Tiba-tiba Baekhyun menghentikan langkahnya tidak jauh dari sebuah toko kue di persimpangan jalan.
Seorang pria paruh baya berjalan cepat ke tempat Baekhyun dan Nicole berdiri. Wajahnya terlihat marah. Nicole bertanya apakah Baekhyun mengenal pria itu. Baekhyun mengatakan bahwa pria itu adalah ayahnya dan ia pasti sangat marah karena Baekhyun tidak mengantarkan pesanan kue pagi tadi. Baekhyun ingin lari tapi Nicole menangkap lengannya. Ayah Baekhyun mendekat dan akan memukul anak itu.
“Hey, paman! Apa kau selalu memukuli anak-anak seperti ini?” Tanya Nicole menangkap tangan ayah Baekhyun yang hendak memukul anaknya
“Hey, siapa kau???” Ayah Baekhyun balik bertanya
“Aku teman Baekhyun. Paman, apa kau ini ayahnya?”
“Ya. Dan mengapa kau tak bicara secara formal padaku, anak kurang ajar?” Bentak ayah Baekhyun
“Haruskah aku bicara formal pada orang yang menyebut orang lain ‘anak kurang ajar’? Ku rasa paman tidak lebih sopan dariku. Sangat mengherankan paman bisa punya anak seperti Baekhyun.” Ujar Nicole
“Ya. Memang sangat mengherankan bagaimana aku bisa punya anak tak berguna seperti dia.”
“Anak tak berguna? Paman pikir paman ini ayah yang berguna? Lihat diri paman.  Sudah berapa lama paman hanya tinggal dan menyuruh Baekhyun ke sana ke mari untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggungjawab paman? Dan sudah berapa lama paman memukulnya seperti ini? Itukah gunanya paman sebagai seorang ayah? Apakah paman tahu apa akibatnya jika selalu menyakiti anak seperti itu? Tahukah paman jika paman selama ini sudah membuatnya menjadi anak yang terlalu penurut bahkan penakut? Dia selalu merasa bahwa dirinya sungguh pecundang dan dia tak tidak punya banyak teman. Dia dikucilkan, dan anak-anak di sekolah bertingkah sama persis seperti paman. Baekhyun merasa itu wajar saja, karena ia sudah terbiasa dengan perlakuan macam itu. Tapi tidakkah paman merasa bahwa itu salah? Baekhyun bukan berandalan. Dia anak yang sangat baik jadi perlakukanlah dia dengan baik pula. Dipukul itu sungguh tidak menyenangkan. Kalau paman ingin memukul, pukul tembok saja. Jangan memukul manusia sebaik Baekhyun. Paman mengerti?!” Cerocos Nicole setengah berteriak. Ia pun pergi meninggalkan Baekhyun dan ayahnya yang sedang terbengong-bengong. Baekhyun bengong saking kagumnya, sedang ayahnya bengong saking shock-nya.
“Dia harus mempraktekkan memukul tembok sewaktu-waktu agar ia tahu bahwa memukul itu terkadang tidak mengenakkan.” Nicole bicara pada dirinya sendiri setelah ia berada cukup jauh dari Baekhyun dan ayahnya.

^_^

Nicole dan tiga sekawan (Chen, Baekhyun dan Kyungsoo) sedang berkumpul di halaman sekolah. Chen sibuk mengerjakan essay, Kyungsoo sedang melamun, sedangkan Baekhyun sedang sibuk memotong kuku tangan Nicole. Baekhyun sungguh orang yang berdedikasi. Ia melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati. Nicole memandang wajah Baekhyun yang tampak begitu polos dan tanpa dosa, juga lumayan tampan. Hanya penampilannya saja yang sedikit berbeda dengan anak-anak lain. Jika gaya berpakaiannya bisa sedikit diubah, mungkin nasibnya juga bisa sedikit berubah. 
“Dia masih sering memukulimu?” Tanya Nicole. Yang dimaksud Nicole tentu ayah Baekhyun.
“Tidak lagi. Semua berkat kau. Terima kasih.” Ucap Baekhyun tersenyum
“Hey, kita kan teman.” Ujar Nicole. “Oh iya teman, pernahkah kau memperhatikan dirimu di cermin?”
“Tidak. Kenapa? Apa setelah mengataiku pecundang, kau juga akan mengatakan bahwa aku ini jelek?” Baekhyun merengut
“Aku tidak berpikir begitu. Aku justru berpikir bahwa kau ini lumayan tampan. Mungkin kau tidak menyadarinya, makanya aku bertanya.” Jawab Nicole membuat Chen menghentikan essay-nya, Kyungsoo sadar dari lamunannya, dan Baekhyun jadi cegukan mendengarnya. “Kenapa?” Tanya Nicole bingung. Baru kali ini wajahnya jadi tampak begitu polos.

^_^

Keesokan harinya, Baekhyun berjalan pelan di sepanjang jalan menuju sekolah. Hari masih sangat pagi dan sekali-sekali ia tampak menguap. Ia singgah sebentar di depan sebuah rumah dan berniat memencet bel rumah tersebut namun kemudian membatalkan niatnya.
“Oh, babo!” Baekhyun mengutuk dirinya sendiri, menampar dahinya. Ketika ia berbalik, Nicole sudah ada di depannya. Nicole yang muncul begitu saja lumayan mengejutkan Baekhyun. Nicole terlihat tak peduli dengan keterkejutan kawannya itu. Dia malah memandangi pintu rumah yang tadi hendak dipencet belnya oleh Baekhyun.
“Bukankah ini rumah…..” Ujar Nicole baru saja ingin memulai pertanyaanya tapi Baekhyun menyeretnya pergi.
“Kita hampir terlambat.” Ujar Baekhyun berdalih.
“Baekhyunnie.” Kata Nicole
“Baekhyunnie? Tak biasanya kau bicara seperti itu?” Tanya Baekhyun bingung mendengar cara Nicole menyebut namanya.
“Apa itu terdengar aneh?” Tanya Nicole
“Ah, tidak. Itu sangat bagus.” Jawab Baekhyun tak ingin mengesalkan Nicole. Nicole tersenyum.
“Oh, tunggu sebentar.” Ujar Nicole berdiri di depan Baekhyun sambil mencari sesuatu di dalam tasnya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah topi lalu memakaikannya pada baekhyun. “Waaa…. kau tampak seperti seorang member idol group.” Lanjut Nicole kembali berjalan. Baekhyun tersenyum malu-malu mendengar ucapan Nicole. Baekhyun kemudian mengirim pesan untuk Kyungsoo dan Chen
“Nicole baru saja memanggilku Baekhyunnie. Menurutmu itu aneh tidak?”  Begitu isi pesan Baekhyun. Sepertinya ia curiga kalau-kalau Nicole tertarik padanya. Haha…..

^_^

 Nicole sedang memain-mainkan bola baseball di tangannya. Pandangannya menatap lurus ke arah telinga  kanan Xiumin. Nicole kemudian melemparkan bola tersebut. Bola itu melintas tepat di depan hidung Xiumin. Jarak antara hidung Xiumin dengan bola nyasar tersebut kira-kira satu sentimeter. Xiumin yang terkejut langsung memutar lehernya ke arah datangnya bola tadi.
“Ups, kurasa aku hampir mematahkan hidungmu.” Ujar Nicole dengan santai. Belum sempat Xiumin mengatakan sesuatu, seseorang sudah ber-“Aww” di belakangangya. Xiumin memutar tubuhnya 180o dan melihat Chanyeol tampak kesakitan sambil memegang punggungnya. Sepertinya lemparan baseball Nicole baru saja bersarang di punggung Chanyeol.  Saat Xiumin kembali menoleh ke tempat Nicole berdiri, Nicole sudah menghilang.

^_^

Tiga serangkai sedang serius membicarakan sesuatu di kelas. Rupanya Chen menemukan sebuah dompet. Dia bilang dompet itu tergeletak di gerbang sekolah. namun setelah memeriksanya, ia tak berani mengembalikannya. Mereka pun memutuskan siapa yang harus mengembalikan dompet tersebut dengan hom pim pa. Melihat ini, Nicole pun  menghampiri mereka. Dia berdiri di sebelah Kyungsoo dengan tangan terlipat di dadanya.
“Apa-apaan ini?” Tanya Nicole mengejutkan ketiga temannya tersebut.
“Chen menemukan dompet itu di gerbang sekolah.” Jawab Kyungsoo
“Lalu kenapa kau tidak mengembalikannya?” Tanya Nicole membolak-balik dompet kecil tersebut.
“Aku tak ingin bertemu pemiliknya. Jadi, bisakah aku minta tolong padamu untuk mengembalikannya? Di antara kita berempat, kau yang paling mungkin untuk mengembalikannya.” Jawab Chen diiringi anggukan dari Kyungsoo dan Baekhyun.
“Memangnya siapa pemiliknya?” Tanya Nicole
“Buka saja dan lihat kartu pelajarnya.” Chen tidak menjawab pertanyaan Nicole dengan benar. Nicole membuka dompet tersebut dan menemukan kartu pelajar. Di situ tertulis nama Kim Jong In, tapi fotonya adalah foto Kai. Nicole mengernyit.
“Kalian tahu di mana pemiliknya sekarang?”
“Dia ada di kantin.” Jawab Kyungsoo.
Nicole mencari-cari Kai di kantin. Ia pun menemukan sosok pria tinggi itu di salah satu sudut kantin. Ia sendirian. Tanpa keenam kawannya yang berisik itu. Nicole menghampiri Kai dan menjatuhkan dompet di mejanya. Kai mendongak dan mengernyit melihat Nicole.
“Kau mencopetku huh?” Tanya Kai kasar
“Hey, Kim Jong In! Dompet jelek itu terjatuh di gerbang sekolah dan aku hanya mengembalikannya padamu.” Kata Nicole duduk di depan Kai.
“Apa??? Kim Jong In??? Siapa yang mengijinkanmu memanggilku dengan nama itu?”
“Kenapa? Kau tidak suka?” Nicole balik bertanya
“Ya.” jawab Kai mengambil dompetnya dan hendak pergi.
“Tapi aku menyukainya. Aku pernah punya seorang teman bernama Kim Jong In. Enam tahun yang lalu aku pernah hampir mematahkan hidungnya. Ku dengar sekarang dia tinggal di Myeongdong.” Ujar Nicole
“Memangnya aku peduli?” Cibir Kai
“Andai aku bertemu dengannya lagi, aku ingin minta maaf padanya.” Kata Nicole. Kai kemudian pergi begitu saja.

^_^

Ibu Victoria memasuki kelas. Meski pun ibu guru yang satu ini cantiknya luar biasa, namun ia menakutkan seperti Nicole. Ibu Victoria mengajar Bahasa Inggris.
“Anak-anak, keluarkan buku pelajaran kalian. Dan seperti biasa, aku selalu berharap tak ada satu pun dari kalian yang tidak membawa buku.” Ujar ibu Victoria menuliskan sesuatu di papan tulis. “yang tidak membawa buku, silahkan berdiri.” Lanjut ibu Victoria. Suho menelan ludah lalu berdiri di tempat duduknya. Xiumin juga sepertinya tidak membawa buku karena ia juga hendak berdiri. Nicole meletakkan bukunya di meja Xiumin lalu berdiri mendahului lelaki cantik itu. Suho memandangnya dengan heran.
“Suho, Nicole, silahkan keluar dari kelas. Berdiri di depan pintu dengan satu kaki dan tangan saling menjewer telinga.” Kata ibu Victoria mengusir Nicole dan Suho, sang ketua kelas. Mereka pun keluar untuk  menjalani hukuman.
Dua puluh menit berlalu. Suho dan Nicole saling diam selama dua puluh menit tersebut. Pada menit ke dua puluh satu, Suho memberanikan diri berbicara dengan gadis killer itu.
“Kenapa kau memberikan bukumu pada Xiumin? Kalau kau begitu baik, kenapa kau tidak memberikannya padaku?” Tanya Suho
“Aku ingin dihukum bersama ketua, bukan dengan Xiumin. Dia terlalu cantik untuk dipermalukan seperti ini.” Jawab Nicole asal
“Jadi kau merasa malu?” Suho bertanya lagi
“Tidak juga. Wajahku sudah cukup tebal.” Jawab Nicole membuat Suho tersenyum geli.

^_^

Nicole pulang agak larut usai latihan karate dan mendapati Luhan sedang dikepung sekelompok berandal.  Nicole mengintai sekelompok pemuda tersebut dari balik tempat sampah sambil memikirkan cara untuk menjauhkan mereka dari Luhan. Sebuah jeruk busuk di tempat sampah tiba-tiba memberinya ide. Ia pun memungut jeruk itu sambil menunggu waktu yang tepat. Ia kemudian melemparkannya seolah jeruk busuk itu sebuah bola baseball. Lemparannya mendarat tepat di bagian belakang kepala salah seorang pemuda di depan Luhan.
“Sial!” Geram pemuda tersebut berbalik dan menyeringai ke arah Nicole. Nicole sudah mengambil jurus langkah seribu. Pemuda yang terkena lemparan jeruk tersebut beserta seorang kawannya beralih mengejar Nicole sementara sisanya bertarung dengan Luhan. Luhan membereskan mereka kurang dari lima menit. Luhan kemudian menyusul Nicole yang mungkin sudah tertangkap atau yang lebih buruk lagi, Nicole mungkin sudah babak belur.
Tak seperti dugaannya, Luhan bertemu Nicole di pertigaan jalan. Ia sendirian. Sepertinya ia berhasil lolos dari kejaran kedua preman tadi.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Luhan canggung
“Ya.” Jawab Nicole tampak lelah
“Kau melawan mereka?” Tanya Luhan antara khawatir dan penasaran
“Tidak. Aku melarikan diri.” Jawab Nicole
“Benarkah? Apa kau secepat itu?” Luhan kurang percaya
“Hey, ini wilayahku. Aku tahu lebih banyak daripada bocah-bocah tengik itu.” Jawab Nicole tertawa ringan. “mau jalan-jalan sebentar?”
“Tentu.” Tukas Luhan
Luhan dan Nicole berjalan beriringan sembari tenggelam dalam pikiran masing-masing. Nicole berhenti melangkah ketika mereka tiba di depan sebuah taman bermain. Taman itu sangat sepi dan sudah terkunci rapat. Nicole kemudian menyeret Luhan ke bagian utara taman tersebut. Selain pohon dan bangku taman, tak ada apa-apa lagi di sana. Luhan jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa maksud Nicole membawanya ke mari? Jangan-jangan Nicole ingin melakukan sesuatu padanya? Begitu pikir Luhan. Sementara Nicole yang tidak memperhatikan Luhan mulai memanjat pohon.
“Hey, apa yang kau lakukan di bawah sana? Ke marilah sebelum kita tertangkap!” Kata Nicole dari atas tembok. Luhan, meski kebingungan tetap  mengikuti instruksi Nicole. ia ikut naik ke atas lalu melompat ke dalam taman bermain seperti yang dilakukan Nicole.
“Kau sepertinya sangat mengenal tempat ini. Kau sering ke mari?” Tanya Luhan
“Tentu.” Jawab Nicole kemudian iseng mengambil gambar self camera bersama Luhan. “Aku dan Sehun sering ke mari. Jika ayah dan ibuku bertengkar, maka aku dan Sehun akan ke mari kemudian pulang setelah larut malam. Tapi kami tak pernah ke mari di siang hari. Kami tak punya uang untuk membeli tiket masuk apalagi makanan di sini. Terlalu mahal.” Tutur Nicole antara sedih dan juga geli.
Nicole dan Luhan mengobrol hingga tak terasa malam sudah semakin larut. Nicole melirik jam tangan Luhan. Waktu menujukkan pukul 23.30 malam.
“Sepertinya ibuku sudah tidur. Ayo pulang.” Ajak Nicole turun dari komidi putar yang sedari tadi tidak bergerak. Mereka keluar melalui pintu rahasia di sebelah barat. Pintu itu hanya bisa di buka dari dalam sehingga tak ada yang bisa menggunakannya dari luar. Dan setelah ditutup kembali, pintu itu sudah tak terlihat karena ditutupi oleh tanaman yang menjalar di sepanjang tembok taman. Konon, pintu rahasia itu sengaja di buat oleh salah satu pekerja saat pembangunan taman dilakukan. Pekerja tersebut sengaja membuat pintu tersembunyi agar anak-anaknya dan juga anak-anak lain seperti Nicole bisa masuk dan keluar taman tanpa harus membayar.
Luhan mengantar Nicole pulang. Nicole berpamitan dan melambai pada Luhan sebelum menutup pintu. Di sekitar tempat itu sudah sangat sepi. Luhan menuliskan sesuatu dengan ujung jarinya di pintu rumah Nicole sebelum pergi dari sana. Tulisan itu kira-kira berbunyi “Terima kasih karena kau telah datang padaku.”
“ Kurasa, menjadi miskin bukanlah hal yang buruk. Nicole, selamat malam. Semoga tidurmu nyenyak.” Ucap Luhan berbicara dengan pintu. Ia pun pergi.

^_^

Luhan berkunjung ke rumah Nicole seminggu setelah acara jalan-jalan malam yang tak terduga itu. Nicole yang baru saja selesai membuat  masalah dengan salah satu anak tetangga sedang tidak ada di rumah. Nicole punya kebiasaan pulang lebih larut jika sedang terjadi sesuatu karena ibu pasti akan mengomelinya habis-habisan. Saat tiba di rumah Nicole, Luhan mendengar suara ibu yang sedang mengomel, tentang Nicole. Luhan menghampiri ibu dengan senyum termanisnya.
 “Dasar anak keterlaluan! Selalu saja membuat masalah dan melimpahkannya padaku. Setelah itu ia akan melarikan diri dan tidak bertanggungjawab. Berani bertaruh, ia akan pulang larut malam ini. Lihat saja, aku pasti akan menangkapnya saat ia pulang nanti.” Cerocos ibu sambil memukuli kasur dengan ekspresi penuh dendam seolah kasur itu Nicole.
“Sudahlah bu, Noona pasti tidak sengaja.” Ujar Sehun dengan santai sambil bermain dengan video game-nya
“Kau juga sama saja! Selalu saja membelanya!” Bentak ibu
“Apa kabar, Bibi.” Sapa Luhan mengagetkan ibu
“Oh. Siapa kau?” Tanya ibu
“Aku temannya Nicole.” Jawab Luhan
“Kau bersama anak nakal itu?” Tanya ibu mencari-cari Nicole
“Ehm… tidak. Ku pikir dia ada di rumah. Karena itulah aku datang ke mari.”
“Sudahlah. Jangan pedulikan dia. Ayo masuk.” Ajak ibu. Luhan menurut saja. Ini merupakan kali kedua ia berkunjung, dan baru kali ini Luhan masuk ke dalam rumah.
“Aku sangat bingung, sebenarnya kesalahan apa yang telah kulakukan. Aku selalu merasa bahwa aku membesarkan anak itu dengan baik. Tapi dia tetap seperti itu. Dia anak perempuan tapi sangat mengerikan. Bahkan Sehun tidak pernah membuatku sepusing ini. Aku sudah merasa bahwa aku tidak pernah membedakan antara kasih sayangku padanya dengan adiknya. Seringkali aku ingin mengatakan yang sebenarnya pada anak itu, tapi entah mengapa tiap kali melihatnya aku tak pernah bisa bicara lagi.” Tutur ibu menuang teh untuk Luhan. Sepertinya ibu sedang curhat dengan Luhan. Sehun, meskipun dia tidak senakal Nicole, tapi anak itu sepertinya bukan pendegar yang baik sehingga ibu tetap saja kesepian.
“Bibi, kau adalah ibu terbaik yang pernah ku temui. Aku tak punya orangtua di sini, karena itulah aku sangat senang bisa mengenal bibi. Bibi bisa menganggapku sebagai anak bibi. Melihat bagaimana sikap Nicole dan Sehun terhadap bibi, aku jadi mengerti bagaimana perasaan ibuku selama ini yang seringkali tidak didengarkan oleh anak-anaknya. Bibi, jika kau sedang membutuhkan teman untuk diajak bicara, bibi boleh meneleponku.” Ujar Luhan. Ibu tersenyum mengacak rambut Luhan.

^_^

Xiumin sedang memandangi fotonya bersama Luhan di layar poselnya. Hari ini Luhan tidak masuk sekolah dan tak ada kabar sama sekali. Xiumin menarik napas lalu menatap keluar jendela kelas dan matanya menangkap sosok Nicole di kejauhan. Ia pun tersenyum.
Nicole sedang memakan sesuatu yang ia bawa dari rumah ketika Xiumin tiba-tiba muncul dan duduk di sampingnya.
“Oh, Xiuminnie…” Sapa Nicole membuat Xiumin terperanjat. “Sudah ku duga ini akan terjadi.” Lanjut Nicole memalingkan wajah. Sepertinya Nicole sedang berusaha keras mengubah kepribadiannya dari wanita galak dan semena-mena menjadi seperti gadis-gadis pada umumnya.
“Bisakah kau mengulanginya?” Pinta Xiumin
“Kenapa aku harus melakukannya? Bukankah itu terdengar menakutkan? Chen bilang aku menakutkan saat bicara seperti itu” Nicole bingung
“Tidak. Jika kau yang mengatakannya, itu terdengar sangat cute. Jadi, bolehkah aku mendengarnya sekali lagi?” Xiumin penuh harap
“Xiuminnie…” Tukas Nicole. Senyum pun terkembang di bibir Xiumin
“Ngomong-ngomong, tahukah kau hari apa ini?” Xiumin bersemangat
“Hari Selasa.” Jawab Nicole
“Tepat.” Kata Xiumin mengedipkan sebelah matanya. WINK! “Dan pada hari selasa ini, aku berulangtahun.” Lanjut Xiumin heboh sendiri
“Benarkah??? Ooo… selamat ulangtahun temanku.” Nicole jadi ikut-ikutan heboh. “Sebagai hadiahmu, aku akan berbagi makanan denganmu. Buka mulutmu.” Kata Nicole. Xiumin menurut saja. Nicole menyuapkan makanan ke mulut Xiumin.

^_^

Xiumin berjalan di koridor sekolah sambil tersenyum-senyum sendiri. Ia tak henti-hentinya mengucapkan kata ‘Xiuminnie’ membuat anak-anak lain melempar tatapan aneh padanya. Ia kemudian  menelepon Luhan untuk menagih ucapan selamat ulangtahun.
“Ehm… Luhan, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu.” Kata Xiumin setelah mendapat satu ucapan selamat ulangtahun dari sahabatnya itu. Xiumin kembali ke jendelanya tadi dan menonton kawan-kawannya yang sedang bermain sepakbola di lapangan.
“Apa itu?”
“Menurutmu, apa aku sudah gila jika aku tertarik pada gadis itu?” Tanya Xiumin dengan lugunya
“Gadis yang mana?” Tanya Luhan tidak mengerti
“Ku rasa aku tertarik pada Nicole.” Jawab Xiumin
“Apa?????” Luhan Shock
“Ini mungkin terdengar sangat gila, tapi gadis itu menarik perhatianku sejak ia dihukum karena memberikan buku pelajarannya padaku.” Ujar Xiumin menatap lurus ke depan. Xiumin mungkin tidak tahu bahwa apa yang dilakukan Nicole waktu itu sebenarnya hanya modus agar ia bisa dihukum bersama Suho.

^_^

Ibu menyuruh Nicole mengambil pesanan ayam sepulang sekolah. Walau sedikit menggerutu, Nicole tetap mengerjakannya. Ia benci paman penjual ayam yang seringkali mempermainkannya. Paman itu sering menggoda Nicole dan menjodoh-jodohkan Nicole dengan anak laki-lakinya.
Nicole menarik napas sebelum memasuki toko paman tersebut.
“Apa kabar.” Sapa Nicole dengan lesu
“Oh, calon menantuku.” Sambut paman pemilik toko itu bersemangat. Nicole hampir pingsan mendengarnya.
“Aku….” Nicole baru saja hendak bicara namun paman itu memotong ucapannya.
“Ah, aku tahu. Pesanan ibumu kan?” Tanya paman. Nicole mengangguk. Paman membungkus daging ayam yang paling segar dengan bungkusan paling rapi dan bagus. Nicole meletakkan ponselnya yang menyala di meja kasir lalu merogoh saku-sakunya untuk mencari uang yang dititipkan ibu pagi tadi. Paman melirik layar ponsel yang menampilkan gambar Nicole bersama Luhan. Wajah paman tiba-tiba berubah.
“Luhan.” Tukas paman
“Oh, paman mengenalnya?”
“Tidak. Pulanglah! Ibumu pasti sudah menunggu.” Usir paman, tapi Nicole tidak pergi. Nicole tetap berdiri di sana. “Kau belum pergi juga?”
“Seberapa jauh paman mengenal Luhan? Dan bagaimana paman mengenalnya?” Tanya Nicole
“Apa itu penting? Sudahlah. Lupakan dan pulanglah.” Usir paman sekali lagi, tapi lagi-lagi Nicole tidak menghiraukannya. “Apa lagi???” Tanya paman hampir gila menghadapi anak itu
“Itu sangat penting. Dia hidup sendirian di sini dan tak ada yang mengenalnya. Akan sangat baik jika ia punya seseorang yang bisa ia datangi saat akhir pekan.” Jawab Nicole. Paman menarik napas.
“Ini sangat menyebalkan tapi aku akan sedikit menceritakannya. Tapi setelah ini, kau harus segera pulang.” Ujar paman. Nicole mengangguk tanda setuju. “ Beberapa tahun lalu, aku bekerja pada ayahnya. Ayahnya orang yang baik dan juga sangat malang. Ia dan istrinya mengalami kecelakaan dan ku dengar uang asuransinya diambil oleh sahabatnya. Orang jahat itu menggunakan uang asuransi tersebut untuk mendirikan perusahaan di luar negeri dan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Ia meninggalkan Luhan di Hongkong lalu kembali ke Korea. Ku dengar ia sudah menjadi direktur di perusahaan besar. Dan menurut rumor yang kudengar, dialah yang merencanakan kecelakaan yang menimpa keluarga Luhan.” Paman mengakhiri ceritanya.
“Jadi begitu? Baiklah, aku sudah berjanji akan pergi. Sampai jumpa paman.” Ujar Nicole membungkuk dan pergi.
“Oh, calon menantu.” Paman memanggil Nicole lagi. “Aku baru memerhatikan seragammu. Kau punya seragam yang sama dengan putraku. Ku dengar, putra direktur gila dan jahat itu juga bersekolah di sana.” Nicole berhenti di pintu mendengar bahwa putra pembunuh ayah Luhan bersekolah di sekolah yang sama dengannya.
“Benarkah? Siapa nama putra paman?” Tanya Nicole pura-pura tertarik
“Kyungsoo. Namanya Do Kyungsoo.” Jawab paman membuat Nicole nyaris pingsan.
“Lalu, siapa nama putra pembunuh itu?” Tanya Nicole
“Haruskah aku memberitahumu juga?”
“Tentu saja. bagaimana jika orang itu tertarik padaku lalu mengetahui bahwa aku adalah calon menantunya paman? Dia bisa mengadukan paman pada ayahnya. Apa paman tidak takut?” Tanya Nicole. sebenarnya ia tak berharap paman akan terpancing, tapi sepertinya paman benar-benar berharap Nicole akan menjadi menantunya. Paman menjawab pertanyaannya.
“Ah, kau benar juga. Ku rasa Kyungsoo pernah mengatakannya padaku. Kalau tak salah, namanya Suho.” Jawab paman membuat Nicole benar-benar akan pingsan. Nicole segera pamit pulang. Ia berjalan dengan amat sangat lesu. Semangatnya berjatuhan di sepanjang jalan menuju rumahnya.
Nicole semakin lesu melihat seseorang yang sedang bermain catur dengan ibunya di teras rumah. Nicole menghampiri mereka lalu meletakkan ayam di atas papan catur.
“Hey! Apa yang sudah kau lakukan? Aigo…anak ini.” Ibu mengomel
“Aku sangat lapar. Jadi aku tidak memperhatikan apa pun. Maafkan aku bu.” Jawab Nicole.
“Oh…anakku. Baiklah, ibu akan memasak untukmu.” Ujar ibu kasihan melihat putrinya. Ibu segera masuk ke dapur.
“Kita harus bicara.” Nicole memberitahu Luhan. Ia tiba-tiba menjadi kuat. Nicole pergi dari sana, Luhan mengikutinya. Nicole berhenti di jalan yang berundak-undak lalu duduk di sana. Luhan duduk di sampingnya.
“Apa yang ingin kau bicarakan? Tak bisakah kita bicara di rumah saja?” Tanya Luhan
 “Ada rumor yang mengatakan bahwa ayah Suho adalah penyebab kematian ayahmu.” Kata Nicole. Luhan tidak langsung menanggapi pertanyaan itu. Luhan merenung, lama sekali.
“Jadi???” Tanya Luhan setelah perenungannya selesai
“Jadi……….. kumohon kau jangan menyeret Suho ke dalam masalah ini. Kalian berteman kan?”
“Kau suka Suho ya?” Tanya Luhan
“Mungkin.”
“Bolehkah aku memberi saran?”
“Apa?”
“Nicole, sejauh yang ku ketahui, wanita selalu menggunakan hatinya dengan benar sedang pria jarang sekali menggunakan hatinya. Jadi, sebagai seorang wanita, kau harus menemukan pria yang menyerahkan hatinya padamu. Dengan begitu, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu selamanya, bukan malah membuatmu berusaha keras untuk membahagiakannya selamanya.” Luhan menjelaskan
“Menurutmu, adakah pria yang mau melakukan hal itu untukku?”
“Ada. Pasti ada.” jawab luhan tersenyum. Nicole ikut tersenyum. Senyumnya kemudian menghilang menyadari bahwa Luhan memakai seragam sekolah.
“Kau memakai seragam tapi tidak ke sekolah?!” Teriak Nicole berubah menjadi sangat galak.
“Apa????” Luhan terkejut dan baru menyadarinya juga.

^_^

Setelah berminggu-minggu mengejar Suho, akhirnya Nicole mendapat kesempatan untuk pulang bersama ketua kelasnya itu. Hari itu Suho tidak dijemput saat pulang sekolah, jadi Nicole menawarkan diri untuk menemani Suho. Sebenarnya ia punya maksud lain. Ia ingin tahu di mana rumah Suho. Menurut teman-teman sekolahnya, rumah Suho sangat besar dan megah. Mungkin tujuh kali lipat dari ukuran rumah Nicole. jadi Nicole ingin memastikannya sendiri.
“Em… Suho-ssi.” Tukas Nicole
“Ya.”
“Aku…..”
“Kau kenapa?”
“Tak ada apa-apa. aku hanya ingin menyebut namamu saja.” Jawab Nicole. Suho tersenyum geli melihat gadis killer itu tiba-tiba berubah menjadi sedikit konyol.
“Nicole-ssi.” Kata Suho
“Ya.”
“Aku hanya ingin menyebut namamu saja.” ujar Suho lalu tertawa.
“Aish… kau ingin mati ya?” Kata Nicole menyikut rusuk Suho. Suho terbungkuk-bungkuk memegang rusuknya, tampak kesakitan.
“Suho, kau baik-baik saja?”
“Oh, ini sakit sekali. Ku rasa aku akan mati.” Suho meringis kesakitan. Nicole panic. Ia meraih tangan Suho lalu memapahnya. Suho tiba-tiba menjerat leher Nicole dengan lengannya. “Tadi kau bilang apa? sekarang kaulah yang akan mati!” Ujar Suho. Ia tertawa setelah sukses mempermainkan Nicole. Suho melepaskan Nicole lalu mengacak-acak rambut gadis itu. mereka melanjutkan perjalanan sambil terus bercanda.

^_^

Suho berangkat ke sekolah tanpa di antar. Ia ingin jalan kaki saja. Sejak keluar dari pintu rumahnya, Suho tak henti-hentinya saling berkirim pesan dengan Nicole. Ia berjalan sambil tersenyum-senyum sendiri tiap kali menerima pesan dari gadis itu. Tiba-tiba seseorang menyergapnya dari belakang. Ponselnya terlempar ke tempat sampah.
Tak jauh dari rumah suho, Nicole memasukkan ponselnya ke dalam tasnya usai menerima pesan dari Suho yang berisi ‘Aku akan menunggumu di persimpangan jalan’. Tiba-tiba seseorang juga menyergap Nicole dari belakang. Ia dimasukkan secara paksa ke dalam mobil oleh empat orang pria.

^_^

Pria yang menculik Nicole menyeret gadis itu ke dalam sebuah gudang. Salah seorang pria menodongkan senjata api di kepala Nicole. Betapa terkejutnya ia melihat ibunya juga ada di sana. Ibunya terikat di kursi dan tampak acak-acakan. Sepertinya ibu memberikan perlawanan hebat saat mereka menculiknya. Orang yang berada tak jauh dari tempat duduk ibu juga tak kalah mengejutkan. Beberapa waktu lalu Nicole masih sempat saling berkirim pesan dengannya. Kondisinya tampak lebih buruk dari ibu. Selain acak-acakan, ia juga mendapat beberapa luka memar di wajahnya.
“Ketua, aku sudah membawa mereka semua.” Seseorang berbicara melalui telepon. Tak lama kemudian muncullah beberapa orang lagi. Luhan juga ada di sana, bersama dengan orang yang baru muncul tersebut. Luhan tampak terkejut melihat Nicole, sedang Nicole tampak sangat marah melihat Luhan. Luhan jarang masuk sekolah akhir-akhir ini, tapi Nicole tak pernah berharap mereka akan bertemu hari ini, di tempat seperti ini.
“Nicole-ssi….” Ucap Luhan
“Kau…..” Geram Nicole
“Wah wah wah…. Sepertinya kalian saling kenal. Ah, ya, kalian satu sekolah kan? Dan orang itu, kau juga mengenalnya kan?” Tanya pria paruh baya yang datang bersama Luhan. Pria itu menunjuk Suho.  
“Ketua, anak itu tidak membawa ponsel dan ia tidak mau memberikan nomor telepon ayahnya. Dihajar sampai mati pun dia tidak akan mengatakan apa pun.” Seorang pria melapor pada pria paruh baya tadi yang ternyata ketua mereka.
“Kita tak perlu membunuhnya.” Kata ketua tersebut
“Apa???” Para anak buahnya terkejut mendengarnya.
“Bukan kita yang akan melakukannya.” Kata ketua. Ia berjalan menghampiri Nicole. “Sekarang semua tergantung padamu. Siapa pun yang ingin kau biarkan hidup, itu terserah padamu.” Lanjutnya menjejalkan pistol ke tangan gadis itu. Luhan tak berani menatap Nicole.
 “Kau! Ku pikir kita teman. Tapi ternyata kau tidak berpikir begitu. Kau menghianati kami. Kai bahkan masih sedikit lebih baik darimu, teman.” Ujar Nicole melemparkan tatapan kebencian pada Luhan. Luhan tidak mengatakan apapun.
“Ku dengar ayahmu bekerja di perusahaan milik ayah pacarmu ini. Di sana Ayahmu hanya seorang pegawai rendahan dan keluarganya hidup miskin selama bertahun-tahun. Kau tak akan bisa mengubah nasibmu hanya dengan memacari anak orang kaya busuk itu, karena ayah anak muda tampan ini sangat benci dengan kemiskinan. Di masa lalu, ia bahkan tega membunuh seorang sahabatnya agar bisa terbebas dari kemiskinan. Seorang anak kecil menjadi terlantar dan yatim piatu akibat perbuatannya itu.” kata ketua mencoba memprovokasi Nicole. “Dan ku peringatkan, kau tak mungkin bisa lari dari sini! Atau kalian bertiga akan mati. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan ayahmu jika istri dan putri kesayangannya ditemukan tewas akibat dari perbuatan bosnya?”
Nicole berpikir keras untuk membuat keputusan paling tepat. Jika ia memilih melepaskan Suho, maka ibunya harus mati. Begitu pun sebaliknya. Jika tak memilih salah satu, maka mereka bertiga yang akan mati. Dan ia tak mungkin menang melawan orang-orang ini seorang diri.
Suho dan ibu Nicole terikat di kursi, masing-masing dijaga ketat dan senjata tertodong di kepala mereka. Perlahan Nicole mengangkat pistolnya kemudian mengarahkannya pada ibunya. Ibunya hanya bisa pasrah. Ia menangis juga tersenyum melihat putri yang sudah dibesarkannya itu akan membunuhnya. Setitik airmata menetes di pipi kiri Nicole.
“Eomma…..” Bibir Nicole bergerak namun tak mengeluarkan suara. Ibunya tersenyum pedih dan mengangguk menguatkan hatinya. Tiba-tiba Nicole mengubah sasarannya. Pistolnya kini mengarah pada teman favoritnya  . Air mata Nicole mengalir semakin deras. Akankah ia tega membunuh pria sebaik Suho? Suho yang sebelumnya sudah babak belur tampak tak berdaya.
“Suho-yah….. maafkan aku….” Tukas Nicole lalu mengarahkan pistol itu ke kepalanya sendiri.
“Nicole-ssi!!!!” Pekik Luhan
“Anakku!!!!” Ibunya ikut memekik. Nicole memejamkan mata, bersiap menarik pelatuk. Suara-suara yang tak asing baginya berpusar di kepalanya.
“Cingu-ya…..!!!!!” Suara Chen terdengar melengking di telinganya.
“Noona!!!” Bahkan Sehun pun ikut memanggilnya. Sehun??? Nicole tiba-tiba ingat sesuatu. Hari ini adalah ulangtahun Sehun dan ia sudah berjanji akan membuatkan sup rumput laut untuknya.
Seseorang menampar tangan Nicole hingga pistol di tangannya terlempar. Saat membuka mata, Nicole mendapati tempat itu sudah kacau balau. Sekilas Nicole melihat Baekhyun, Kyungsoo dan Chen memapah ibunya dan Suho pergi dari sana. Lay, Chanyeol, Xiumin, Kai, Tao, kawan-kawan seperguruan Nicole serta beberapa anak lainnya yang tidak dikenal oleh Nicole bertarung melawan para anggota gangster, sedangkan Luhan tampak masih bingung harus memihak pada siapa.
“Jangan coba-coba menyentuh Noona-ku!!!!” Teriak Sehun dari balik punggung Nicole. sepertinya ia baru saja menendangi seseorang yang mencoba menyerang Nicole dari belakang.
“Sehun-ah…..” Ujar Nicole terharu
“Kakak, kau boleh memujiku setelah kita pulang.” Ujar Sehun tersenyum. Mereka berdua pun bertarung bersama-sama, saling membelakangi.
“Sehun-ah….”  Tukas Nicole di sela-sela pertarungan.
“Em…” Jawab Sehun
“Happy Birthday…” Lanjut Nicole
“Terima kasih…” Balas Sehun melepaskan pukulan ke rahang lawannya.
“Aku mencintaimu.” Ujar Nicole menendang dada lawannya.
“Aku juga.” Jawab Sehun membanting lawannya. Nicole kemudian mencari-cari keberadaan Luhan.
Karena ini bukan di Hongkong, para anggota gangster yang kekurangan personil berhasil dilumpuhkan oleh kawan-kawan Nicole. Sayangnya, kemenangan tersebut harus dibayar mahal karena Xiumin harus mendapatkan luka yang parah di kaki kanannya.

^_^

“Paman, apa kau bukan manusia? Bagaiman mungkin kau melakukan hal semacam ini pada putrimu?” Tanya Luhan setelah semua teman-temannya pergi.
“Putriku? Putri apa? Aku tak punya anak perempuan. Kau lupa?”
“Tidak. Kaulah yang lupa.” Jawab Luhan
“Aku?” Tanya sang ketua tak mengerti
“Delapan belas tahun lalu, bukankah sesuatu terjadi di rumah paman?”

FLASHBACK...
Ibu menelepon luhan setelah Nicole membuat masalah untuk yang kesekian kalinya. Luhan yang sebelumnya sudah berjanji akan jadi pendengar yang baik bagi ibu menurut saja. ia bahkan mengajak ibu minum soju dan berjanji kali ini ia akan mentraktir ibu. Awalnya ibu tidak mau, tapi setelah Luhan berjanji bahwa ia akan minum susu saja, ibu akhirnya setuju. Ibu sepertinya sangat mempercayai anak itu.
Seperti perjanjian yang sudah disepakati sebelumnya, ibu minum soju dan Luhan minum susu. Mereka mengobrol seperti pasangan ibu dan anak sungguhan. Akrab sekali. Nicole yang tak sengaja melihat kedekatan mereka jadi sedikit cemburu. Ia pun mengabaikan ibu dan Luhan dan pergi begitu saja. Ibu sepertinya sangat tertekan karena ia minum banyak sekali. Ia sampai mabuk berat. Dalam keadaan mabuk, ibu kemudian meluapkan seluruh isi hatinya.
“Gadis tengik itu, dia tak pernah mendengarkanku. Entah dengan cara apa lagi aku harus mendidik anak itu. Aku sudah menggunakan cara halus hingga cara kasar. Tapi semua sia-sia saja. hatinya mungkin sekeras baja, persis ibunya.” Cerocos ibu tanpa sadar. ‘persis ibunya? Apa di masa lalu bibi juga sebandel Nicole?’ batin Luhan, ia jadi sedikit geli memikirkannya. Ibu kemudian melanjutkan ocehannya. “aku sudah mengingatkan wanita bodoh itu untuk tidak menikahi pria gangster menyebalkan itu. Aku sudah mengingatkannya berkali-kali. Tapi wanita itu tak mau mendengarkanku. Dia malah melarikan diri bersama pria jahat itu. Mereka menikah dan punya anak. Setelah punya anak dia baru menyesalinya. Dia dan anaknya selalu berada di bawah bayang-bayang suaminya dan hidup di bawah berbagai ancaman. Kemudian ia kembali mengandung, anak keduanya. Dan sialnya, dia malah datang mencariku tanpa sepengetahuan suaminya. Suaminya bahkan tidak tahu bahwa dia sedang hamil. Kupikir wanita itu sudah sadar dan ingin kembali pada keluarganya. Tapi ternyata tidak. Dia hanya tinggal dengan kami hingga anaknya lahir. Bukan hanya itu, dia bahkan meninggalkan bayinya pada kami. Setahuku, dia tak kekurangan uang sama sekali, tapi mengapa ia malah meninggalkan anak itu untuk hidup dalam kekurangan bersamaku? Aku tak pernah mengerti apa yang ada di pikiran wanita itu. Aku tak punya pilihan lain selain menyetujui permintaan wanita itu. Aku tak mungkin menolak anak itu karena aku memang belum punya anak setelah menikah sekian lama. Yang terpenting bukanlah seberapa banyak uang yang bisa kuberikan padanya, tapi bagaimana anak itu bisa tumbuh besar tanpa bayang-bayang reputasi keluarganya. Hidup bersamaku akan menjauhkan anak itu dari ancaman. Meski sangat menyusahkan, tapi kami sangat menyayangi anak itu. Aku harus terus menjaganya agar nasibnya tak sama seperti ibunya.”
“Lalu, di mana wanita itu sekarang?” Tanya Luhan yang sebenarnya bermaksud basa-basi
“Entahlah. Terakhir ku dengar dia tinggal di hongkong. Kuharap dia tak akan pernah datang lagi.” Jawab Ibu
“Memangnya siapa wanita itu? Apa dia teman baik bibi?”
“Dia adikku. Adikku satu-satunya. Adikku yang bodoh. Bagaimana mungkin dia bisa hidup seperti itu? Aku takkan mungkin sanggup terpisah dengan anakku selama itu.” Ujar ibu menutup pidatonya. Ibu pun tertidur. Luhan memapah ibu pulang. Untunglah tempat minum yang mereka datangi tak begitu jauh.

^_^

Luhan berjalan pulang ke apartemennya sambil melemaskan otot-ototnya yang bekerja ekstra keras usai mengantar ibu pulang dengan selamat. Di perjalanan ia menemukan Nicole sedang duduk di bangku taman. Sendirian. Luhan menghampirinya.
“Ini sudah larut malam, kenapa kau belum pulang?” Tanya Luhan. Nicole tidak menjawab. “Ibumu sudah tidur. Kau tak perlu takut.”
“Darimana kau tahu?” Tanya Nicole
“Ini sudah sangat larut. Para orangtua pasti sudah tidur sekarang.” Luhan berdalih
“Kau bisa sedekat itu dengan ibuku dalam waktu singkat. Sedangkan aku, bahkan setelah belasan tahun aku masih saja selalu bertarung dengannya. Entah bagaimana, dari dalam hatiku selalu timbul perasaan untuk melawan ibuku. Aku tak pernah mendengarkannya. Aku mungkin anak yang paling seenaknya di bumi ini.  Aku bahkan tidak mewarisi sedikit pun sifat-sifat ibu dan ayahku.” Tutur Nicole. tiba-tiba Luhan teringat pada kalimat ibu Nicole tadi.
 ‘gadis tengik itu, dia tak pernah mendengarkanku ‘,
 ‘hatinya mungkin sekeras baja, persis ibunya’,
‘Meski sangat menyusahkan, tapi kami sangat menyayangi anak itu. Aku harus terus menjaganya agar nasibnya tak sama seperti ibunya’
“mungkinkah………..yang dimaksud bibi itu………..nicole???” Gumam Luhan dalam hatinya. “Nicole, pulanglah. Ibumu mengkhawatirkanmu.” Ujar Luhan
“Ya. Aku akan pulang.”
“Mau ku antar?” Luhan menawarkan diri
“Tak perlu. Sampai jumpa.” Ucap Nicole. Ia pun berlalu dari tempat itu. Luhan menatap punggung Nicole yang menjauh. Tiba-tiba ia teringat pada sahabatnya, Kris. ia merasa bahwa Nicole itu terkadang sama dinginnya dengan Kris. Luhan lalu menelepon Kris untuk membicarakan sesuatu yang penting. Tapi yang menerima telepon tersebut ternyata ibunya Kris. Luhan kemudian tanpa sengaja bercerita tentang keluarga Nicole yang tak disangka justru menarik perhatian ibu Kris.
“Berapa usia gadis itu?” Tanya ibu Kris di seberang sana
“Dia kelas tiga SMA. Jadi kira-kira usianya sekitar tujuh belas tahun.” Jawab Luhan
“Apa dia cantik?” Goda ibu Kris
“Bukankah semua anak perempuan di dunia ini pasti cantik? Kalau dia tampan, itu bukan anak perempuan namanya.” Canda Luhan membuat ibu Kris tertawa.
Luhan pulang dengan perasaan bahagia usai mengobrol dengan ibu Kris meski hanya lewat telepon. Ia naik ke tempat tidurnya tanpa melepas sepatunya. Ia baru saja mencoba tidur ketika sesuatu terasa mengganggunya. Gangguan itu datang dari foto yang terpajang di meja belajarnya. Itu foto keluarganya. Di sana ada Luhan, Kris, ibu Kris dan ayahnya. Ia memandangi foto itu lagi dan lagi. Kemudian ia sadar akan sesuatu. Ayah Kris ternyata sangat mirip dengan Nicole. Kata-kata ibu Nicole di rumah minum tadi kembali terngiang-ngiang di kepalanya. ‘Hongkong’, ‘anak kedua’, ‘adikku’ dan ‘gangster’. Ia pun mencoba memastikan dugaannya dengan menelepon ibunya Kris lagi. Walau dengan sedikit memaksa, akhirnya Luhan mendapat jawaban memuaskan. Kris ternyata punya adik perempuan, dan namanya Nicole. Usianya sekarang 17 tahun.  Namun ibu Kris memohon padanya agar merahasiakan hal ini pada ayah Kris. Nicole harus tetap hidup seperti ini, sampai kapan pun.

FLASHBACK END

“Omong kosong macam apa itu?” Pak ketua tak percaya
“Itu bukan omong kosong. Itulah kenyataannya.” Jawab Luhan. Luhan pun pergi begitu saja.
“Kau mau ke mana?” Tanya ketua
“Entahlah.” Jawab Luhan. Ketua merenungkan cerita Luhan. Apa benar jika selama ini istrinya punya rahasia sebesar itu sekian lama? 18 tahun lalu, istrinya memang meninggalkan rumah. tapi ia tidak ke Korea. Ia meminta seorang anak buahnya untuk membeli tiket pesawat ke Amerika. Saat itu tuan ketua memang tak pernah mencari istrinya karena suasana sedang kurang baik. Ketua saat itu berpikiran bahwa berada di luar negeri selama beberapa bulan memang lebih baik bagi istrinya dan anak laki-lakinya yang masih berusia dua tahun. Ketua sama sekali tidak memiliki kecurigaan sedikit pun terhadap istrinya. “Jemput Kris dan ibunya! Sekarang!!!!” Perintah ketua. Ia memerintahkan anak buahnya untuk membawa istri dan anaknya ke Korea. Mendengar ini, Luhan pun kembali.
“Jangan mengusik hidup Nicole jika paman masih hidup seperti ini. Bibi pasti punya alasannya sendiri sehingga ia tidak mengatakan apa pun pada paman. Nicole hidup dengan sangat baik. Dia akan menjadi seseorang yang besar di masa depan. Dan jika saat itu tiba, ia membutuhkan ayah yang bisa membuatnya merasa bangga.” Ujar Luhan kemudian pergi lagi.

^_^

“Aku sangat berterima kasih karena kalian telah menyelamatkan kami. Aku tahu kau melakukannya untuk Suho, tapi aku tetap berterima kasih. Tanpa kalian, aku mungkin sudah bunuh diri.” Ujar Nicole saat ia bertemu Kai di sekolah.
“Sebenarnya aku tidak tahu bahwa Suho juga ada di sana. Lay dan Chanyeol melihat secara langsung saat kau diculik, tapi mereka gagal mengejarmu. Jadi mereka menghubungiku dan juga anak-anak lainnya.”

FLASHBACK...
Lay dan Chanyeol yang kebetulan lewat melihat kejadian penculikan  tersebut. Mereka berusaha mengejar mobil yang membawa Nicole namun mereka  gagal. Chanyeol  menelepon Suho, tapi Suho tak menjawab telepon. Kemudian Lay menelepon Luhan dan hasilnya sama dengan Chanyeol, Luhan juga tak menjawab teleponnya. Mereka kemudian menelepon Kai. Kai yang belum tiba di sekolah berbalik arah menuju sekolah lama Nicole. Beruntung, saat ia tiba Sehun belum masuk ke sekolah.

FLASHBACK END

“Lalu kenapa kau akhirnya setuju untuk menyelamatkanku? Bukankah kau membenciku? Sejak hari pertamaku di sekolah, kau tak pernah menyukaiku.”
“Itu karena aku berhutang maaf padamu.” Jawab Kai “karena……. aku adalah Kim Jongin, temanmu dari Myeongdong.” Lanjut Kai.
Sejak hari  itu, Nicole dan Kai jadi teman baik….. sepertinya Nicole berhasil mengubah image menakutkan yang ia ciptakan di sekolah lamanya menjadi seseorang yang lebih manis dan lebih terbuka.  Baru kali ini ia menyadari bahwa ada baiknya juga jika ia tak bersama Sehun sepanjang waktu. Ia sangat berterima kasih pada adiknya yang menyebabkan ia dipindahkan ke sekolah tersebut.
Sejak peristiwa penculikan itu, Kai dan teman-temannya setiap hari mengantar Nicole pulang sekolah secara bergiliran. Kai yang paling pertama melakukan pengawalan istimewa tersebut. Selanjutnya secara berturut-turut dilakukan oleh Chanyeol, Lay dan Tao. Suho dan Luhan mendapat giliran paling terakhir karena Suho dijemput pulang setiap hari, sedangkan Luhan tak pernah masuk sekolah selama  beberapa hari belakangan ini. Sementara Xiumin masih dirawat di rumah sakit.

^_^

Setelah dua hari dirawat, Nicole dan kawan-kawannya menjenguk Xiumin di rumah sakit. Satu-satunya orang yang tidak ada saat itu hanya Luhan. Meski pun ia kesal pada Luhan, tapi sebenarnya Nicole sangat berharap Luhan akan datang menemui Xiumin. Bagaimana pun juga, di masa lalu Luhan lumayan dekat dengan flower boy yang satu ini.
“Halo teman. Bagaimana kakimu?” Tanya Lay yang selalu lebih perhatian kepada temannya lebih dari yang lainnya. Ia mendekati kaki Xiumin yang terbalut gips tepal.
“Aku merasa lebih baik.” Jawab Xiumin tersenyum melihat Nicole.
“Nicole-ssi, sepertinya pria ini akan segera sembuh jika kau menjenguknya setiap hari.” Celetuk  Tao. Teman-temannya kemudian bergantian menggoda Nicole. Bahkan Baekhyun pun ikut-ikutan menggodanya. Mereka sangat berisik sehingga suster berkali-kali masuk untuk menyuruh mereka diam dan segera pergi.
“Em… Nicole.” Tukas Xiumin saat teman-temannya akan pergi. “Bolehkah aku meminta untuk ditemani olehmu? Sebentar saja. aku ingin mengatakan sesuatu. Aku akan menyuruh sopirku untuk mengantarmu pulang setelahnya.” Lanjut Xiumin. Nicole setuju dan menyuruh teman-temannya yang lain untuk pulang lebih dulu.
“Ternyata kau lebih manja dari perkiraanku.” Ledek Nicole mengoles selembar roti dengan selai kacang. Xiumin tersenyum.
“Tadi Luhan ada di sini. Dia duduk di tempat yang kau duduki sekarang. Dia juga mengupaskan buah untukku. Dia selalu baik padaku.” Ujar Xiumin. Nicole menghentikan pekerjaannya.

FLASHBACK...
Luhan datang menjenguk Xiumin seorang diri. Ia tampak tak berubah sama sekali, hanya saja tak bisa dipungkiri bahwa ia merasa sangat bersalah pada Xiumin sehingga ia jarang sekali memandang wajah Xiumin saat mereka bicara. Luhan terus mengupas buah dan menyuapkannya untuk Xiumin. Dalam hati ia tak henti-hentinya minta maaf karena telah menimbulkan banyak masalah bagi teman-temannya.
 “Kau ingin mengatakan sesuatu?” Tanya Xiumin yang menyadari Luhan sedari tadi hanya sibuk memberinya makan tanpa mengatakan apa pun.
“Jika aku mengatakannya, akankah kau mempercayaiku?” Luhan balik bertanya
“Itu tergantung pada apa yang akan kau katakan.” Jawab Xiumin
“Kau percaya jika aku mengatakan bahwa bukan aku yang mengirim orang untuk menculik Nicole, ibunya dan juga Suho?”
Xiumin diam, tak tahu harus menjawab apa. semua yang terjadi rasanya terlalu memberatkan posisi Luhan. Jika saja Luhan tak berada di tempat kejadian dan tidak berada di pihak para gangster itu, kondisinya mungkin akan berbeda.
“Sudahlah, lupakan saja. Bagiku, kau percaya atau tidak, asalkan kau masih ingin bertemu dan bicara denganku, itu sudah lebih dari cukup. Dengan begitu aku akan merasa memiliki seseorang untuk menjadi temanku.” Ujar Luhan sedih.

­ FLASHBACK END

“Xiuminnie, ku rasa aku harus pulang sekarang. Kau tak perlu menyuruh sopirmu untuk mengantarku pulang. Aku akan menelepon Sehun. Jadi kau tak perlu menghawatirkanku. Cepatlah sembuh. Oke.” Ujar Nicole lalu pergi begitu saja. Nicole berjalan tergesa-gesa sambil menatap layar ponselnya. Ia sedang berusaha melacak keberadaan Luhan dengan ponselnya. Dan akhirnya ia menemukannya di tepi Sungai Han.
“Ku kira kau tak ingin bicara denganku lagi.” Ujar Luhan menatap lurus ke sungai saat Nicole datang.
“Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa wanita selalu menggunakan hatinya dengan benar? Jadi aku ingin menggunakan hatiku untuk memaafkanmu.” Kata Nicole. Luhan sangat tersentuh mendengar kalimat Nicole hingga rasanya ia ingin menangis. Ia sangat terharu karena Nicole ternyata mau mendengarkannya.
“Wajahmu tampak baby faced, tapi ternyata kau seorang gangster. Apa ada hal lainnya yang tidak ku ketahui tentangmu?” Tanya Nicole bermaksud bercanda.
“Ya.”
“Apa?” Nicole penasaran
“Aku…. Dua tahun lebih tua darimu. Jadi, tidakkah kau merasa bahwa kau seharusnya memanggilku Oppa?” Goda Luhan
“What???? Dengar, aku sangat senang karena Sehun memanggilku Noona, tapi aku tak pernah memikirkan bahwa suatu hari nanti aku akan memanggil seseorang dengan Oppa. Itu menggelikan. Aku sangat bersyukur karena ibuku tak pernah melahirkan seorang Oppa untukku.” Cerocos Nicole
“Tapi kau memang punya. Meski pun kau meronta-ronta untuk menolaknya, kau tetap punya seorang Oppa. Dan dia juga seorang gangster sepertiku.”  Luhan berkata dalam hati
“Ada lagi yang kau sembunyikan dariku selain status dan usiamu?” Tanya Nicole. Luhan tidak menjawabnya dan malah mengajaknya pergi. “Kau tidak menjawabku. Bagiku, itu berarti masih ada.” Lanjut Nicole.
“Ya. memang masih ada tapi kau mungkin sebaiknya tak perlu mengetahuinya. Hidup miskin akan lebih baik daripada hidup sebagai bagian dari kami. Andai aku bisa kembali ke 19 tahun yang lalu, aku ingin bisa hidup seperti dirimu.”  Luhan menjawabnya dalam hati.
“Ngomong-ngomong, setelah lulus nanti, apa rencanamu selanjutnya?” Tanya Luhan
“Aku akan mendaftar akademi kepolisian.” Jawab Nicole mantap. Luhan memandang tak percaya. “Kenapa?” Tanya Nicole melihat ekspresi Luhan
“Kau ingin menjadi polisi?”
“Ya. Kenapa?”
“Baiklah. Apa setelah menjadi polisi nanti, kau akan menangkapku?” Canda Luhan
“Ya. Aku akan menangkapmu dan memenjarakanmu seumur hidup.” Nicole balas bercanda
“Aku kan bukan warga Negara Korea. Setahuku, polisi tak berhak menangkap warga Negara asing seenaknya.” Ledek Luhan
“Kau meremehkanku? Baiklah. Lihat saja nanti.  Jika aku berhasil menjadi Interpol, aku akan mengejarmu bahkan hingga ke ujung dunia.” Ujar Nicole
“Tadi kau tidak bilang akan jadi Interpol. Kau curang.” 
“Aku baru saja memikirkannya. Itu bukan salahku. Salahkan saja dirimu yang mengingatkanku soal kewarganegaraanmu.” Ujar Nicole menjulurkan lidah. Luhan menyikutnya namun Nicole menangkisnya dengan sangat cepat. Mereka pun tertawa.

^_^

 “Jadi kau menyukaiku atau tidak?” Nicole bertanya pada Suho. mungkin ini lebih mirip interogasi daripada bertanya.
“Itu….aku….” Ujar Suho terbata-bata
“Sepertinya aku sudah salah paham padamu. Kau sama sekali tidak suka padaku.” Kata Nicole menyimpulkan
“Nicole aku……”
“Kau tak perlu minta maaf. Bukankah sudah kubilang wajahku ini tebal?” Kata Nicole berusaha tertawa. Nicole kembali ke kelas untuk mengikuti kelas malam.
Nicole tidak langsung pulang usai kelas malam. Saat teman-temannya mengajaknya pulang, ia hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah kelas kosong, ia pindah ke tempat yang biasa diduduki Suho lalu menyenderkan kepala ke meja. Ia menangis. Luhan yang sedari tadi ternyata belum pulang melihatnya dari pintu kelas.
Setelah puas dan mungkin kehabisan air mata, Nicole merapikan kembali wajahnya dan pulang. Luhan yang sedari tadi berdiri di pintu langsung kabur dan bersembunyi di kelas sebelah. Ia keluar setelah yakin bahwa Nicole sudah pergi. Luhan berjalan cepat-cepat untuk mengejar Nicole, tapi ia tidak menemukannya.

^_^

Luhan berjalan pelan sepulang sekolah keesokan harinya. Beberapa meter di depannya, ada Nicole yang berjalan dengan malas. Sedangkan di belakangnya ada Suho yang berjalan sambil menulis di ponselnya. Jika Nicole berhenti berjalan, maka Suho dan Luhan ikut berhenti. Ketika Nicole kembali melangkah, Suho dan Luhan pun ikut. Mereka melewati rumah Suho tapi Suho malah mengabaikan rumahnya dan terus mengikuti Luhan dan Nicole. Mereka akhirnya berhenti setelah tiba di depan rumah Nicole.
“Terima kasih karena telah mengantarku pulang. Sebenarnya kalian tak perlu melakukan ini. Tapi aku tetap berterima kasih.” Ujar Nicole mengusir kedua pria itu secara tidak langsung. Luhan dan Suho tak bergeming. “Apa lagi yang kalian tunggu? Ayo pergi!” Kali ini Nicole benar-benar mengusir mereka.
“Aku ingin bicara dengan ibu.” Ujar Luhan
“Ibu???” Tanya Nicole
“Ibumu.” Jawab Luhan menegaskan. Nicole mengangguk-angguk pertanda mengerti.
“Dan kau?” Nicole beralih ke Suho
“Aku ingin bicara dengan Luhan.” Jawab Suho. Kali ini Nicole mengernyit. ‘Kenapa harus mengikuti sampai ke rumahku? Mereka kan bisa bicara di sekolah?’ Pikir Nicole.
“APA YANG KAU LAKUKAN DI RUMAHKU? BUKANKAH SUDAH KU KATAKAN PADAMU UNTUK JANGAN PERNAH DATANG LAGI??! PERGI! PERGI!” Terdengar suara ibu dari dalam rumah.
“Sepertinya ibuku  mengetahui kedatangan kalian. Ayo cepat pergi!” Usir Nicole. Kedua anak itu akhirnya pergi dari situ. Detik berikutnya seorang wanita berlari keluar diikuti oleh ibu Nicole yang mengejarnya dengan sapu. Wanita itu terlihat panik.
“Eonni, dengarkan aku dulu.” Ujar wanita yang dikejar tadi
“Eomma??? Ada apa ini?” Tanya Nicole bingung. Wanita tadi memandang Nicole, ia tersenyum.
“Oh, kau sudah pulang. Masuklah. Ganti pakaianmu sebelum makan. Ibu harus menyelesaikan urusan dengan wanita ini.” Ujar ibu
“Bibi, sebaiknya bibi lari secepatnya. Ibuku sering memukul orang dengan sapu saat ia sedang marah.” Nicole memperingatkan wanita tadi.
Luhan dan suho mengintip dari balik mobil milik seorang tetangga.
“Tadi kau bilang ingin bicara denganku. Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Luhan saat mereka di perjalanan pulang ke rumah masing-masing.
“Aku….ingin minta maaf padamu atas semua yang telah dilakukan ayahku terhadapmu di masa lalu. Maukah kau memaafkan kami?” Tanya Suho penuh harap. Luhan tidak langsung menjawab. Mereka kemudian saling diam, lama sekali.
“Aku sudah memaafkanmu. Lagi pula, aku juga bersalah padamu. Jadi aku juga ingin minta maaf padamu, teman.” Ujar Luhan saat mereka tiba di depan rumah Suho. Mereka saling memeluk pertanda bendera perdamaian telah dikibarkan.

^_^

“Bibi, apa yang bibi lakukan di rumah Nicole?” Tanya Luhan menyelidiki kejadian kemarin saat ia dan Suho mengantar Nicole pulang.
“Entahlah. Aku tidak menyadari apa yang ku lakukan. Tiba-tiba saja aku ada di sana.” Jawab ibunya Kris, wanita yang kemarin dikejar oleh ibu.
“Sebaiknya bibi jangan pernah datang lagi.” Luhan memperingatkan
“Apa nicole-ku sering dipukul dengan sapu?” Tanya ibu Kris penasaran
“Tidak.” Jawab Luhan tapi sepertinya ibu Kris tidak percaya.
“Tapi Nicole sendiri yang mengatakan bahwa ibunya, ah tidak, bibinya itu sering memukul seseorang dengan sapu saat ia marah.” Kata ibu Kris
“Itu memang benar. Tapi Nicole tak pernah dipukul. Gadis itu bisa berlari seperti kuda sehingga ibunya takkan bisa menangkapnya. Bibi tak perlu mengkhawatirkannya. Khawatirkan saja dirimu dan jangan ke sana lagi. Pulanglah ke Hongkong. Jika diperlukan, kau tak usah memberitahu paman mengenai kepulanganmu.”
“Kau mengusirku?”
“Tidak.” Sangkal Luhan

^_^

Luhan mengunjungi rumah Nicole lagi. Di sana ada ibu yang sedang menyapu halaman. Luhan tidak masuk dan hanya berdiri mematung di pintu depan.
“Bibi, aku datang lagi. Apa bibi punya sesuatu untuk diceritakan padaku?” Luhan bicara sepelan mungkin sehingga tak akan ada yang mendengarnya. Tiba-tiba ibu menoleh ke arah pintu. Ia tampak seperti mencari-cari seseorang. Ia kemudian menggeleng melihat tak ada siapa pun di sana. Luhan bersembunyi di balik tembok, memandangi ibu secara diam-diam. Betapa terkejutnya ia karena saat ia berbalik hendak pergi, Sehun ada di situ, berdiri tepat di depannya. Sehun melongok ke halaman dan melihat ibu yang kembali menyapu halaman.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Sehun curiga
“Itu… aku…” Jawab Luhan tergagap
“Kau tidak tertarik pada ibuku kan? Dengar, ibuku sudah hampir lima puluh tahun dan ayahku masih hidup. Jadi aku takkan membiarkanmu menggoda ibuku.” Ujar Sehun serius
“Bukan begitu. Aku ke sini hanya…..” Kata Luhan membuat sehun tergelak-gelak. Sepertinya Sehun berhasil mempermainkan Luhan dengan tampang seriusnya tadi.
“Kenapa kau tidak masuk dan malah bersembunyi seperti pencuri?” Tanya Sehun. Luhan tidak menjawab. “Ah, aku tahu. Kau takut ibu akan memukulmu dengan sapu kan? Tapi sebenarnya kau memang pantas untuk  dipukul. Ayo masuk. Aku ingin melihatmu dipukul dengan sapu” Lanjut Sehun menyeret Luhan masuk. Luhan menurut saja. Saat melihat kedatangan Luhan, ibu tampak agak menakutkan. Luhan sangat berharap ibu benar-benar akan memukulnya saat ini. Dipukul dengan sapu akan lebih menyenangkan dibanding menerima tatapan seperti itu dari ibu.
“Anak nakal. Apa yang kau lakukan di sini huh?!” Bentak ibu lalu benar-benar memukulnya dengan sapu. Betapa terkejutnya ibu karena Luhan diam saja. Biasanya, Nicole atau Sehun akan lari jika ibu akan memukulnya. Ibu berhenti memukulnya dan hendak meninggalkannya, tapi langkahnya terhenti mendengar Luhan bicara.
“Bibi, maafkan aku.” Ujar Luhan. Ibu tidak berbalik. Sepertinya ibu menangis.
“Sehun-ah, cepat ganti baju dan makan.” Kata ibu lalu masuk ke dalam rumah.

^_^

“Aku ingin tanya.” Celetuk Xiumin saat mereka semua termasuk Nicole dan tiga serangkai sedang istirahat di kantin sekolah minggu berikutnya.
“Apa?” Tanya Nicole meminum susu yang diberikan oleh Lay
“Waktu itu…. kenapa kau melempar Chanyeol dengan bola baseball?” Tanya Xiumin membuat Nicole tersedak. Semua teman-temannya sontak menoleh padanya. Menunggu penjelasan.
“Itu….” Jawab Nicole terbata-bata
“Jadi kau yang melakukannya?” Tanya Chanyeol. Ternyata selama ini Chanyeol tidak tahu.
“Itu salahmu sendiri. Aku melihatmu menempelkan secarik kertas di punggung Chen yang menyebabkan ia ditertawai sepanjang hari.” Jawab Nicole tak mau kalah
“Benarkah? Apa secarik kertas bisa menjadi selucu itu?” Tanya Lay bingung

FLASHBACK...
Chanyeol berjalan di belakang Chen saat mereka melewati gerbang sekolah. Nicole yang sedang memandang keluar jendela  kelas melihatnya. Chanyeol kemudian menepuk punggung Chen dan merangkulnya, berpura-pura ramah pada anak lugu itu. Namun anehnya, sepanjang jalan anak-anak malah tertawa melihat Chen. Setibanya di kelas, Nicole langsung menyeret Chen dan melihat ke punggungnya. Di situ tertempel secarik kertas bertuliskan ‘saya orang gila’. Nicole geram dan langsung mencari Chanyeol.

FLASHBACK END

“Chanyeol menempelkan kertasnya tanpa sepengetahuan Chen, jadi aku pun melempar bola tanpa sepengtahuan Chanyeol. Cukup adil kan?” Jelas Nicole
“Setuju!!!!” Teriak Xiumin penuh semangat. Semua mata kini beralih padanya. Dan mereka pun tertawa….

>>>>>THE END<<<<<

Minggu, 09 Juni 2013

EXO K Fanfiction | MY LADY

Cast                 : Kai (Kim Jong In), Goo Hara, D.O (Do Kyung Soo),
                          Suho (Kim Jun Myeon)

Other Cast       : Byun Baek Hyun, Park Chan Yeol, Oh Se Hun

Author             : Sarni_SKy        
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                Pagi hari di tengah hiruk pikuk jalan di salah satu sisi kota Seoul. Kai berdiri di samping mobil sportnya sambil menelepon seseorang. Alisnya berkerut dan sekali-kali menendangi ban belakang mobilnya. Keringat membasahi wajahnya. Seragam sekolahnya agak berantakan. Tiba-tiba seorang pengendara motor besar menepi di belakang mobilnya. Pengendara itu membuka helm yang menutupi wajahnya. Ternyata seorang gadis cantik teman sekelas Kai. Namanya Goo Hara. Woooooowwww……
“Kau marah-marah sampai mati pun mobil itu tak akan bisa kau gunakan sekarang. Kalau menunggu teknisinya datang, kau bisa terlambat. Ayo, ikut denganku.” Ajak Hara. Kai berpikir sejenak lalu menyetujui ajakannya.
“Turunlah. Aku yang akan mengendarainya.” Kata Kai menyuruh Hara menyingkir
“Kau yakin?” Tanya Hara. Kai tidak menjawab. Hara tidak memperpanjang perkara dan turun dari motor besarnya. Memberikan helm cadangan yang selalu ia bawa pada Kai.
Lima menit kemudian…….
“Kau terlalu lamban! Kalau cara berkendaramu seperti ini, kita akan tiba di sekolah minggu depan.” Hara mengomeli Kai yang dianggapnya terlalu lambat. “kau bisa mengendarai motor atau tidak? Bahkan sepeda adikku masih lebih cepat dari ini.”
“Aaaaarrrgggghhhh…. Diam kau!” Bentak Kai kesal. Kai menepikan motor besar itu. “ kalau kau begitu pintar, kenapa bukan kau saja yang mengendarai?”
Hara mengambil alih urusan mengendarai. Menyuruh Kai berpegangan seerat mungkin. Kai yang menganggap Hara hanya menyombongkan diri mengabaikan peringatan Hara. Lima detik kemudian giliran Kai yang mengomeli Hara.
“Kau sudah gila? Apa kau baru saja diputuskan pacarmu? Kalau mau bunuh diri, jangan membawaku bersamamu!” Cerocos Kai. Motor besar Hara melaju kencang, menyalip setiap mobil yang ada di hadapannya. Hara mengabaikan Kai. Mereka tiba di sekolah lima menit kemudian. Kai merasa hendak muntah.
^_^
“Kau kenapa?” Tanya Suho mendapati Kai gemetaran di sudut kelas. Hara duduk di sampingnya sambil terus menggigit bibir.
“Dia…. Dia mau membunuhku.” Jawab Kai menunjuk Hara.
“Maaf…” Ujar Hara
“Apa yang kau lakukan padanya?” Tanya Suho
“Mobilnya mogok dan aku hanya memberi tumpangan ke sekolah.” Jawab Hara polos
“Dia sudah gila. Seperti seseorang yang baru diputuskan pacarnya. Melaju kencang di jalan raya. Merasa dirinya seperti Marco Simoncelli. Kurasa dia tidak tahu caranya menggunakan rem, atau dia tidak tahu di mana letak remnya, atau mungkin juga motornya sama sekali tidak punya rem” Cerocos Kai
“Berapa kecepatannya?” Suho bertanya pada Hara.
“Hanya 90 kilometer per jam.” Jawab Hara dengan tampang polosnya
“APA???????!” Teriak Kai dan Suho bersamaan. Hara berkedip-kedip karena terkejut.
“90 kilometer per jam dan kau menyebutnya ‘hanya’?” Lanjut Kai.
“Pulang nanti aku akan lebih pelan.” Ujar Hara
“Siapa yang akan menumpang denganmu? Aku akan pulang dengan Suho.” Kata Kai
“Memangnya kak Suho mau memberimu tumpangan?” Timpal Hara
“Itu tergantung padamu.” Jawab Suho
“Padaku? Kenapa aku?” Tanya Hara tak mengerti
“Sekarang jawab dengan jujur, antara aku dan Kai, siapa yang lebih tampan?” Tanya Suho
“Pertanyaan macam apa itu? Dilihat dari segi manapun, aku lebih tampan darimu!” Timpal Kai
“Jangan membuat kebohongan public. Dilihat dari sisi mana pun, kak Suho jauh lebih tampan darimu.” Kata Hara
“Terima kasih.” Ucap Suho mencubit pipi kanan Hara. “Baiklah, kita akan pulang bersama. Aku pergi.” Lanjut Suho mengacak-acak rambut Kai dengan lembut tapi Kai menepis tangannya.
^_^
“Kudengar kau memberi tumpangan untuk Kai tadi pagi?” Tanya D.O melalui aplikasi Line. D.O sebenarnya duduk di belakang Hara, tetapi karena mereka dilarang mengobrol di dalam kelas maka D.O memanfaatkan ponselnya saja.
“Ya.” Balas Hara
“Dia sepertinya hampir mati ketakutan. Kau kejam sekali.” Balas D.O namun disertai emoticon tertawa geli.
“Aku tak bermaksud begitu. Kami hampir terlambat, jadi aku menambah sedikit kecepatan. Tak apa-apa kan?” Balas hara menyertakan ekspresi tak berdosa.
“Kekekekeke…..” Balas D.O.
“SHUT UP!” Pesan Line Baekhyun masuk ke ponsel D.O dan Hara. Pesan tersebut dibalas dengan juluran lidah. Baekhyun menampilkan senyum anak kecilnya yang luar biasa imut.

“Apa yang kalian bicarakan di kelas?” Tanya Baekhyun saat jam istirahat. Ia penasaran dengan isi obrolan D.O dan Hara tadi.
“Bukan apa-apa.” Jawab D.O dan Hara bersamaan. Baekhyun garuk-garuk kepala.
^_^
Hara berjalan pelan di koridor sekolah sambil bercanda dengan Baekhyun. Tiba-tiba sekelompok anak laki-laki berlari dari arah belakang. Salah seorang diantaranya menabrak Hara hingga terjatuh. Hara mendongak dan mengenali punggung si penabrak itu. Itu punggung Kai.
“Hara, kau baik-baik saja?” Tanya Baekhyun khawatir. Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Hara memandang wajah orang baik itu. Orang itu tersenyum padanya. Hara jadi salah tingkah. Orang itu setingkat dengan Hara, tetapi berada di kelas yang berbeda. Dia merupakan salah satu kawan Kai, namanya Sehun.
Tangan kanan Hara meraih tangan Sehun, sedang tangan kirinya memegang lengan Baekhyun.
“Kau tak apa-apa kan?” Tanya Sehun
“Ya. Terima kasih.” Ucap Hara. Sehun tersenyum sekali lagi kemudian pergi. Hara memandang punggung cowok tinggi itu sambil tersenyum-senyum  sendiri. Baekhyun menyikutnya lalu mulai menggodanya.
“Oooooh…… Sehun……” Goda Baekhyun mencubit pipi Hara. Hara menarik topi Baekhyun hingga merosot ke hidungnya. Ia meninggalkan Baekhyun dengan setengah berlari. Tapi Baekhyun terus mengikutinya sambil memanggil-manggil Hara degan nama Sehun.
“Sehun! Sehun! Sehun!” Goda Baekhyun hingga mereka tiba di ruang kelas.
“Diam kau!” Kata Hara
^_^
Tiga minggu berikutnya berlalu dengan berat karena Hara dan kawan-kawannya harus menempuh ujian semester. Namun semua itu akan terbayar oleh datangnya liburan musim panas. Tahun ini Hara tak punya rencana liburan musim panas, begitu pun dengan D.O. Mereka akan menghabiskan liburan di Korea saja. Sementara Baekhyun menghabiskan waktu liburannya di Helsinki. Hampir setiap hari D.O mengajak Hara untuk berolahraga di pagi hari. Sekedar jogging atau bersepeda.
Hara sedang berusaha keras mengambil buah cherry di halaman belakang sebuah Sekolah Menengah Pertama. Sekolah itu tak begitu jauh dari rumah Hara. Dulu, ia dan Suho bersekolah di sana. Waktu itu ia bisa memanjat hingga ke ujung dahan pohon dan makan cherry di sana bersama Suho. Tapi sekarang tak bisa lagi. Suho sangat sibuk mempersiapkan dirinya untuk ujian masuk universitas. Hara tak bisa mengajaknya untuk bernostalgia. Jadi Hara memutuskan untuk mengenang masa SMP-nya sendirian. Ia harus berusaha keras mengambil buah-buah cherry itu dengan galah karena ia tak bisa memanjat lagi.
“Wow… GPS benar-benar hebat.” Celetuk D.O dari balik pohon cherry besar itu
“Oh, kau di sini.” Ujar Hara masih berusaha mengambil buah-buah cherry itu. D.O menghamiprinya sambil mendongak meneliti buah cherry yang lebat di atas sana. “buahnya begitu rendah, tapi kau tak bisa mengambilnya. Ckckck….. berikan galahnya padaku.”
“Tidak. Kalau kuberikan padamu, kau akan mengambil dan memakan semuanya.” Kata Hara. D.O kemudian berjongkok dan menyuruh Hara naik ke pundaknya.
“Kalau kau hanya mengandalkan tinggi badanmu, kau tak akan bisa mengambilnya.” D.O beralasan. Hara tidak berkomentar dan menuruti instruksi D.O. Ia naik ke pundak D.O lalu mulai mengambil buah-buah cherry-nya sambil meneriakkan instruksi ke mana D.O harus bergerak.
“Kau berat juga rupanya.” Ujar D.O berusaha mengumpulkan kembali napasnya usai menggendong Hara ke sana ke mari demi setumpuk cherry di hadapannya, sementara Hara sibuk memotret cherry-cherry itu. Hara kadang memotret D.O lalu menertawakan sahabatnya itu. Hara kemudian memperbaiki tata rambut D.O yang agak berantakan lalu memotret diri mereka bersama setumpuk cherry tadi.
“Hei, aku belum siap.” Protes D.O merasa dirinya terlalu berantakan. “ sekali lagi.” Lanjutnya memperbaiki penampilannya lalu memasang senyum termanisnya saat berfoto bersama Hara.
Say cheese……… ^_^
“Baekhyun harus melihat ini. Dia akan menyesal tak menghabiskan liburan bersamaku.” Ujar Hara mengirim foto tersebut untuk Baekhyun.

Hari-hari berikutnya tak kalah menyenangkan bagi Hara. Sebagian besar waktu liburannya ia habiskan bersama D.O mereka sudah mendatangi panti jompo dan menghibur para lansia dengan mengorbankan pipi D.O untuk dikecup oleh para nenek-nenek di sana. Memancing di danau kemudian menjual ikan hasil tangkapan mereka di pasar dengan harga murah sebab mereka tidak begitu menyukai ikan. Mengunjungi Istana Changdeok sambil bermain petak umpet. Dan mengakhiri liburan kali ini, Hara dan D.O memutuskan untuk mengunjungi Pulau Jeju. Semua momen-momen liburan musim panas ini tak lupa mereka laporkan pada Baekhyun.
“Tega sekali kalian ke pulau Jeju tanpa aku.” Kata Baekhyun saat mereka bertemu di sekolah setelah masa liburan usai.
“Kau begitu jauh di Kutub Utara, aku tak mungkin mengganggu reunimu bersama kawan-kawan lamamu.” Ujar Hara
“Apa maksudnya itu?” Tanya Baekhyun kesal
“Bukankah kau berteman baik dengan beruang kutub?” Ledek Hara. D.O terpingkal-pingkal mendengarnya membuat bibir Baekhyun semakin maju saja.
 ^_^
Kelas Hara mendapat tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok. Tiap kelompok terdiri dari 4 orang. Karena kelompok Hara kekurangan 1 orang, mereka terpaksa memasukkan Kai ke dalam kelompok. Mereka menentukan tempat berkumpul dengan hom-pim-pa, dan terpilihlah rumah D.O.
Kai selalu saja membuat ulah yang memancing keributan dengan Hara sepanjang waktu. Kai terus mengganggu Hara. Ia tak tahan melihat Hara diam. D.O terpaksa harus memisahkan mereka berkali-kali dan menyuruh Kai diam.
“Sekali lagi kau mengganggu hara, aku akan menyeretmu keluar dari sini.” D.O mengancam Kai. Hara menjulurkan lidah pada Kai karena merasa mendapat pembelaan dari D.O. Tugas mereka akhirnya selesai tiga jam kemudian. Hari  sudah lumayan larut saat Hara, Kai dan Baekhyun pamit pulang. Dan sepertinya akan turun hujan.
D.O sedang mencoba untuk tidur ketika seseorang mengetuk pintu. D.O keluar dari kamarnya dan membuka pintu rumah dengan perasaan agak dongkol. Namun kedongkolannya menghilang saat melihat siapa yang datang.
“Hara? Ada apa? apa ada yang ketinggalan?” Tanya D.O saat Hara kembali ke rumahnya.
“Kyung Soo….” Ujar Hara
“Apa?” Tanya D.O.
“Aku….. menyukaimu.” Tukas Hara.
“Sorry???” Tanya D.O seolah meminta penegasan
“Aku menyukaimu.” Ulang Hara menunduk. D.O terdiam. Lama sekali. Menatap Hara dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. D.O menarik napas panjang.
“Hara……. Aku….. tidak menyukaimu. Maafkan aku.” Kata D.O dengan suara bergetar.
“Kau tidak harus menyukaiku. Aku hanya mengatakannya karena aku tak ingin menyimpannya sampai basi. Baiklah, selamat tinggal.” Ujar Hara tertawa meski hatinya kacau. Ia tak menyangka D.O akan menolaknya mentah-mentah seperti ini. Rasanya ia ingin pergi dari sana secepat mungkin lalu menceburkan dirinya ke laut.
^_^
Keesokan harinya, di sekolah…
D.O tiba di sekolah pagi-pagi sekali. Ia menunggu Hara di gerbang sekolah. Ia melongok ke sana ke mari mencari pengendara motor besar yang memakai rok itu. Setelah menunggu sekitar 30 menit, yang ditunggu belum juga datang. Baekhyun yang baru tiba juga ikut melongok ke sana ke mari.
“Kau mencari seseorang?” Tanya Baekhyun
“Aku menunggu Hara.” Jawab D.O membuat Baekhyun mencibir
“Kau menunggu sampai besok pun dia tidak akan datang.” Kata Baekhyun
“Apa???” D.O kedengaran terkejut. Sebenarnya ia agak takut bertemu Baekhyun. Bagaimana jika Baekhyun tahu soal kejadian semalam? Bagaimana pun juga, Hara adalah sepupunya Baekhyun. Baekhyun mungkin akan marah padanya.
“Tadi ibunya meneleponku. Katanya Hara semalam pulang dalam keadaan basah kuyup. Dan sekarang dia sakit. Jadi hari ini dia tidak masuk.” Baekhyun menjelaskan, “ayo ke kelas.” Lanjut Baekhyun menyeret D.O meninggalkan gerbang. D.O merasa agak lega namun ia juga merasa bersalah pada kedua sahabatnya itu.

“Hari ini rasanya sangat sepi.” Ujar Baekhyun saat jam istirahat. Baekhyun duduk di kursi yang biasa diduduki oleh Hara. Sedangkan D.O duduk di kursinya. Kepalanya menelungkup di meja.
“Baekhyun, semalam, setelah kalian semua pulang, Hara kembali ke rumahku.” Kata D.O tanpa mengangkat kepalanya untuk memandang Baekhyun.
“Oh ya? Untuk apa?” Tanya Baekhyun
“Dia bilang….. dia menyukaiku.” Jawab D.O menelan ludah
“Benarkah? Lalu kau bilang apa?” Tanya Baekhyun berbinar-binar.
“Ku bilang…….aku tidak suka padanya.” Jawab D.O nyaris berbisik
“Apa???” Baekhyun tak percaya. “Do Kyung Soo, kau sudah gila?” Tanya Baekhyun pelan
“Baekhyun, maafkan aku.” Ucap D.O mengangkat wajahnya menghadap Baekhyun.
“Kenapa meminta maaf? Kau tidak salah kawan.” Ujar Baekhyun menepuk bahu D.O. Ia berusaha tersenyum meski ia jelas kecewa.

“Aku akan menjenguk Hara malam ini. Kau mau ikut?” Tanya Baekhyun ketika jam pulang sekolah tiba
“Tentu saja. Menurutmu, Hara mau bertemu denganku tidak?” Tanya D.O cemas
“Entahlah. Kita lihat saja nanti.” Jawab Baekhyun tertawa
^_^
Hara sedang berkutat dengan game portable-nya di dalam kamar. Ia merasa begitu bosan dengan keadaannya. Ia tak diperbolehkan keluar rumah oleh ibunya. Bahkan untuk menemui dan memberi salam pada motor besarnya di garasi pun tak boleh.
Jam di meja belajar Hara menunjukkan pukul lima sore. Hara melirik ponselnya yang tergelatak terabaikan di salah satu sisi tempat tidurnya. Hatinya agak kecewa mengingat tak seorang pun dari kawan-kawannya yang menelepon dan menanyakan kabarnya. Hara kemudian berinisiatif untuk menelepon mereka lebih dulu. Ia baru saja memungut ponselnya ketika pintu kamarnya terbuka.
“Oh, kau datang. Apa kau mau menjengukku?” Tanya Hara
“Tentu saja. kudengar kau sakit. Makanya aku datang.” Jawab Kai meletakkan makanan di meja belajar Hara
“Kau tahu dari mana?” Tanya Hara
“Aku menguping pembicaraan D.O dan Baekhyun.” Jawab Kai
“Apa itu untukku?” Tanya Hara mengalihkan pembicaraan saat mendengar kedua nama itu. Ia menunjuk bungkusan yang tadi dibawa Kai.
“Ya.” Jawab Kai
“Berikan padaku. Aku lapar.” Ujar Hara. Kai meraih bungkusan itu lalu mengeluarkan isinya. Hara melahapnya dengan cepat.
“Ckckck….sepertinya saat sakit selera makanmu bertambah besar ya.” Kata Kai terheran-heran
“Tahukah kau, obat mempengaruhi kesembuhan seseorang sebanyak 5%, dan 95% sisanya dipengaruhi oleh motivasi seseorang untuk sembuh.” Ujar Hara
“Benarkah? Lalu, apa motivasimu?” Tanya Kai dengan nada mengejek
“ Aku ingin segera sembuh agar bisa bertemu kak Suho. Karena itu aku harus makan yang banyak.” Jawab Hara dengan mulut penuh makanan
“Apa??? Kau ingin segera sembuh agar bisa bertemu kakakku? Motivasimu semurah itu? Kau tak perlu menunggu hingga sembuh jika hanya ingin bertemu dengannya. Dasar payah!” Umpat Kai lalu menelepon seseorang “halo. Kakak, ada yang ingin bertemu denganmu. Cepat ke mari.” Ujar Kai lalu mengakhiri teleponnya.
“Kak Suho akan datang?” Tanya Hara
“Ya.” Jawab Kai. Hara merebut ponsel Kai dan menggunakannya sebagai cermin untuk merapikan penampilannya. Hara tak ingin Suho melihatnya dalam keadaan berantakan. Lima belas menit kemudian Suho datang. Kai segera pergi dari sana. Kai dan Suho bukanlah dua orang yang akrab untuk ukuran saudara. Mereka sangat berbeda. Kai keras kepala, sedangkan Suho dewasa serta lemah lembut. Dan Kai selalu memberikan kesan seolah dia ingin menjauh dari Suho.

“Aku kembali ke rumah Kyung Soo untuk mengatakan bahwa aku menyukainya dan pada akhirnya ia menolakku. Aku tak memperkirakan bahwa malam itu akan turun hujan. Jadi aku pulang dengan pakaian basah kuyup seperti orang bodoh.” Kata Hara memberitahu Suho. Hara tertawa tapi air matanya menitik.
“Hara…” Tukas Suho sedih
“Kalau malam itu aku tak kembali ke sana, aku pasti akan sehat-sehat saja sekarang. Aku tak tahu di mana aku menyimpan sebagian otakku.” Lanjut Hara
“Hara…” Suho kembali mencoba bicara
“Kubilang padanya bahwa aku tak berharap ia akan menyukaiku, tapi sebenarnya aku bohong. Sejujurnya aku berharap ia akan mengatakan ‘Hara, aku juga menyukaimu’. Namun kenyataannya tak sesuai harapanku. Aku benar-benar bodoh.”
“Hara, stop it!” Kata Suho membuat Hara menghentikan ocehannya. Suho menarik napas panjang sebelum kembali berbicara. “Hara, tahukah kau, kau adalah siswi tercantik di kelasmu. Dan  D.O bukan satu-satunya orang yang bisa kau sukai. Tak menutup kemungkinan ada orang lain yang menyukaimu di sana. Sesorang yang tak pernah kau duga.” Ujar Suho menghapus air mata Hara. “Jangan pikirkan D.O lagi. Cepatlah sembuh. Kau boleh mempertimbangkan ucapanku tadi. Oke.” Lanjut suho mengedipkan sebelah matanya.
“Kakak, aku menyayangimu.” Ujar Hara tersenyum
“Aku juga.” Ujar Suho memberikan pelukan untuk Hara. “ Sekarang istirahatlah. Bukankah besok kau harus mempresentasikan tugas kelompokmu?” Kata Suho “Baiklah, aku pergi dulu.” Lanjut Suho mencubit pipi Hara dengan sayang.
 Keesokan harinya, Hara diantar ayahnya ke sekolah. Ia tidak diijinkan mengendarai motor besarnya hingga beberapa hari ke depan. Digunakan secara sembunyi-sembunyi pun tak bisa. Kasihan Hara.
^_^
Hara sedang bermalas-malasan di kamarnya menikmati libur akhir pekan. Ia baru saja mencoba untuk tidur ketika Suho menelepon. Suaranya terdengar panik. Kabarnya, Kai menghilang dan ponselnya tak bisa dilacak. Kai juga pergi tanpa membawa mobil. Tak ada yang melihatnya meninggalkan rumah. sepertinya ia pergi sebelum orang-orang terbangun. Suho sudah menelepon Sehun dan Chanyeol, tapi mereka berdua tidak tahu apapun. Ia menelepon Hara karena Hara adalah satu-satunya teman sekelas Kai yang dikenal oleh Suho.
Hara mondar mandir di dalam kamarnya. Ia bingung. Tak tahu harus berbuat apa. Meski Kai bukan teman yang akrab dengannya, tapi ia tak mungkin diam saja. Sejak dulu, Suho selalu ada saat Hara membutuhkannya. Jadi ia pun merasa perlu membantu Suho.
“Ini demi kak Suho.” Kata Hara pada dirinya sendiri. Ia kemudian mencoba menghubungi ponsel Kai. Awalnya Kai tidak menjawab, tapi setelah panggilan ketiga, Kai akhirnya menjawab telepon Hara.
“Halo. Kai, kau di mana?” Tanya Hara.
Tak berapa lama, Hara sudah berada di garasi lengkap dengan setelan pengendara motornya. Ia diam-diam mendorong motor besarnya keluar dari sana. Adiknya sempat menanyakan ke mana Hara akan pergi tapi Hara mengabaikannya. Hara langsung tancap gas sebelum orang lain terutama ibunya melihatnya.
Hara menemukan Kai di sebuah pantai di Incheon. Kai duduk sendirian mengamati matahari terbenam. Hara menghampirinya lalu duduk di sampingnya.
“Suho selalu lebih baik dariku. Bahkan kau pun merasakan itu. Keberadaanku tak ada gunanya sama sekali. Ayahku bilang, aku bahkan tidak memiliki 5% kebaikan Suho.” Ujar Kai. Kalimat itu ia tujukan untuk Hara, tetapi matanya menatap lurus ke arah matahari terbenam.
“Setiap orang itu memiliki kebaikan dan keburukan. Hanya kadarnya saja yang berbeda. Ada yang kadar kebaikannya lebih besar dari yang lain, atau malah sebaliknya. Semua itu tergantung pilihanmu. Kau bisa memilih untuk menjadi orang baik kan? Dan kau tak perlu menjadi Suho, karena semua orang sudah dibekali kelebihan masing-masing oleh Tuhan.” Kata Hara
“Oh ya? Lalu, menurutmu, apa kelebihanku?” Tanya Kai menoleh memandang Hara.
“Coba kulihat. Apa ya??? Hmm…. Kurasa…..kau lebih tinggi dari kak Suho. Dan juga sedikit lebih tampan.” Jawab Hara menatap Kai lekat-lekat.
“Jangan melakukan kebohongan public. Dulu kau bilang dia lebih tampan dariku.”
“Aku melakukannya agar dia mau memberikan tumpangan untukmu saat pulang sekolah.” Elak Hara
“Kau…..serius?” Tanya Kai ingin tahu. Hara tidak menjawab. Hara bangkit dari tempat duduknya setelah matahari sepenuhnya tenggelam lalu mengajak Kai pulang.
“Sudah malam, ayo pulang.” Ajak Hara.
“Kau membawa mobil?” Tanya Kai
“Jangan menghinaku. Aku tidak tidak bisa mengendarai mobil.” Jawab Hara
“Baiklah, aku akan jalan kaki saja.” Ujar Kai.
“Aku tak akan cerewet lagi. Aku berjanji.” Kata Hara mengulurkan kunci motornya untuk Kai.

“Kenapa kau tak menjawab telepon kakakmu?” Tanya Hara saat perjalanan pulang
“Aku tak ingin bicara dengan manusia.” Jawab Kai
“Lalu kenapa kau menjawab teleponku?”
“Karena kau bukan manusia.” Jawab Kai asal. “ngomong-ngomong, apakah kau menyukai kakakku?”
“Tentu saja. Dia seperti seorang kakak laki-laki bagiku.” Jawab Hara
“Maksudku bukan itu. Maksudku, sebagai seorang wanita, apakah kau menyukai kakakku?”
“Entahlah. Lagi pula untuk apa kau menanyakannya padaku? Haruskah aku melaporkan semua yang kulakukan padamu?”
“Aku kan hanya bertanya.” Ujar Kai
“Kai, jangan membenci kak Suho. Dia selalu merasa tertekan melihat tatapan kebencianmu padanya. Tak bisakah kau akur dengannya?” Ujar Hara. Kai tak menjawab. Kai mempercepat laju kendaraannya. Hara memeluk Kai erat-erat dari belakang.
^_^
Kai memarkir mobil sport kesayangannya tepat di depan gerbang rumah Hara. Ia membunyikan klakson berkali-kali agar Hara segera keluar. Menit berikutnya Hara keluar lengkap dengan setelan pengendara motornya seperti biasa. Hara memperhatikan gerbang rumahnya yang sepertinya tertutup sepenuhnya oleh mobil Kai. Tak ada celah untuk dilewati motor besarnya. Ia menghampiri mobil Kai, mengetuk-ngetuk kacanya lalu menyuruh Kai menyingkirkan mobilnya tapi Kai mengabaikannya.
“Cepat naik, atau kita akan terlambat.” Ujar Kai menurunkan sunglass-nya. Hara menarik napas panjang dan menatap Kai dengan jengkel. Baru saja ia akan membuka mulut, Kai sudah mendahuluinya. “kau ini lamban sekali. Ayo cepat!” Hara akhirnya menurut saja. Ia sudah hafal tabiat Kai. sekalipun hujan badai, Kai tak akan memindahkan mobilnya dari sana. Hara melepaskan helm dan jaket kulitnya lalu masuk ke mobil.
“Bagaimana penampilanku?” Tanya Kai begitu mereka tiba di sekolah. Hara meneliti Kai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hara merapikan rambut Kai lalu mengencangkan dasinya. Ia juga tak lupa memperbaiki posisi sunglass Kai. Kai menelan ludah.
“Sempurna.” Tukas Hara lalu pergi. Kai mengikutinya dari belakang. Kadang Kai berusaha berjalan beriringan dengan Hara tapi kembali mundur begitu Hara melemparkan tatapan ‘Awas kau!’. Hara tiba di kelas lima menit kemudian. Tak ada siapa pun di dalam kelas. Kai juga menghilang entah ke mana.
Hara mendapati sekotak donat di mejanya. Di dalamnya terdapat sebuah kartu bertuliskan ‘Hara, maafkan aku.’ Hara mengenali tulisan tangan tersebut. Itu tulisan tangan D.O. Hara tersenyum lalu memasukkan kue-kue tersebut ke dalam tasnya. Ia kemudian mengirim pesan untuk D.O  dan Baekhyun.
“Kalian ke mana saja?” Tanya Hara pada Baekhyun dan D.O yang baru memasuki kelas.
“Kami dipanggil oleh Kepala Sekolah.” Jawab Baekhyun
“Kalian membuat ulah?” Tanya Hara dengan tatapan curiga.
“Tidak. Jangan menatapku seperti itu. Kami bukan anak nakal dan kau tahu itu.” Jawab Baekhyun
“Lalu, untuk apa Kepala Sekolah memanggil kalian?” Tanya Hara
“Itu rahasia.” Jawab D.O menarik hidung Hara. “Kau sudah menerima bingkisanmu?”
“Bingkisan apa?” Tanya Hara pura-pura tidak tahu. Wajahnya polos dan tampak sangat meyakinkan. Bahkan kedua sahabatnya itu sempat percaya.
“Aku meletakkannya di sini. Sungguh.” Ujar D.O panic. Hara tersenyum jahil lalu mengeluarkan sekotak donat yang tadi ia temukan di mejanya.
“Maksudmu ini?” Tanya Hara membuka kotak kue tersebut. Ekspresi wajah kedua temannya berubah.
“Hara, kau tak ingin memakannya?” Tanya Baekhyun menatap kue-kue itu lekat-lekat. Hara tahu Baekhyun menginginkan donat-donat itu. Tapi ia sengaja ingin mempermainkan sepupu cubby-nya itu.
“Ini terlalu cantik untuk dimakan. Rasanya aku tak tega.” Ujar hara menutup kotak kuenya. Baekhyun merengut.
^_^
Kai sedang mencari-cari sesuatu yang sepertinya terjatuh di lantai. Melongok ke sana ke mari di bawah meja di sekitarnya. Kai terkejut saat merasakan punggungnya menabrak betis seseorang. Pemilik betis itu berdehem keras. Kai berbalik dan terkejut mendapati Hara, Chanyeol dan Sehun ada di sana. Mereka bertiga membungkuk menatap Kai.
“Kau mencari apa?” Tanya Hara dan Chanyeol ingin tahu
“Oh, bukan apa-apa.” Jawab Kai lalu berdiri tanpa memperhatikan sekitarnya. Kepalanya menghantam meja. Sehun dan Chanyeol terpingkal-pingkal, sedangkan Hara tampak cemas sekaligus ingin tertawa juga.
“Kau tak apa-apa?” Tanya Hara memeriksa kepala Kai.”Kau ini sangat ceroboh. Bagaimana jika kepalamu terluka dan kau gegar otak? Memangnya apa yang kau cari di bawah meja? Apa koin penny-keberuntunganmu jatuh?”
“Aku tak apa-apa.” Jawab Kai, “Berikan tanganmu.” Lanjut Kai. Hara mengulurkan tangan kanannya. Kai memasangkan gelang berhias tiga butir kulit kerang kecil-kecil berwarna biru di lengan Hara.  Sepertinya gelang itulah yang dicari-cari Kai hingga mengorbankan kepalanya.
“Ini untukku?” Tanya Hara berbinar-binar
“Bukan. Itu untuk Sehun. Lepaskan.” Jawab Kai
“Tidak bisa. Sesuatu yang sudah terpasang di tanganku, tak akan bisa kau ambil kembali.” Kata Hara tersenyum jahil
“Hara, hatiku sepertinya sudah terpasang di hatimu. Apa itu berarti aku juga tak bisa mengambilnya kembali?” Canda Chanyeol membuat mereka semua tertawa.
Dari pintu kelas, D.O menyaksikan semua itu dengan merana….
Saat pulang sekolah, D.O dan Baekhyun melihat Hara berdiri sendirian di ujung tangga depan sekolah. Mereka baru saja berniat mendatanginya, namun mereka mengurungkan niat begitu melihat mobil Kai berhenti tepat di depan Hara. Hara masuk ke dalam mobil tersebut lalu pergi bersama Kai.
“Aku ingin meminjam Hara untuk beberapa waktu” Kata Suho yang tiba-tiba ada di samping Baekhyun
“Meminjam? Untuk apa?” Tanya Baekhyun
“Untuk menemani Kai. Sepertinya Kai lebih mendengarkan Hara daripada aku.” Jawab Suho
“Berapa lama?” Tanya Baekhyun
“Sampai waktu yang belum ditentukan.” Jawab Suho
“Sepertinya akan lama. D.O, haruskah kita meminjamkan Hara kita?” Baekhyun berkonsultasi dengan D.O  tapi D.O tak menjawab. “kalau kau ingin meminjamnya, kau harus bisa memastikan dua syarat ini. Pertama, jangan sampai Hara menyukai Kai. kedua, jangan sampai Kai menyukai Hara. Jika hal itu terjadi, kau harus segera menjauhkan Kai dari Hara. Bagaimana?”
“Setuju. Ok, sampai jumpa.” Ucap Suho tersenyum lalu pergi dari sana.
“Syarat macam apa itu?” Celetuk D.O.
“Kawan, Hara adalah sepupuku yang paling cantik….” Jawab Baekhyun
“Karena dia adalah satu-satunya sepupu perempuan yang kau miliki.” D.O memotong kalimat Baekhyun
“Tepat sekali. Jadi aku tak boleh membiarkannya bersama Kai. Aku kenal Kai sejak SMP. Dan kami tak pernah saling menyukai sejak dulu. Kalau itu Suho, aku mungkin akan setuju. Tapi ini Kai, sobat. Kai.” Lanjut Baekhyun mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap Kai. D.O diam saja meski dalam hatinya ia sebenarnya setuju dengan Baekhyun. “Lagi pula aku tahu, kau menyukai Hara kan?” Goda Baekhyun. D.O jadi salah tingkah.
^_^
Keesokan harinya D.O duduk sendirian di halte. Menunggu bis untuk berangkat ke sekolah. Tak berapa lama bis yang ditunggu-tunggunya akhirnya datang. D.O menaiki bis dengan lesu. Mengingat kejadian  antara Hara dan Kai akhir-akhir ini, D.O jadi kurang bersemangat ke sekolah. Bis mulai bergerak, tiba-tiba lamunan  D.O buyar mendengar suara Hara. D.O pikir dirinya sudah gila. Mana mungkin Hara ke sekolah naik bis? Begitu pikir D.O. D.O kemudian menyadari bahwa ia tidak gila. Hara memang ada di sana, berdiri tepat di hadapannya. Tapi ia tidak sendirian. Ia bersama Kai. Meski agak kecewa, D.O tetap tersenyum pada Hara.
“D.O, kita belum terlambat kan?” Tanya Hara terengah-engah. Sepertinya ia berlari mengejar bis.
“Belum. Kita akan tiba tepat waktu.” Jawab D.O.
“Semua ini gara-gara si bodoh itu.” Ujar Hara menyalahkan Kai.
“Kenapa aku? Kalau tadi kau tidak membantahku dan langsung naik ke mobil, kita tak akan main kucing-kucingan dengan bis begini.” Balas Kai
“Kalau tadi kau segera menyingkirkan mobilmu dari gerbang rumahku, aku pasti sudah sampai di sekolah bersama motorku.” Kata Hara tak mau kalah
“Baik, kalau begitu, pulang saja sana. Singkirkan mobilku lalu pergilah dengan motor.” Ujar Kai. D.O yang tidak tahan lagi langsung menarik tangan Hara dan menjauhkannya dari Kai. D.O berdiri di antara mereka lalu mengawasi Kai. Ia mengancam akan menendang Kai keluar dari bis jika Kai masih banyak bicara. Kai kemudian menutup mulut sepanjang jalan. Dalam hati Hara sebenarnya tak tega melihat Kai seperti itu. Meski sering cekcok, tapi sebenarnya Hara menyayangi kawannya itu.

Baekhyun, D.O dan Hara menghabiskan jam makan siang di kantin sekolah sambil bermain scrabble. Tiba-tiba seseorang yang duduk di belakang Hara menepuk pundaknya. Hara menoleh dan terkejut mendapati wajah Chanyeol begitu dekat dari wajahnya.
“Hei, kau sedang apa?” Tanya Kai menjauhkan kepala Chanyeol dari Hara. Sehun tergelak, Baekhyun shock, D.O diam saja, sedangkan Kai sepertinya ingin memakan Chanyeol.

Kai, Hara dan D.O kembali akan naik bis bersama sepulang sekolah. Mereka bertiga menunggu cukup lama. Dalam kebosanannya, Hara mengunyah permen karet. Hara berkali-kali mondar-mandir di hadapan D.O dan Kai. Suasana lumayan canggung. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut kedua pria itu sejak tadi. Padahal mereka berdua termasuk dalam kategori pria cerewet di kelas mereka. Hara duduk di antara mereka berdua sambil memikirkan sesuatu yang mungkin akan mencairkan suasana.
Hara mencolek lengan Kai. Yang dicolek menoleh padanya. Hara membuat gelembung besar dengan permen karet yang sejak tadi dikunyahnya. Gelembung itu pecah beberapa senti di depan hidung Kai. Hara kemudian memasukkan kembali permen karetnya ke dalam mulut sambil tertawa.
“Apa Chanyeol baru saja mengajarimu trik-trik playboy murahan dan menjijikkan itu? Keluarkan benda itu dari mulutmu!” Perintah Kai. Hara mengabaikannya dan kembali mengunyah. Merasa diabaikan, Kai lalu memegangi wajah Hara, membuka mulut gadis itu secara paksa, memasukkan tangannya ke mulut Hara lalu mengeluarkan permen karet itu dari sana. Kai membuang benda lengket itu ke tempat sampah.
Bis akhirnya datang juga. D.O tak bergerak dari tempat duduknya seolah mengabaikan bis itu. Saat bis mulai bergerak menjauh tiba-tiba  D.O menyeret  Hara dan mengejar bis itu. Kai yang tak menduga D.O akan menyeret Hara seperti itu hanya diam untuk beberapa saat. Setelah keterkejutannya berkurang, ia mencoba mengejar bis itu namun ia tak bisa mencapainya.
“D.O, kita meninggalkan Kai.” Kata Hara. Ada nada panic di dalam suaranya.
“Biarkan saja. Dia sudah besar dan bisa pulang sendiri.” Jawab D.O tak peduli
Hara duduk di samping D.O mereka tidak saling bicara untuk waktu yang lama. Akhir-akhir ini, hubungan mereka rasanya agak canggung. Terlebih setelah Kai muncul di antara mereka.
“Pernahkah kau merasa tak berguna dan tidak dibutuhkan dalam keluarga?” Tanya Hara
“Kurasa….tidak.” Jawab D.O.
“Pernahkah kau merasa ingin mengecil dan menghilang dari rumahmu?” Hara kembali bertanya
“Tidak.”
“Pernahkah kau memiliki kakak yang sangat diharapkan dalam keluarga sehingga membuat dirimu merasa diabaikan?” Tanya Hara
“Tidak.” Jawab D.O.
“Aku juga tidak.” Kata Hara. “Tapi Kai merasakan semua itu. Dia tidak seperti kita. D.O, jangan membencinya. Dia hanya seseorang yang butuh perhatian dan ingin didengarkan.” Tutur Hara.
“Aku tidak membencinya. Hanya saja, aku mungkin sedikit cemburu padanya.” Kata D.O nyaris berbisik
“Cemburu? Kenapa?” Tanya Hara penasaran
“Karena dia selalu beredar di sekitarmu. Melakukan hal-hal yang dilakukan seorang pria untuk memperoleh perhatian dari orang yang disukainya. Sangat menyebalkan.” Jawab D.O meluapkan kekesalannya.
“Lalu apa masalahnya? Bukankah kau tidak suka padaku?” Tanya Hara tersenyum jahil
“Aku bohong.” Jawab D.O menunduk.
“Untuk apa berbohong untuk hal seperti itu?”
“Aku takut hubungan persahabatan kita akan menjadi aneh. Apalagi Baekhyun. Aku takut Baekhyun tidak akan setuju. Tapi setelah kuceritakan padanya soal kejadian malam itu, aku jadi menyesal telah menolakmu.” Tutur D.O.
“Kau menyesalinya? Kenapa?”
“Ternyata Baekhyun sangat kecewa karena aku menolakmu. Bodoh sekali!” Ujar D.O menertawai dirinya sendiri.
“Ya. Kau memang bodoh.” Timpal Hara.
“Aish…. Kau ini benar-benar.” Kata D.O menarik hidung Hara.
^_^
Sejak saat perenungan kai di pantai hari itu, kai lumayan mengalami banyak perubahan sikap. Ia jadi lebih manis pada anak perempuan. Sebelumnya, tak sedikit anak-anak perempuan di sekolah yang takut padanya. Mereka lebih menyukai Suho daripada Kai. tapi akhir-akhir ini, tak sedikit siswi di sekolah yang diam-diam mengidolakannya. Hara kadang sengaja menguping pembicaraan gadis-gadis itu tentang Kai dan kedua temannya – Chanyeol dan Sehun -- yang tampan dan tinggi-tinggi itu.
 Hara sedang bersusah payah meraih buku di deretan rak paling atas di perpustakaan. Ia sudah berjinjit, melompat, bahkan berusaha memanjat rak buku namun tetap tak bisa. Ia malah mendapat teguran dari petugas perpustakaan karena memanjat rak buku. Ia disarankan untuk mengambil tangga di sudut perpustakaan tapi ia mengabaikannya. Ia malah menyeret salah satu kursi perpustakaan untuk digunakan sebagai pijakan. Baru saja ia akan mengambil buku yang diinginkannya, tiba-tiba ada tangan lain yang lebih dulu mengambil buku itu.
“Menjadi tinggi itu sangat menyenangkan kan?” Celetuk Kai yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Hara melemparkan pandangan kesal yang dibalas senyum yang luar biasa manis dari Kai. “Turun dari situ. Itu tempat duduk, bukan tangga.” Lanjut Kai menyuruh Hara turun dari kursi tempatnya berdiri. Tapi Hara tidak bergerak. “ah, ya, sepertinya kau tidak tahu caranya turun.” Kata Kai lalu mengangkat Hara turun dengan mudah. Kai menyerahkan buku yang tadi diambilnya kepada Hara. Kai mengembalikan kursi itu ke tempat di mana Hara mengambilnya lalu duduk di sana.
“Sejak kapan kau di sini?” Tanya Hara duduk di hadapan Kai.
“Apa itu penting?” Kai balik bertanya
“Ya. Kalau kau ada di sana sejak tadi, seharusnya kau menolongku lebih awal.”
“Aku hanya ingin melihat apa yang bisa kau lakukan untuk mendapatkan apa yang kau inginkan. Dan ternyata kau akan menggunakan segala cara. Lumayan menarik.” Ujar Kai
“Benarkah? Ngomong-ngomong, terima kasih atas bantuanmu.” Ujar Hara menunjukkan buku yang tadi diambil oleh Kai. Hara menekuri buku itu sementara Kai tertidur di depannya.
Tiga puluh menit berlalu dalam diam. Hara menatap Kai yang masih tertidur pulas. Hara melambaikan tangannya di depan wajah Kai untuk memastikan bahwa Kai benar-benar tidur.
“Kenapa kau begitu baik padaku? Kau tidak menyukaiku, kan?” Tanya Hara menyandarkan kepalanya di meja. Wajahnya berhadapan dengan wajah Kai yang sedang tertidur. “Jangan menyukaiku. Kau mengerti?”
Hara pergi dari sana tanpa membangunkan Kai. Hara mencari Sehun dan Chanyeol untuk memberitahu mereka bahwa Kai ketiduran di perpustakaan.

Hara berdiri di tempat ia biasa memarkir motor besarnya. Ia kelihatan bingung,panic, kesal sekaligus ingin menangis. Ia tak tahu siapa orang bodoh yang telah melakukan sabotase padanya. Motor besar yang mencolok itu sekarang tak ada di sana.
“Sepertinya kau akan pulang jalan kaki.” Celetuk Kai dari belakang Hara.
“Apa ini perbuatanmu?” Tanya Hara
“Menurutmu????” Kai balik bertanya. Hara menghampiri Kai dengan tangan mengepal. Sepertinya ia akan memukul Kai. Tapi setelah sampai di hadapan Kai, Hara jadi tak tega juga. Ia kemudian pergi begitu saja sementara Kai membuntutinya sepanjang jalan.
“Kenapa kau jalan kaki? Mana mobilmu?” Tanya Hara
“Aku tidak membawa mobil.” Jawab Kai dari belakang Hara
“Kau sengaja?”
“Mungkin.”
“Kau ingin pulang denganku?”
“Iya.” Jawab Kai jujur
“Lalu apa yang kau lakukan di belakangku?” Tanya Hara. Kai tidak buang-buang waktu, ia mempercepat langkahnya dan berjalan di sisi Hara. “Kai,” Tukas Hara
“Ya.” Jawab Kai
“Akhir-akhir ini sepertinya kau punya banyak penggemar wanita. Aku sering mendengar mereka berbisik-bisik membicarakan dirimu.” Ujar Hara
“Ohya??? Mereka bilang apa?” Tanya Kai tersipu
“Mereka bilang akhir-akhir ini kau sangat manis. Sepertinya para siswi di sekolah kita mengantri untuk berkencan denganmu.” Kata Hara “Kau punya begitu banyak penggemar, lalu untuk apa kau terus mengikutiku?”
“Karena kau bukan penggemarku.” Jawab Kai
“Dari mana kau tahu bahwa aku bukan penggemarmu? Padahal, mungkin aku adalah penggemar pertamamu.” Canda Hara
“Kau bukan penggemarku. Kau adalah penggemar setianya Suho.” Ujar Kai meledek Hara
“Kai, kau adalah seseorang yang tak terduga. Mungkinkah……….kau suka padaku?” Tanya Hara. Kai memandang Hara. Ia tak tahu harus berkata apa untuk menanggapi pertanyaan Hara. “Haaaaahhh….. Dasar gila! Mana mungkin kau suka padaku? Lupakan pertanyaan bodoh itu.” Lanjut Hara menepuk kepalanya sendiri.
“Kenapa? Tak bolehkah aku menyukaimu?” Tanya Kai
“Ya.” Jawab Hara. Mereka terus berjalan dalam diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba Kai menarik tangan Hara lalu meletakkannya di dadanya.
“Di sini, tak bisakah kau merasakannya? Rasanya begitu menyiksaku. Rasanya sangat menyesakkan. Rasanya aku hampir pingsan tiap kali aku berada sangat dekat denganmu. Aku selalu ingin melihatmu. Aku…….” Ujar Kai lalu menarik Hara dalam pelukannya. Hara diam saja. Hara merasakan detak jantungnya kini semakin cepat. “Jadi, seperti inikah rasanya memeluk orang yang telah membuatku mengalami serangan jantung berkali-kali?” Lanjut Kai mengeratkan pelukannya. Hara balas memeluknya tanpa sadar.
^_^
Baekhyun menunggu Suho di tangga depan sekolah sambil memutar-mutar ponselnya. Dia ingin menunjukkan sesuatu yang ia dapatkan kemarin. Suho muncul sepuluh menit kemudian.
“Kita pernah membuat perjanjian kan?” Tanya Baekhyun saat Suho lewat di sampingnya. Suho menghentikan langkahnya. Baekhyun menyodorkan ponselnya ke hadapan Suho. Di ponsel itu ada foto Kai yang sedang memeluk Hara. Baekhyun tak sengaja melihat kejadian kemarin. “Kuharap kau menepati janji.” Lanjut Baekhyun merebut ponselnya dari tangan Suho lalu pergi dari sana. Suho menatap punggung Baekhyun dengan merana.
Suho mentraktir Kai dan Hara sepulang sekolah. Setelah lulus SMA, Suho akan melanjutkan sekolah di Amerika, karena itulah ia ingin melakukan acara perpisahan selagi ia masih sempat. Suho tidak makan sama sekali. Sepanjang waktu ia hanya memandang Kai dan Hara secara bergantian sambil memikirkan tindakan apa yang harus ia ambil. Menepati perjanjian bodoh dengan Baekhyun, atau  mengabaikannya saja. ia bisa saja ingkar janji, tapi Suho tak pernah ingin melakukan hal itu, lagi pula, Baekhyun sepertinya sangat serius dengan perjanjian waktu itu. Suho bisa mengerti, terlebih setelah ia tahu bahwa ternyata D.O juga menyukai Hara. D.O dan Hara saling menyukai, tapi Kai ada di antara mereka. Suho jadi semakin bimbang.
Suho pulang ke rumah dengan lesu. Ia masuk ke kamarnya dan naik ke tempat tidur tanpa melepas seragam sekolahnya. Ia memandangi foto Hara bersama dirinya sewaktu masih SMP yang terpajang di meja.
“Hara, maafkan aku.” Kata Suho bicara pada Hara yang tersenyum padanya dari dalam pigura.
^_^
Sudah seminggu setelah tahun ajaran baru di mulai. Selama itu pula Kai belum pernah masuk sekolah. ponselnya juga tak bisa dihubungi. Menurut Sehun dan Chanyeol, Kai ikut kakaknya ke Amerika dan akan melanjutkan sekolah di sana.
Hara, D.O dan Baekhyun duduk di halte bis yang tak jauh dari sekolah. D.O dan Hara punya kenangan unik bersama Kai di tempat itu. Waktu itu Hara mengganggu Kai dengan gelembung permen karet dan Kai mengeluarkan permen karet itu dari mulut Hara secara paksa. Setelah itu D.O menyeret Hara kabur dan meninggalkan Kai. Di dalam bis, D.O akhirnya mengakui perasaannya yang sebenarnya terhadap Hara. Hara tersenyum mengenang hari itu.
“Hara, kau tidak apa-apa kan?” Tanya Baekhyun melihat Hara tersenyum-senyum sendiri.
“Aku sangat serakah. Aku menyukaimu, tetapi di saat yang sama aku juga menginginkan Kai. Kyung Soo, maafkan aku.” Ujar Hara
“Menyukai dan menginginkan dua orang sekaligus itu sesuatu yang wajar. Kau menyukaiku, tetapi kau juga menginginkan Kai karena kau terbiasa bersamanya saat aku tak ada. itu bukanlah suatu kesalahan.” Kata D.O menggenggam tangan Hara. Hara menyandarkan kepalanya di bahu D.O, sedangkan Baekhyun bersandar di bahu Hara.
^_^
Dua tahun kemudian….
Hara berjalan sendirian di jalan menuju rumahnya. Setelah lulus SMA, hara memberikan motor besarnya untuk adiknya sementara ia naik bis saat ke kampus. Hara berhenti berjalan saat melihat seseorang sedang mengamati gambar di sebuah tembok tinggi di tepi jalan. Orang itu tampak begitu serius. Hara memandangi orang itu lalu mengucek matanya.
“Aku pasti sudah gila.” Hara bicara pada dirinya sendiri sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia berpikir bahwa ia pasti terlalu merindukan Kai hingga melihat setiap orang tampak seperti Kai. Hara melepaskan tangannya dari wajahnya dan mendapati wajah orang itu sudah berada sangat dekat dengan wajah Hara. Hara menampar orang itu dengan keras.
“Hei, aku tahu kau marah padaku. Tapi kau juga tak boleh memukulku seperti itu. Akan kulaporkan kau pada ibuku.” Kata Kai memegangi wajahnya.
“Maaf, aku sungguh tidak sengaja. Kupikir aku salah mengenali orang.” Ujar Hara memegang pipi Kai yang tadi ditamparnya.
“Kukira kau marah padaku karena aku sudah meninggalkanmu.” Kata Kai
“Jadi kau sengaja meninggalkanku?” Tanya Hara berubah sinis
“Tidak. Bukan begitu. Ayah dan ibuku menjebakku hingga aku tak punya pilihan lain selain menetap di Amerika.” Kai menjelaskan. Hara mengabaikannya dan pergi begitu saja. Kai terus menjelaskan alasan kepergiannya ke Amerika sambil mengikuti Hara dari belakang. Tiba-tiba Hara berhenti berjalan hingga Kai menabraknya.
“Aku tahu kau tidak bermaksud meninggalkanku. Aku sudah mendengar semuanya dari Baekhyun.” Ujar Hara. “Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku…..hanya lewat saja.” jawab Kai menggaruk-garuk kepalanya.
“Benarkah????” Tanya Hara tersenyum jahil. Hara tahu Kai berbohong.
“Sebenarnya….. aku….aku…… aish….” Ujar Kai gugup. Kai menarik tangan Hara lalu mencium bibir gadis itu seolah ingin mengungkapkan betapa ia sangat merindukannya selama ini.


>>>>>THE END<<<<<