Cast :
EXO & Nicole
Genre `: Friendship
Author : Sarni_Sky
“Halo. Aku Nicole.” Sapa Nicole membungkuk di depan
teman-teman barunya. Dan cerita pun dimulai…..
Nicole merupakan seorang murid baru di sebuah SMA elit. Ia
dipindahkan karena ibunya tak ingin ia berada satu sekolah dengan adiknya.
Semasa SMP, ia terus membuat masalah sepanjang tahun. Ia dan adiknya yang lebih
muda dua tahun darinya adalah Partner In Crime. Awalnya, Sehun (adik Nicole)
yang akan dimasukkan ke sekolah baru Nicole, tapi Sehun bersikeras bahwa ia tak
akan masuk SMA selain sekolah lama Nicole. Alasan sebenarnya adalah gadis yang
disukai Sehun ternyata akan masuk ke sekolah itu. Ibu akhirnya mengabulkan
permintaan Sehun dan memutuskan Nicole harus dipindahkan. Ibu mereka khawatir sekolah SMA akan kacau
balau lagi jika kedua kakak beradik itu terus berdekatan.
^_^
Nicole berjalan di dalam laboratorium biologi, mencari
tempat untuk duduk. Di belakangnya ada Kai yang mengikutinya sambil bersiul.
Kai tiba-tiba menyenggolnya dengan sengaja hingga Nicole jatuh tersungkur.
Mungkin Kai sedang melakukan penyambutan bagi Nicole sebagai teman sekelas
barunya, tapi Nicole ternyata jadi kesal.
“Hey, apa kau tidak melihat? Di depanmu ada orang.” Kata
Nicole bangkit dengan cepat
“Wooooo……” Teriak kawan-kawan sekelasnya serempak
“Benarkah? Ku pikir yang sejak tadi berada di depanku itu
tempat sampah.” Ujar Kai menyebalkan.
“Hei! Kau pikir karena aku miskin, maka aku adalah sampah, seorang
pecundang dan takut padamu??? Sayang sekali aku tidak begitu. Mulai sekarang,
sebaiknya pakai matamu dengan benar!” ujar Nicole mendorong Kai ke meja. Lengan Kai bertumpu di atas meja.
Nicole kemudian menancapkan pisau praktikum tepat di lengan seragam Kai. Nicole
menyeringai, wajahnya jadi agak menyeramkan. Teman-teman Kai hanya ternganga
tak percaya melihat pemandangan ini. Tak ada satu murid pun yang pernah melawan
Kai sebelumnya.
Nicole mengambil tempat di pojok ruangan. Di sana ada tiga
anak lain yang hanya menunduk dan sibuk dengan urusannya masing-masing.
“Kalian bertiga……” Ucap Nicole duduk di hadapan Kyungsoo,
Baekhyun dan Chen sambil melipat lengannya. Ketiga anak lugu itu memandang
Nicole.
“Kami kenapa???” Baekhyun
memberanikan diri bertanya.
“Kalian bertiga tampak seperti pecundang.” Jawab Nicole menatap
mereka bertiga secara bergantian.
“Ya. Kami memang pecundang.” Ujar Kyungsoo lalu kembali membaca prosedur
praktikumnya.
“Mau berteman denganku?” Tanya Nicole tersenyum. Ketiga anak
itu sontak mengangkat wajahnya, memandang Nicole dengan tatapan tak
percaya. “Kalian mau berteman denganku
tidak???” Nicole mengulang pertanyaannya. Ketiga anak itu mengangguk. Mungkin
karena takut pada Nicole. haha…
^_^
Nicole pulang sekolah bersama Baekhyun. Sepanjang jalan, Nicole
tak henti-hentinya mengusili Baekhyun. Entah itu menarik rambut Baekhyun dari
belakang, atau menyelipkan rumput ke kerah seragam Baekhyun. Baekhyun yang
sudah terbiasa dengan kejahilan semacam itu tidak mempedulikannya. Baekhyun
hanya menampilkan senyum perdamaian. Tiba-tiba Baekhyun menghentikan langkahnya
tidak jauh dari sebuah toko kue di persimpangan jalan.
Seorang pria paruh baya berjalan cepat ke tempat Baekhyun dan
Nicole berdiri. Wajahnya terlihat marah. Nicole bertanya apakah Baekhyun mengenal
pria itu. Baekhyun mengatakan bahwa pria itu adalah ayahnya dan ia pasti sangat
marah karena Baekhyun tidak mengantarkan pesanan kue pagi tadi. Baekhyun ingin
lari tapi Nicole menangkap lengannya. Ayah Baekhyun mendekat dan akan memukul
anak itu.
“Hey, paman! Apa kau selalu memukuli anak-anak seperti ini?”
Tanya Nicole menangkap tangan ayah Baekhyun yang hendak memukul anaknya
“Hey, siapa kau???” Ayah Baekhyun balik bertanya
“Aku teman Baekhyun. Paman, apa kau ini ayahnya?”
“Ya. Dan mengapa kau tak bicara secara formal padaku, anak
kurang ajar?” Bentak ayah Baekhyun
“Haruskah aku bicara formal pada orang yang menyebut orang
lain ‘anak kurang ajar’? Ku rasa paman tidak lebih sopan dariku. Sangat
mengherankan paman bisa punya anak seperti Baekhyun.” Ujar Nicole
“Ya. Memang sangat mengherankan bagaimana aku bisa punya
anak tak berguna seperti dia.”
“Anak tak berguna? Paman pikir paman ini ayah yang berguna?
Lihat diri paman. Sudah berapa lama
paman hanya tinggal dan menyuruh Baekhyun ke sana ke mari untuk melakukan
pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggungjawab paman? Dan sudah berapa lama
paman memukulnya seperti ini? Itukah gunanya paman sebagai seorang ayah? Apakah
paman tahu apa akibatnya jika selalu menyakiti anak seperti itu? Tahukah paman
jika paman selama ini sudah membuatnya menjadi anak yang terlalu penurut bahkan
penakut? Dia selalu merasa bahwa dirinya sungguh pecundang dan dia tak tidak
punya banyak teman. Dia dikucilkan, dan anak-anak di sekolah bertingkah sama
persis seperti paman. Baekhyun merasa itu wajar saja, karena ia sudah terbiasa
dengan perlakuan macam itu. Tapi tidakkah paman merasa bahwa itu salah?
Baekhyun bukan berandalan. Dia anak yang sangat baik jadi perlakukanlah dia
dengan baik pula. Dipukul itu sungguh tidak menyenangkan. Kalau paman ingin
memukul, pukul tembok saja. Jangan memukul manusia sebaik Baekhyun. Paman mengerti?!”
Cerocos Nicole setengah berteriak. Ia pun pergi meninggalkan Baekhyun dan
ayahnya yang sedang terbengong-bengong. Baekhyun bengong saking kagumnya,
sedang ayahnya bengong saking shock-nya.
“Dia harus mempraktekkan memukul tembok sewaktu-waktu agar
ia tahu bahwa memukul itu terkadang tidak mengenakkan.” Nicole bicara pada
dirinya sendiri setelah ia berada cukup jauh dari Baekhyun dan ayahnya.
^_^
Nicole dan tiga sekawan (Chen, Baekhyun dan Kyungsoo) sedang
berkumpul di halaman sekolah. Chen sibuk mengerjakan essay, Kyungsoo sedang
melamun, sedangkan Baekhyun sedang sibuk memotong kuku tangan Nicole. Baekhyun sungguh
orang yang berdedikasi. Ia melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati. Nicole
memandang wajah Baekhyun yang tampak begitu polos dan tanpa dosa, juga lumayan
tampan. Hanya penampilannya saja yang sedikit berbeda dengan anak-anak lain.
Jika gaya berpakaiannya bisa sedikit diubah, mungkin nasibnya juga bisa sedikit
berubah.
“Dia masih sering memukulimu?” Tanya Nicole. Yang dimaksud
Nicole tentu ayah Baekhyun.
“Tidak lagi. Semua berkat kau. Terima kasih.” Ucap Baekhyun
tersenyum
“Hey, kita kan teman.” Ujar Nicole. “Oh iya teman, pernahkah
kau memperhatikan dirimu di cermin?”
“Tidak. Kenapa? Apa setelah mengataiku pecundang, kau juga
akan mengatakan bahwa aku ini jelek?” Baekhyun merengut
“Aku tidak berpikir begitu. Aku justru berpikir bahwa kau
ini lumayan tampan. Mungkin kau tidak menyadarinya, makanya aku bertanya.”
Jawab Nicole membuat Chen menghentikan essay-nya, Kyungsoo sadar dari
lamunannya, dan Baekhyun jadi cegukan mendengarnya. “Kenapa?” Tanya Nicole
bingung. Baru kali ini wajahnya jadi tampak begitu polos.
^_^
Keesokan harinya, Baekhyun berjalan pelan di sepanjang jalan
menuju sekolah. Hari masih sangat pagi dan sekali-sekali ia tampak menguap. Ia
singgah sebentar di depan sebuah rumah dan berniat memencet bel rumah tersebut
namun kemudian membatalkan niatnya.
“Oh, babo!” Baekhyun mengutuk dirinya sendiri, menampar
dahinya. Ketika ia berbalik, Nicole sudah ada di depannya. Nicole yang muncul
begitu saja lumayan mengejutkan Baekhyun. Nicole terlihat tak peduli dengan
keterkejutan kawannya itu. Dia malah memandangi pintu rumah yang tadi hendak
dipencet belnya oleh Baekhyun.
“Bukankah ini rumah…..” Ujar Nicole baru saja ingin memulai
pertanyaanya tapi Baekhyun menyeretnya pergi.
“Kita hampir terlambat.” Ujar Baekhyun berdalih.
“Baekhyunnie.” Kata Nicole
“Baekhyunnie? Tak biasanya kau bicara seperti itu?” Tanya Baekhyun
bingung mendengar cara Nicole menyebut namanya.
“Apa itu terdengar aneh?” Tanya Nicole
“Ah, tidak. Itu sangat bagus.” Jawab Baekhyun tak ingin
mengesalkan Nicole. Nicole tersenyum.
“Oh, tunggu sebentar.” Ujar Nicole berdiri di depan Baekhyun
sambil mencari sesuatu di dalam tasnya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah topi
lalu memakaikannya pada baekhyun. “Waaa…. kau tampak seperti seorang member
idol group.” Lanjut Nicole kembali berjalan. Baekhyun tersenyum malu-malu
mendengar ucapan Nicole. Baekhyun kemudian mengirim pesan untuk Kyungsoo dan Chen
“Nicole baru saja
memanggilku Baekhyunnie. Menurutmu itu aneh tidak?” Begitu isi pesan Baekhyun. Sepertinya ia
curiga kalau-kalau Nicole tertarik padanya. Haha…..
^_^
Nicole sedang memain-mainkan bola baseball di tangannya. Pandangannya menatap lurus ke arah telinga kanan Xiumin. Nicole kemudian melemparkan bola tersebut. Bola itu melintas tepat di depan hidung Xiumin. Jarak antara hidung Xiumin dengan bola nyasar tersebut kira-kira satu sentimeter. Xiumin yang terkejut langsung memutar lehernya ke arah datangnya bola tadi.
“Ups, kurasa aku hampir mematahkan hidungmu.” Ujar Nicole
dengan santai. Belum sempat Xiumin mengatakan sesuatu, seseorang sudah
ber-“Aww” di belakangangya. Xiumin memutar tubuhnya 180o dan melihat
Chanyeol tampak kesakitan sambil memegang punggungnya. Sepertinya lemparan
baseball Nicole baru saja bersarang di punggung Chanyeol. Saat Xiumin kembali menoleh ke tempat Nicole
berdiri, Nicole sudah menghilang.
^_^
Tiga serangkai sedang serius membicarakan sesuatu di kelas. Rupanya Chen menemukan sebuah dompet. Dia bilang dompet itu tergeletak di gerbang sekolah. namun setelah memeriksanya, ia tak berani mengembalikannya. Mereka pun memutuskan siapa yang harus mengembalikan dompet tersebut dengan hom pim pa. Melihat ini, Nicole pun menghampiri mereka. Dia berdiri di sebelah Kyungsoo dengan tangan terlipat di dadanya.
“Apa-apaan ini?” Tanya Nicole mengejutkan ketiga temannya
tersebut.
“Chen menemukan dompet itu di gerbang sekolah.” Jawab
Kyungsoo
“Lalu kenapa kau tidak mengembalikannya?” Tanya Nicole
membolak-balik dompet kecil tersebut.
“Aku tak ingin bertemu pemiliknya. Jadi, bisakah aku minta
tolong padamu untuk mengembalikannya? Di antara kita berempat, kau yang paling
mungkin untuk mengembalikannya.” Jawab Chen diiringi anggukan dari Kyungsoo dan
Baekhyun.
“Memangnya siapa pemiliknya?” Tanya Nicole
“Buka saja dan lihat kartu pelajarnya.” Chen tidak menjawab
pertanyaan Nicole dengan benar. Nicole membuka dompet tersebut dan menemukan
kartu pelajar. Di situ tertulis nama Kim Jong In, tapi fotonya adalah foto Kai.
Nicole mengernyit.
“Kalian tahu di mana pemiliknya sekarang?”
“Dia ada di kantin.” Jawab Kyungsoo.
Nicole mencari-cari Kai di kantin. Ia pun menemukan sosok
pria tinggi itu di salah satu sudut kantin. Ia sendirian. Tanpa keenam kawannya
yang berisik itu. Nicole menghampiri Kai dan menjatuhkan dompet di mejanya. Kai
mendongak dan mengernyit melihat Nicole.
“Kau mencopetku huh?” Tanya Kai kasar
“Hey, Kim Jong In! Dompet jelek itu terjatuh di gerbang
sekolah dan aku hanya mengembalikannya padamu.” Kata Nicole duduk di depan Kai.
“Apa??? Kim Jong In??? Siapa yang mengijinkanmu memanggilku
dengan nama itu?”
“Kenapa? Kau tidak suka?” Nicole balik bertanya
“Ya.” jawab Kai mengambil dompetnya dan hendak pergi.
“Tapi aku menyukainya. Aku pernah punya seorang teman
bernama Kim Jong In. Enam tahun yang lalu aku pernah hampir mematahkan
hidungnya. Ku dengar sekarang dia tinggal di Myeongdong.” Ujar Nicole
“Memangnya aku peduli?” Cibir Kai
“Andai aku bertemu dengannya lagi, aku ingin minta maaf
padanya.” Kata Nicole. Kai kemudian pergi begitu saja.
^_^
Ibu Victoria memasuki kelas. Meski pun ibu guru yang satu ini cantiknya luar biasa, namun ia menakutkan seperti Nicole. Ibu Victoria mengajar Bahasa Inggris.
“Anak-anak, keluarkan buku pelajaran kalian. Dan seperti
biasa, aku selalu berharap tak ada satu pun dari kalian yang tidak membawa
buku.” Ujar ibu Victoria menuliskan sesuatu di papan tulis. “yang tidak membawa
buku, silahkan berdiri.” Lanjut ibu Victoria. Suho menelan ludah lalu berdiri
di tempat duduknya. Xiumin juga sepertinya tidak membawa buku karena ia juga
hendak berdiri. Nicole meletakkan bukunya di meja Xiumin lalu berdiri
mendahului lelaki cantik itu. Suho memandangnya dengan heran.
“Suho, Nicole, silahkan keluar dari kelas. Berdiri di depan
pintu dengan satu kaki dan tangan saling menjewer telinga.” Kata ibu Victoria
mengusir Nicole dan Suho, sang ketua kelas. Mereka pun keluar untuk menjalani hukuman.
Dua puluh menit berlalu. Suho dan Nicole saling diam selama
dua puluh menit tersebut. Pada menit ke dua puluh satu, Suho memberanikan diri
berbicara dengan gadis killer itu.
“Kenapa kau memberikan bukumu pada Xiumin? Kalau kau begitu
baik, kenapa kau tidak memberikannya padaku?” Tanya Suho
“Aku ingin dihukum bersama ketua, bukan dengan Xiumin. Dia
terlalu cantik untuk dipermalukan seperti ini.” Jawab Nicole asal
“Jadi kau merasa malu?” Suho bertanya lagi
“Tidak juga. Wajahku sudah cukup tebal.” Jawab Nicole
membuat Suho tersenyum geli.
^_^
Nicole pulang agak larut usai latihan karate dan mendapati Luhan sedang dikepung sekelompok berandal. Nicole mengintai sekelompok pemuda tersebut dari balik tempat sampah sambil memikirkan cara untuk menjauhkan mereka dari Luhan. Sebuah jeruk busuk di tempat sampah tiba-tiba memberinya ide. Ia pun memungut jeruk itu sambil menunggu waktu yang tepat. Ia kemudian melemparkannya seolah jeruk busuk itu sebuah bola baseball. Lemparannya mendarat tepat di bagian belakang kepala salah seorang pemuda di depan Luhan.
“Sial!” Geram pemuda tersebut berbalik dan menyeringai ke arah
Nicole. Nicole sudah mengambil jurus langkah seribu. Pemuda yang terkena
lemparan jeruk tersebut beserta seorang kawannya beralih mengejar Nicole
sementara sisanya bertarung dengan Luhan. Luhan membereskan mereka kurang dari
lima menit. Luhan kemudian menyusul Nicole yang mungkin sudah tertangkap atau
yang lebih buruk lagi, Nicole mungkin sudah babak belur.
Tak seperti dugaannya, Luhan bertemu Nicole di pertigaan jalan.
Ia sendirian. Sepertinya ia berhasil lolos dari kejaran kedua preman tadi.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Luhan canggung
“Ya.” Jawab Nicole tampak lelah
“Kau melawan mereka?” Tanya Luhan antara khawatir dan
penasaran
“Tidak. Aku melarikan diri.” Jawab Nicole
“Benarkah? Apa kau secepat itu?” Luhan kurang percaya
“Hey, ini wilayahku. Aku tahu lebih banyak daripada bocah-bocah
tengik itu.” Jawab Nicole tertawa ringan. “mau jalan-jalan sebentar?”
“Tentu.” Tukas Luhan
Luhan dan Nicole berjalan beriringan sembari tenggelam dalam
pikiran masing-masing. Nicole berhenti melangkah ketika mereka tiba di depan
sebuah taman bermain. Taman itu sangat sepi dan sudah terkunci rapat. Nicole
kemudian menyeret Luhan ke bagian utara taman tersebut. Selain pohon dan bangku
taman, tak ada apa-apa lagi di sana. Luhan jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa
maksud Nicole membawanya ke mari? Jangan-jangan Nicole ingin melakukan sesuatu
padanya? Begitu pikir Luhan. Sementara Nicole yang tidak memperhatikan Luhan mulai
memanjat pohon.
“Hey, apa yang kau lakukan di bawah sana? Ke marilah sebelum
kita tertangkap!” Kata Nicole dari atas tembok. Luhan, meski kebingungan
tetap mengikuti instruksi Nicole. ia
ikut naik ke atas lalu melompat ke dalam taman bermain seperti yang dilakukan
Nicole.
“Kau sepertinya sangat mengenal tempat ini. Kau sering ke
mari?” Tanya Luhan
“Tentu.” Jawab Nicole kemudian iseng mengambil gambar self
camera bersama Luhan. “Aku dan Sehun sering ke mari. Jika ayah dan ibuku bertengkar,
maka aku dan Sehun akan ke mari kemudian pulang setelah larut malam. Tapi kami
tak pernah ke mari di siang hari. Kami tak punya uang untuk membeli tiket masuk
apalagi makanan di sini. Terlalu mahal.” Tutur Nicole antara sedih dan juga
geli.
Nicole dan Luhan mengobrol hingga tak terasa malam sudah
semakin larut. Nicole melirik jam tangan Luhan. Waktu menujukkan pukul 23.30
malam.
“Sepertinya ibuku sudah tidur. Ayo pulang.” Ajak Nicole
turun dari komidi putar yang sedari tadi tidak bergerak. Mereka keluar melalui
pintu rahasia di sebelah barat. Pintu itu hanya bisa di buka dari dalam
sehingga tak ada yang bisa menggunakannya dari luar. Dan setelah ditutup
kembali, pintu itu sudah tak terlihat karena ditutupi oleh tanaman yang
menjalar di sepanjang tembok taman. Konon, pintu rahasia itu sengaja di buat
oleh salah satu pekerja saat pembangunan taman dilakukan. Pekerja tersebut
sengaja membuat pintu tersembunyi agar anak-anaknya dan juga anak-anak lain
seperti Nicole bisa masuk dan keluar taman tanpa harus membayar.
Luhan mengantar Nicole pulang. Nicole berpamitan dan
melambai pada Luhan sebelum menutup pintu. Di sekitar tempat itu sudah sangat
sepi. Luhan menuliskan sesuatu dengan ujung jarinya di pintu rumah Nicole
sebelum pergi dari sana. Tulisan itu kira-kira berbunyi “Terima kasih karena kau telah datang padaku.”
“ Kurasa, menjadi miskin bukanlah hal yang buruk. Nicole,
selamat malam. Semoga tidurmu nyenyak.” Ucap Luhan berbicara dengan pintu. Ia
pun pergi.
^_^
Luhan berkunjung ke rumah Nicole seminggu setelah acara jalan-jalan malam yang tak terduga itu. Nicole yang baru saja selesai membuat masalah dengan salah satu anak tetangga sedang tidak ada di rumah. Nicole punya kebiasaan pulang lebih larut jika sedang terjadi sesuatu karena ibu pasti akan mengomelinya habis-habisan. Saat tiba di rumah Nicole, Luhan mendengar suara ibu yang sedang mengomel, tentang Nicole. Luhan menghampiri ibu dengan senyum termanisnya.
“Dasar anak
keterlaluan! Selalu saja membuat masalah dan melimpahkannya padaku. Setelah itu
ia akan melarikan diri dan tidak bertanggungjawab. Berani bertaruh, ia akan
pulang larut malam ini. Lihat saja, aku pasti akan menangkapnya saat ia pulang
nanti.” Cerocos ibu sambil memukuli kasur dengan ekspresi penuh dendam seolah
kasur itu Nicole.
“Sudahlah bu, Noona pasti tidak sengaja.” Ujar Sehun dengan
santai sambil bermain dengan video game-nya
“Kau juga sama saja! Selalu saja membelanya!” Bentak ibu
“Apa kabar, Bibi.” Sapa Luhan mengagetkan ibu
“Oh. Siapa kau?” Tanya ibu
“Aku temannya Nicole.” Jawab Luhan
“Kau bersama anak nakal itu?” Tanya ibu mencari-cari Nicole
“Ehm… tidak. Ku pikir dia ada di rumah. Karena itulah aku
datang ke mari.”
“Sudahlah. Jangan pedulikan dia. Ayo masuk.” Ajak ibu. Luhan
menurut saja. Ini merupakan kali kedua ia berkunjung, dan baru kali ini Luhan masuk
ke dalam rumah.
“Aku sangat bingung, sebenarnya kesalahan apa yang telah
kulakukan. Aku selalu merasa bahwa aku membesarkan anak itu dengan baik. Tapi
dia tetap seperti itu. Dia anak perempuan tapi sangat mengerikan. Bahkan Sehun tidak
pernah membuatku sepusing ini. Aku sudah merasa bahwa aku tidak pernah
membedakan antara kasih sayangku padanya dengan adiknya. Seringkali aku ingin
mengatakan yang sebenarnya pada anak itu, tapi entah mengapa tiap kali
melihatnya aku tak pernah bisa bicara lagi.” Tutur ibu menuang teh untuk Luhan.
Sepertinya ibu sedang curhat dengan Luhan. Sehun, meskipun dia tidak senakal
Nicole, tapi anak itu sepertinya bukan pendegar yang baik sehingga ibu tetap
saja kesepian.
“Bibi, kau adalah ibu terbaik yang pernah ku temui. Aku tak
punya orangtua di sini, karena itulah aku sangat senang bisa mengenal bibi.
Bibi bisa menganggapku sebagai anak bibi. Melihat bagaimana sikap Nicole dan Sehun
terhadap bibi, aku jadi mengerti bagaimana perasaan ibuku selama ini yang
seringkali tidak didengarkan oleh anak-anaknya. Bibi, jika kau sedang
membutuhkan teman untuk diajak bicara, bibi boleh meneleponku.” Ujar Luhan. Ibu
tersenyum mengacak rambut Luhan.
^_^
Xiumin sedang memandangi fotonya bersama Luhan di layar poselnya. Hari ini Luhan tidak masuk sekolah dan tak ada kabar sama sekali. Xiumin menarik napas lalu menatap keluar jendela kelas dan matanya menangkap sosok Nicole di kejauhan. Ia pun tersenyum.
Nicole sedang memakan sesuatu yang ia bawa dari rumah ketika
Xiumin tiba-tiba muncul dan duduk di sampingnya.
“Oh, Xiuminnie…” Sapa Nicole membuat Xiumin terperanjat. “Sudah
ku duga ini akan terjadi.” Lanjut Nicole memalingkan wajah. Sepertinya Nicole
sedang berusaha keras mengubah kepribadiannya dari wanita galak dan semena-mena
menjadi seperti gadis-gadis pada umumnya.
“Bisakah kau mengulanginya?” Pinta Xiumin
“Kenapa aku harus melakukannya? Bukankah itu terdengar
menakutkan? Chen bilang aku menakutkan saat bicara seperti itu” Nicole bingung
“Tidak. Jika kau yang mengatakannya, itu terdengar sangat
cute. Jadi, bolehkah aku mendengarnya sekali lagi?” Xiumin penuh harap
“Xiuminnie…” Tukas Nicole. Senyum pun terkembang di bibir Xiumin
“Ngomong-ngomong, tahukah kau hari apa ini?” Xiumin bersemangat
“Hari Selasa.” Jawab Nicole
“Tepat.” Kata Xiumin mengedipkan sebelah matanya. WINK! “Dan
pada hari selasa ini, aku berulangtahun.” Lanjut Xiumin heboh sendiri
“Benarkah??? Ooo… selamat ulangtahun temanku.” Nicole jadi
ikut-ikutan heboh. “Sebagai hadiahmu, aku akan berbagi makanan denganmu. Buka
mulutmu.” Kata Nicole. Xiumin menurut saja. Nicole menyuapkan makanan ke mulut Xiumin.
^_^
Xiumin berjalan di koridor sekolah sambil tersenyum-senyum sendiri. Ia tak henti-hentinya mengucapkan kata ‘Xiuminnie’ membuat anak-anak lain melempar tatapan aneh padanya. Ia kemudian menelepon Luhan untuk menagih ucapan selamat ulangtahun.
“Ehm… Luhan, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu.” Kata
Xiumin setelah mendapat satu ucapan selamat ulangtahun dari sahabatnya itu.
Xiumin kembali ke jendelanya tadi dan menonton kawan-kawannya yang sedang
bermain sepakbola di lapangan.
“Apa itu?”
“Menurutmu, apa aku sudah gila jika aku tertarik pada gadis
itu?” Tanya Xiumin dengan lugunya
“Gadis yang mana?” Tanya Luhan tidak mengerti
“Ku rasa aku tertarik pada Nicole.” Jawab Xiumin
“Apa?????” Luhan Shock
“Ini mungkin terdengar sangat gila, tapi gadis itu menarik
perhatianku sejak ia dihukum karena memberikan buku pelajarannya padaku.” Ujar Xiumin
menatap lurus ke depan. Xiumin mungkin tidak tahu bahwa apa yang dilakukan
Nicole waktu itu sebenarnya hanya modus agar ia bisa dihukum bersama Suho.
^_^
Ibu menyuruh Nicole mengambil pesanan ayam sepulang sekolah. Walau sedikit menggerutu, Nicole tetap mengerjakannya. Ia benci paman penjual ayam yang seringkali mempermainkannya. Paman itu sering menggoda Nicole dan menjodoh-jodohkan Nicole dengan anak laki-lakinya.
Nicole menarik napas sebelum memasuki toko paman tersebut.
“Apa kabar.” Sapa Nicole dengan lesu
“Oh, calon menantuku.” Sambut paman pemilik toko itu
bersemangat. Nicole hampir pingsan mendengarnya.
“Aku….” Nicole baru saja hendak bicara namun paman itu
memotong ucapannya.
“Ah, aku tahu. Pesanan ibumu kan?” Tanya paman. Nicole
mengangguk. Paman membungkus daging ayam yang paling segar dengan bungkusan
paling rapi dan bagus. Nicole meletakkan ponselnya yang menyala di meja kasir
lalu merogoh saku-sakunya untuk mencari uang yang dititipkan ibu pagi tadi.
Paman melirik layar ponsel yang menampilkan gambar Nicole bersama Luhan. Wajah
paman tiba-tiba berubah.
“Luhan.” Tukas paman
“Oh, paman mengenalnya?”
“Tidak. Pulanglah! Ibumu pasti sudah menunggu.” Usir paman,
tapi Nicole tidak pergi. Nicole tetap berdiri di sana. “Kau belum pergi juga?”
“Seberapa jauh paman mengenal Luhan? Dan bagaimana paman
mengenalnya?” Tanya Nicole
“Apa itu penting? Sudahlah. Lupakan dan pulanglah.” Usir
paman sekali lagi, tapi lagi-lagi Nicole tidak menghiraukannya. “Apa lagi???”
Tanya paman hampir gila menghadapi anak itu
“Itu sangat penting. Dia hidup sendirian di sini dan tak ada
yang mengenalnya. Akan sangat baik jika ia punya seseorang yang bisa ia datangi
saat akhir pekan.” Jawab Nicole. Paman menarik napas.
“Ini sangat menyebalkan tapi aku akan sedikit
menceritakannya. Tapi setelah ini, kau harus segera pulang.” Ujar paman. Nicole
mengangguk tanda setuju. “ Beberapa tahun lalu, aku bekerja pada ayahnya.
Ayahnya orang yang baik dan juga sangat malang. Ia dan istrinya mengalami
kecelakaan dan ku dengar uang asuransinya diambil oleh sahabatnya. Orang jahat
itu menggunakan uang asuransi tersebut untuk mendirikan perusahaan di luar
negeri dan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Ia meninggalkan Luhan di Hongkong
lalu kembali ke Korea. Ku dengar ia sudah menjadi direktur di perusahaan besar.
Dan menurut rumor yang kudengar, dialah yang merencanakan kecelakaan yang
menimpa keluarga Luhan.” Paman mengakhiri ceritanya.
“Jadi begitu? Baiklah, aku sudah berjanji akan pergi. Sampai
jumpa paman.” Ujar Nicole membungkuk dan pergi.
“Oh, calon menantu.” Paman memanggil Nicole lagi. “Aku baru
memerhatikan seragammu. Kau punya seragam yang sama dengan putraku. Ku dengar,
putra direktur gila dan jahat itu juga bersekolah di sana.” Nicole berhenti di
pintu mendengar bahwa putra pembunuh ayah Luhan bersekolah di sekolah yang sama
dengannya.
“Benarkah? Siapa nama putra paman?” Tanya Nicole pura-pura
tertarik
“Kyungsoo. Namanya Do Kyungsoo.” Jawab paman membuat Nicole
nyaris pingsan.
“Lalu, siapa nama putra pembunuh itu?” Tanya Nicole
“Haruskah aku memberitahumu juga?”
“Tentu saja. bagaimana jika orang itu tertarik padaku lalu
mengetahui bahwa aku adalah calon menantunya paman? Dia bisa mengadukan paman
pada ayahnya. Apa paman tidak takut?” Tanya Nicole. sebenarnya ia tak berharap
paman akan terpancing, tapi sepertinya paman benar-benar berharap Nicole akan
menjadi menantunya. Paman menjawab pertanyaannya.
“Ah, kau benar juga. Ku rasa Kyungsoo pernah mengatakannya
padaku. Kalau tak salah, namanya Suho.” Jawab paman membuat Nicole benar-benar
akan pingsan. Nicole segera pamit pulang. Ia berjalan dengan amat sangat lesu.
Semangatnya berjatuhan di sepanjang jalan menuju rumahnya.
Nicole semakin lesu melihat seseorang yang sedang bermain
catur dengan ibunya di teras rumah. Nicole menghampiri mereka lalu meletakkan
ayam di atas papan catur.
“Hey! Apa yang sudah kau lakukan? Aigo…anak ini.” Ibu
mengomel
“Aku sangat lapar. Jadi aku tidak memperhatikan apa pun.
Maafkan aku bu.” Jawab Nicole.
“Oh…anakku. Baiklah, ibu akan memasak untukmu.” Ujar ibu
kasihan melihat putrinya. Ibu segera masuk ke dapur.
“Kita harus bicara.” Nicole memberitahu Luhan. Ia tiba-tiba
menjadi kuat. Nicole pergi dari sana, Luhan mengikutinya. Nicole berhenti di
jalan yang berundak-undak lalu duduk di sana. Luhan duduk di sampingnya.
“Apa yang ingin kau bicarakan? Tak bisakah kita bicara di
rumah saja?” Tanya Luhan
“Ada rumor yang
mengatakan bahwa ayah Suho adalah penyebab kematian ayahmu.” Kata Nicole. Luhan
tidak langsung menanggapi pertanyaan itu. Luhan merenung, lama sekali.
“Jadi???” Tanya Luhan setelah perenungannya selesai
“Jadi……….. kumohon kau jangan menyeret Suho ke dalam masalah
ini. Kalian berteman kan?”
“Kau suka Suho ya?” Tanya Luhan
“Mungkin.”
“Bolehkah aku memberi saran?”
“Apa?”
“Nicole, sejauh yang ku ketahui, wanita selalu menggunakan
hatinya dengan benar sedang pria jarang sekali menggunakan hatinya. Jadi,
sebagai seorang wanita, kau harus menemukan pria yang menyerahkan hatinya
padamu. Dengan begitu, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu
selamanya, bukan malah membuatmu berusaha keras untuk membahagiakannya
selamanya.” Luhan menjelaskan
“Menurutmu, adakah pria yang mau melakukan hal itu untukku?”
“Ada. Pasti ada.” jawab luhan tersenyum. Nicole ikut
tersenyum. Senyumnya kemudian menghilang menyadari bahwa Luhan memakai seragam
sekolah.
“Kau memakai seragam tapi tidak ke sekolah?!” Teriak Nicole berubah
menjadi sangat galak.
“Apa????” Luhan terkejut dan baru menyadarinya juga.
^_^
Setelah berminggu-minggu mengejar Suho, akhirnya Nicole mendapat kesempatan untuk pulang bersama ketua kelasnya itu. Hari itu Suho tidak dijemput saat pulang sekolah, jadi Nicole menawarkan diri untuk menemani Suho. Sebenarnya ia punya maksud lain. Ia ingin tahu di mana rumah Suho. Menurut teman-teman sekolahnya, rumah Suho sangat besar dan megah. Mungkin tujuh kali lipat dari ukuran rumah Nicole. jadi Nicole ingin memastikannya sendiri.
“Em… Suho-ssi.” Tukas Nicole
“Ya.”
“Aku…..”
“Kau kenapa?”
“Tak ada apa-apa. aku hanya ingin menyebut namamu saja.” Jawab
Nicole. Suho tersenyum geli melihat gadis killer itu tiba-tiba berubah menjadi
sedikit konyol.
“Nicole-ssi.” Kata Suho
“Ya.”
“Aku hanya ingin menyebut namamu saja.” ujar Suho lalu
tertawa.
“Aish… kau ingin mati ya?” Kata Nicole menyikut rusuk Suho.
Suho terbungkuk-bungkuk memegang rusuknya, tampak kesakitan.
“Suho, kau baik-baik saja?”
“Oh, ini sakit sekali. Ku rasa aku akan mati.” Suho meringis
kesakitan. Nicole panic. Ia meraih tangan Suho lalu memapahnya. Suho tiba-tiba
menjerat leher Nicole dengan lengannya. “Tadi kau bilang apa? sekarang kaulah
yang akan mati!” Ujar Suho. Ia tertawa setelah sukses mempermainkan Nicole. Suho
melepaskan Nicole lalu mengacak-acak rambut gadis itu. mereka melanjutkan
perjalanan sambil terus bercanda.
^_^
Suho berangkat ke sekolah tanpa di antar. Ia ingin jalan kaki saja. Sejak keluar dari pintu rumahnya, Suho tak henti-hentinya saling berkirim pesan dengan Nicole. Ia berjalan sambil tersenyum-senyum sendiri tiap kali menerima pesan dari gadis itu. Tiba-tiba seseorang menyergapnya dari belakang. Ponselnya terlempar ke tempat sampah.
Tak jauh dari rumah suho, Nicole memasukkan ponselnya ke
dalam tasnya usai menerima pesan dari Suho yang berisi ‘Aku akan menunggumu di persimpangan jalan’. Tiba-tiba seseorang
juga menyergap Nicole dari belakang. Ia dimasukkan secara paksa ke dalam mobil
oleh empat orang pria.
^_^
Pria yang menculik Nicole menyeret gadis itu ke dalam sebuah gudang. Salah seorang pria menodongkan senjata api di kepala Nicole. Betapa terkejutnya ia melihat ibunya juga ada di sana. Ibunya terikat di kursi dan tampak acak-acakan. Sepertinya ibu memberikan perlawanan hebat saat mereka menculiknya. Orang yang berada tak jauh dari tempat duduk ibu juga tak kalah mengejutkan. Beberapa waktu lalu Nicole masih sempat saling berkirim pesan dengannya. Kondisinya tampak lebih buruk dari ibu. Selain acak-acakan, ia juga mendapat beberapa luka memar di wajahnya.
“Ketua, aku sudah membawa mereka semua.” Seseorang berbicara
melalui telepon. Tak lama kemudian muncullah beberapa orang lagi. Luhan juga
ada di sana, bersama dengan orang yang baru muncul tersebut. Luhan tampak
terkejut melihat Nicole, sedang Nicole tampak sangat marah melihat Luhan. Luhan
jarang masuk sekolah akhir-akhir ini, tapi Nicole tak pernah berharap mereka
akan bertemu hari ini, di tempat seperti ini.
“Nicole-ssi….” Ucap Luhan
“Kau…..” Geram Nicole
“Wah wah wah…. Sepertinya kalian saling kenal. Ah, ya,
kalian satu sekolah kan? Dan orang itu, kau juga mengenalnya kan?” Tanya pria
paruh baya yang datang bersama Luhan. Pria itu menunjuk Suho.
“Ketua, anak itu tidak membawa ponsel dan ia tidak mau
memberikan nomor telepon ayahnya. Dihajar sampai mati pun dia tidak akan
mengatakan apa pun.” Seorang pria melapor pada pria paruh baya tadi yang ternyata
ketua mereka.
“Kita tak perlu membunuhnya.” Kata ketua tersebut
“Apa???” Para anak buahnya terkejut mendengarnya.
“Bukan kita yang akan melakukannya.” Kata ketua. Ia berjalan
menghampiri Nicole. “Sekarang semua tergantung padamu. Siapa pun yang ingin kau
biarkan hidup, itu terserah padamu.” Lanjutnya menjejalkan pistol ke tangan gadis
itu. Luhan tak berani menatap Nicole.
“Kau! Ku pikir kita
teman. Tapi ternyata kau tidak berpikir begitu. Kau menghianati kami. Kai
bahkan masih sedikit lebih baik darimu, teman.” Ujar Nicole melemparkan tatapan
kebencian pada Luhan. Luhan tidak mengatakan apapun.
“Ku dengar ayahmu bekerja di perusahaan milik ayah pacarmu
ini. Di sana Ayahmu hanya seorang pegawai rendahan dan keluarganya hidup miskin
selama bertahun-tahun. Kau tak akan bisa mengubah nasibmu hanya dengan memacari
anak orang kaya busuk itu, karena ayah anak muda tampan ini sangat benci dengan
kemiskinan. Di masa lalu, ia bahkan tega membunuh seorang sahabatnya agar bisa
terbebas dari kemiskinan. Seorang anak kecil menjadi terlantar dan yatim piatu
akibat perbuatannya itu.” kata ketua mencoba memprovokasi Nicole. “Dan ku
peringatkan, kau tak mungkin bisa lari dari sini! Atau kalian bertiga akan
mati. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan ayahmu jika istri dan putri
kesayangannya ditemukan tewas akibat dari perbuatan bosnya?”
Nicole berpikir keras untuk membuat keputusan paling tepat.
Jika ia memilih melepaskan Suho, maka ibunya harus mati. Begitu pun sebaliknya.
Jika tak memilih salah satu, maka mereka bertiga yang akan mati. Dan ia tak
mungkin menang melawan orang-orang ini seorang diri.
Suho dan ibu Nicole terikat di kursi, masing-masing dijaga
ketat dan senjata tertodong di kepala mereka. Perlahan Nicole mengangkat
pistolnya kemudian mengarahkannya pada ibunya. Ibunya hanya bisa pasrah. Ia
menangis juga tersenyum melihat putri yang sudah dibesarkannya itu akan
membunuhnya. Setitik airmata menetes di pipi kiri Nicole.
“Eomma…..” Bibir Nicole bergerak namun tak mengeluarkan
suara. Ibunya tersenyum pedih dan mengangguk menguatkan hatinya. Tiba-tiba
Nicole mengubah sasarannya. Pistolnya kini mengarah pada teman favoritnya . Air mata Nicole mengalir semakin deras.
Akankah ia tega membunuh pria sebaik Suho? Suho yang sebelumnya sudah babak
belur tampak tak berdaya.
“Suho-yah….. maafkan aku….” Tukas Nicole lalu mengarahkan
pistol itu ke kepalanya sendiri.
“Nicole-ssi!!!!” Pekik Luhan
“Anakku!!!!” Ibunya ikut memekik. Nicole memejamkan mata,
bersiap menarik pelatuk. Suara-suara yang tak asing baginya berpusar di
kepalanya.
“Cingu-ya…..!!!!!” Suara Chen terdengar melengking di
telinganya.
“Noona!!!” Bahkan Sehun pun ikut memanggilnya. Sehun???
Nicole tiba-tiba ingat sesuatu. Hari ini adalah ulangtahun Sehun dan ia sudah
berjanji akan membuatkan sup rumput laut untuknya.
Seseorang menampar tangan Nicole hingga pistol di tangannya
terlempar. Saat membuka mata, Nicole mendapati tempat itu sudah kacau balau. Sekilas
Nicole melihat Baekhyun, Kyungsoo dan Chen memapah ibunya dan Suho pergi dari
sana. Lay, Chanyeol, Xiumin, Kai, Tao, kawan-kawan seperguruan Nicole serta
beberapa anak lainnya yang tidak dikenal oleh Nicole bertarung melawan para
anggota gangster, sedangkan Luhan tampak masih bingung harus memihak pada
siapa.
“Jangan coba-coba menyentuh Noona-ku!!!!” Teriak Sehun dari
balik punggung Nicole. sepertinya ia baru saja menendangi seseorang yang mencoba
menyerang Nicole dari belakang.
“Sehun-ah…..” Ujar Nicole terharu
“Kakak, kau boleh memujiku setelah kita pulang.” Ujar Sehun tersenyum.
Mereka berdua pun bertarung bersama-sama, saling membelakangi.
“Sehun-ah….” Tukas
Nicole di sela-sela pertarungan.
“Em…” Jawab Sehun
“Happy Birthday…” Lanjut Nicole
“Terima kasih…” Balas Sehun melepaskan pukulan ke rahang
lawannya.
“Aku mencintaimu.” Ujar Nicole menendang dada lawannya.
“Aku juga.” Jawab Sehun membanting lawannya. Nicole kemudian
mencari-cari keberadaan Luhan.
Karena ini bukan di Hongkong, para anggota gangster yang
kekurangan personil berhasil dilumpuhkan oleh kawan-kawan Nicole. Sayangnya,
kemenangan tersebut harus dibayar mahal karena Xiumin harus mendapatkan luka
yang parah di kaki kanannya.
^_^
“Paman, apa kau bukan manusia? Bagaiman mungkin kau melakukan hal semacam ini pada putrimu?” Tanya Luhan setelah semua teman-temannya pergi.
“Putriku? Putri apa? Aku tak punya anak perempuan. Kau
lupa?”
“Tidak. Kaulah yang lupa.” Jawab Luhan
“Aku?” Tanya sang ketua tak mengerti
“Delapan belas tahun lalu, bukankah sesuatu terjadi di rumah
paman?”
FLASHBACK...
Ibu menelepon luhan setelah Nicole membuat masalah untuk
yang kesekian kalinya. Luhan yang sebelumnya sudah berjanji akan jadi pendengar
yang baik bagi ibu menurut saja. ia bahkan mengajak ibu minum soju dan berjanji
kali ini ia akan mentraktir ibu. Awalnya ibu tidak mau, tapi setelah Luhan berjanji
bahwa ia akan minum susu saja, ibu akhirnya setuju. Ibu sepertinya sangat
mempercayai anak itu.
Seperti perjanjian yang sudah disepakati sebelumnya, ibu
minum soju dan Luhan minum susu. Mereka mengobrol seperti pasangan ibu dan anak
sungguhan. Akrab sekali. Nicole yang tak sengaja melihat kedekatan mereka jadi
sedikit cemburu. Ia pun mengabaikan ibu dan Luhan dan pergi begitu saja. Ibu sepertinya
sangat tertekan karena ia minum banyak sekali. Ia sampai mabuk berat. Dalam keadaan
mabuk, ibu kemudian meluapkan seluruh isi hatinya.
“Gadis tengik itu, dia tak pernah mendengarkanku. Entah
dengan cara apa lagi aku harus mendidik anak itu. Aku sudah menggunakan cara
halus hingga cara kasar. Tapi semua sia-sia saja. hatinya mungkin sekeras baja,
persis ibunya.” Cerocos ibu tanpa sadar. ‘persis
ibunya? Apa di masa lalu bibi juga sebandel Nicole?’ batin Luhan, ia jadi
sedikit geli memikirkannya. Ibu kemudian melanjutkan ocehannya. “aku sudah
mengingatkan wanita bodoh itu untuk tidak menikahi pria gangster menyebalkan
itu. Aku sudah mengingatkannya berkali-kali. Tapi wanita itu tak mau
mendengarkanku. Dia malah melarikan diri bersama pria jahat itu. Mereka menikah
dan punya anak. Setelah punya anak dia baru menyesalinya. Dia dan anaknya
selalu berada di bawah bayang-bayang suaminya dan hidup di bawah berbagai
ancaman. Kemudian ia kembali mengandung, anak keduanya. Dan sialnya, dia malah
datang mencariku tanpa sepengetahuan suaminya. Suaminya bahkan tidak tahu bahwa
dia sedang hamil. Kupikir wanita itu sudah sadar dan ingin kembali pada
keluarganya. Tapi ternyata tidak. Dia hanya tinggal dengan kami hingga anaknya
lahir. Bukan hanya itu, dia bahkan meninggalkan bayinya pada kami. Setahuku,
dia tak kekurangan uang sama sekali, tapi mengapa ia malah meninggalkan anak
itu untuk hidup dalam kekurangan bersamaku? Aku tak pernah mengerti apa yang
ada di pikiran wanita itu. Aku tak punya pilihan lain selain menyetujui
permintaan wanita itu. Aku tak mungkin menolak anak itu karena aku memang belum
punya anak setelah menikah sekian lama. Yang terpenting bukanlah seberapa
banyak uang yang bisa kuberikan padanya, tapi bagaimana anak itu bisa tumbuh
besar tanpa bayang-bayang reputasi keluarganya. Hidup bersamaku akan menjauhkan
anak itu dari ancaman. Meski sangat menyusahkan, tapi kami sangat menyayangi
anak itu. Aku harus terus menjaganya agar nasibnya tak sama seperti ibunya.”
“Lalu, di mana wanita itu sekarang?” Tanya Luhan yang
sebenarnya bermaksud basa-basi
“Entahlah. Terakhir ku dengar dia tinggal di hongkong.
Kuharap dia tak akan pernah datang lagi.” Jawab Ibu
“Memangnya siapa wanita itu? Apa dia teman baik bibi?”
“Dia adikku. Adikku satu-satunya. Adikku yang bodoh.
Bagaimana mungkin dia bisa hidup seperti itu? Aku takkan mungkin sanggup
terpisah dengan anakku selama itu.” Ujar ibu menutup pidatonya. Ibu pun tertidur.
Luhan memapah ibu pulang. Untunglah tempat minum yang mereka datangi tak begitu
jauh.
^_^
Luhan berjalan pulang ke apartemennya sambil melemaskan otot-ototnya yang bekerja ekstra keras usai mengantar ibu pulang dengan selamat. Di perjalanan ia menemukan Nicole sedang duduk di bangku taman. Sendirian. Luhan menghampirinya.
“Ini sudah larut malam, kenapa kau belum pulang?” Tanya Luhan.
Nicole tidak menjawab. “Ibumu sudah tidur. Kau tak perlu takut.”
“Darimana kau tahu?” Tanya Nicole
“Ini sudah sangat larut. Para orangtua pasti sudah tidur
sekarang.” Luhan berdalih
“Kau bisa sedekat itu dengan ibuku dalam waktu singkat.
Sedangkan aku, bahkan setelah belasan tahun aku masih saja selalu bertarung
dengannya. Entah bagaimana, dari dalam hatiku selalu timbul perasaan untuk
melawan ibuku. Aku tak pernah mendengarkannya. Aku mungkin anak yang paling
seenaknya di bumi ini. Aku bahkan tidak
mewarisi sedikit pun sifat-sifat ibu dan ayahku.” Tutur Nicole. tiba-tiba Luhan
teringat pada kalimat ibu Nicole tadi.
‘gadis tengik itu,
dia tak pernah mendengarkanku ‘,
‘hatinya mungkin
sekeras baja, persis ibunya’,
‘Meski sangat menyusahkan, tapi kami sangat menyayangi anak
itu. Aku harus terus menjaganya agar nasibnya tak sama seperti ibunya’
“mungkinkah………..yang
dimaksud bibi itu………..nicole???” Gumam Luhan dalam hatinya. “Nicole,
pulanglah. Ibumu mengkhawatirkanmu.” Ujar Luhan
“Ya. Aku akan pulang.”
“Mau ku antar?” Luhan menawarkan diri
“Tak perlu. Sampai jumpa.” Ucap Nicole. Ia pun berlalu dari
tempat itu. Luhan menatap punggung Nicole yang menjauh. Tiba-tiba ia teringat
pada sahabatnya, Kris. ia merasa bahwa Nicole itu terkadang sama dinginnya
dengan Kris. Luhan lalu menelepon Kris untuk membicarakan sesuatu yang penting.
Tapi yang menerima telepon tersebut ternyata ibunya Kris. Luhan kemudian tanpa
sengaja bercerita tentang keluarga Nicole yang tak disangka justru menarik
perhatian ibu Kris.
“Berapa usia gadis itu?” Tanya ibu Kris di seberang sana
“Dia kelas tiga SMA. Jadi kira-kira usianya sekitar tujuh belas
tahun.” Jawab Luhan
“Apa dia cantik?” Goda ibu Kris
“Bukankah semua anak perempuan di dunia ini pasti cantik? Kalau
dia tampan, itu bukan anak perempuan namanya.” Canda Luhan membuat ibu Kris tertawa.
Luhan pulang dengan perasaan bahagia usai mengobrol dengan
ibu Kris meski hanya lewat telepon. Ia naik ke tempat tidurnya tanpa melepas
sepatunya. Ia baru saja mencoba tidur ketika sesuatu terasa mengganggunya.
Gangguan itu datang dari foto yang terpajang di meja belajarnya. Itu foto
keluarganya. Di sana ada Luhan, Kris, ibu Kris dan ayahnya. Ia memandangi foto
itu lagi dan lagi. Kemudian ia sadar akan sesuatu. Ayah Kris ternyata sangat
mirip dengan Nicole. Kata-kata ibu Nicole di rumah minum tadi kembali
terngiang-ngiang di kepalanya. ‘Hongkong’, ‘anak kedua’, ‘adikku’ dan
‘gangster’. Ia pun mencoba memastikan dugaannya dengan menelepon ibunya Kris lagi.
Walau dengan sedikit memaksa, akhirnya Luhan mendapat jawaban memuaskan. Kris
ternyata punya adik perempuan, dan namanya Nicole. Usianya sekarang 17 tahun. Namun ibu Kris memohon padanya agar
merahasiakan hal ini pada ayah Kris. Nicole harus tetap hidup seperti ini,
sampai kapan pun.
FLASHBACK END
“Omong kosong macam apa itu?” Pak ketua tak percaya
“Itu bukan omong kosong. Itulah kenyataannya.” Jawab Luhan. Luhan
pun pergi begitu saja.
“Kau mau ke mana?” Tanya ketua
“Entahlah.” Jawab Luhan. Ketua merenungkan cerita Luhan. Apa
benar jika selama ini istrinya punya rahasia sebesar itu sekian lama? 18 tahun
lalu, istrinya memang meninggalkan rumah. tapi ia tidak ke Korea. Ia meminta
seorang anak buahnya untuk membeli tiket pesawat ke Amerika. Saat itu tuan ketua
memang tak pernah mencari istrinya karena suasana sedang kurang baik. Ketua saat
itu berpikiran bahwa berada di luar negeri selama beberapa bulan memang lebih
baik bagi istrinya dan anak laki-lakinya yang masih berusia dua tahun. Ketua sama
sekali tidak memiliki kecurigaan sedikit pun terhadap istrinya. “Jemput Kris dan
ibunya! Sekarang!!!!” Perintah ketua. Ia memerintahkan anak buahnya untuk membawa
istri dan anaknya ke Korea. Mendengar ini, Luhan pun kembali.
“Jangan mengusik hidup Nicole jika paman masih hidup seperti
ini. Bibi pasti punya alasannya sendiri sehingga ia tidak mengatakan apa pun
pada paman. Nicole hidup dengan sangat baik. Dia akan menjadi seseorang yang
besar di masa depan. Dan jika saat itu tiba, ia membutuhkan ayah yang bisa
membuatnya merasa bangga.” Ujar Luhan kemudian pergi lagi.
^_^
“Aku sangat berterima kasih karena kalian telah menyelamatkan kami. Aku tahu kau melakukannya untuk Suho, tapi aku tetap berterima kasih. Tanpa kalian, aku mungkin sudah bunuh diri.” Ujar Nicole saat ia bertemu Kai di sekolah.
“Sebenarnya aku tidak tahu bahwa Suho juga ada di sana. Lay
dan Chanyeol melihat secara langsung saat kau diculik, tapi mereka gagal
mengejarmu. Jadi mereka menghubungiku dan juga anak-anak lainnya.”
FLASHBACK...
Lay dan Chanyeol yang kebetulan lewat melihat kejadian penculikan tersebut. Mereka berusaha mengejar mobil yang
membawa Nicole namun mereka gagal.
Chanyeol menelepon Suho, tapi Suho tak
menjawab telepon. Kemudian Lay menelepon Luhan dan hasilnya sama dengan
Chanyeol, Luhan juga tak menjawab teleponnya. Mereka kemudian menelepon Kai.
Kai yang belum tiba di sekolah berbalik arah menuju sekolah lama Nicole.
Beruntung, saat ia tiba Sehun belum masuk ke sekolah.
FLASHBACK END
“Lalu kenapa kau akhirnya setuju untuk menyelamatkanku? Bukankah kau membenciku? Sejak hari pertamaku di sekolah, kau tak pernah menyukaiku.”
“Itu karena aku berhutang maaf padamu.” Jawab Kai “karena…….
aku adalah Kim Jongin, temanmu dari Myeongdong.” Lanjut Kai.
Sejak hari itu,
Nicole dan Kai jadi teman baik….. sepertinya Nicole berhasil mengubah image menakutkan
yang ia ciptakan di sekolah lamanya menjadi seseorang yang lebih manis dan
lebih terbuka. Baru kali ini ia
menyadari bahwa ada baiknya juga jika ia tak bersama Sehun sepanjang waktu. Ia
sangat berterima kasih pada adiknya yang menyebabkan ia dipindahkan ke sekolah
tersebut.
Sejak peristiwa penculikan itu, Kai dan teman-temannya
setiap hari mengantar Nicole pulang sekolah secara bergiliran. Kai yang paling
pertama melakukan pengawalan istimewa tersebut. Selanjutnya secara
berturut-turut dilakukan oleh Chanyeol, Lay dan Tao. Suho dan Luhan mendapat
giliran paling terakhir karena Suho dijemput pulang setiap hari, sedangkan
Luhan tak pernah masuk sekolah selama
beberapa hari belakangan ini. Sementara Xiumin masih dirawat di rumah
sakit.
^_^
Setelah dua hari dirawat, Nicole dan kawan-kawannya menjenguk Xiumin di rumah sakit. Satu-satunya orang yang tidak ada saat itu hanya Luhan. Meski pun ia kesal pada Luhan, tapi sebenarnya Nicole sangat berharap Luhan akan datang menemui Xiumin. Bagaimana pun juga, di masa lalu Luhan lumayan dekat dengan flower boy yang satu ini.
“Halo teman. Bagaimana kakimu?” Tanya Lay yang selalu lebih
perhatian kepada temannya lebih dari yang lainnya. Ia mendekati kaki Xiumin yang
terbalut gips tepal.
“Aku merasa lebih baik.” Jawab Xiumin tersenyum melihat
Nicole.
“Nicole-ssi, sepertinya pria ini akan segera sembuh jika kau
menjenguknya setiap hari.” Celetuk Tao.
Teman-temannya kemudian bergantian menggoda Nicole. Bahkan Baekhyun pun
ikut-ikutan menggodanya. Mereka sangat berisik sehingga suster berkali-kali
masuk untuk menyuruh mereka diam dan segera pergi.
“Em… Nicole.” Tukas Xiumin saat teman-temannya akan pergi. “Bolehkah
aku meminta untuk ditemani olehmu? Sebentar saja. aku ingin mengatakan sesuatu.
Aku akan menyuruh sopirku untuk mengantarmu pulang setelahnya.” Lanjut Xiumin.
Nicole setuju dan menyuruh teman-temannya yang lain untuk pulang lebih dulu.
“Ternyata kau lebih manja dari perkiraanku.” Ledek Nicole
mengoles selembar roti dengan selai kacang. Xiumin tersenyum.
“Tadi Luhan ada di sini. Dia duduk di tempat yang kau duduki
sekarang. Dia juga mengupaskan buah untukku. Dia selalu baik padaku.” Ujar Xiumin.
Nicole menghentikan pekerjaannya.
FLASHBACK...
Luhan datang menjenguk Xiumin seorang diri. Ia tampak tak
berubah sama sekali, hanya saja tak bisa dipungkiri bahwa ia merasa sangat
bersalah pada Xiumin sehingga ia jarang sekali memandang wajah Xiumin saat
mereka bicara. Luhan terus mengupas buah dan menyuapkannya untuk Xiumin. Dalam
hati ia tak henti-hentinya minta maaf karena telah menimbulkan banyak masalah
bagi teman-temannya.
“Kau ingin mengatakan
sesuatu?” Tanya Xiumin yang menyadari Luhan sedari tadi hanya sibuk memberinya
makan tanpa mengatakan apa pun.
“Jika aku mengatakannya, akankah kau mempercayaiku?” Luhan balik
bertanya
“Itu tergantung pada apa yang akan kau katakan.” Jawab Xiumin
“Kau percaya jika aku mengatakan bahwa bukan aku yang
mengirim orang untuk menculik Nicole, ibunya dan juga Suho?”
Xiumin diam, tak tahu harus menjawab apa. semua yang terjadi
rasanya terlalu memberatkan posisi Luhan. Jika saja Luhan tak berada di tempat
kejadian dan tidak berada di pihak para gangster itu, kondisinya mungkin akan
berbeda.
“Sudahlah, lupakan saja. Bagiku, kau percaya atau tidak,
asalkan kau masih ingin bertemu dan bicara denganku, itu sudah lebih dari
cukup. Dengan begitu aku akan merasa memiliki seseorang untuk menjadi temanku.”
Ujar Luhan sedih.
FLASHBACK END
“Xiuminnie, ku rasa aku harus pulang sekarang. Kau tak perlu menyuruh sopirmu untuk mengantarku pulang. Aku akan menelepon Sehun. Jadi kau tak perlu menghawatirkanku. Cepatlah sembuh. Oke.” Ujar Nicole lalu pergi begitu saja. Nicole berjalan tergesa-gesa sambil menatap layar ponselnya. Ia sedang berusaha melacak keberadaan Luhan dengan ponselnya. Dan akhirnya ia menemukannya di tepi Sungai Han.
“Ku kira kau tak ingin bicara denganku lagi.” Ujar Luhan menatap
lurus ke sungai saat Nicole datang.
“Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa wanita selalu
menggunakan hatinya dengan benar? Jadi aku ingin menggunakan hatiku untuk
memaafkanmu.” Kata Nicole. Luhan sangat tersentuh mendengar kalimat Nicole
hingga rasanya ia ingin menangis. Ia sangat terharu karena Nicole ternyata mau
mendengarkannya.
“Wajahmu tampak baby faced, tapi ternyata kau seorang
gangster. Apa ada hal lainnya yang tidak ku ketahui tentangmu?” Tanya Nicole
bermaksud bercanda.
“Ya.”
“Apa?” Nicole penasaran
“Aku…. Dua tahun lebih tua darimu. Jadi, tidakkah kau merasa
bahwa kau seharusnya memanggilku Oppa?” Goda Luhan
“What???? Dengar, aku sangat senang karena Sehun memanggilku
Noona, tapi aku tak pernah memikirkan bahwa suatu hari nanti aku akan memanggil
seseorang dengan Oppa. Itu menggelikan. Aku sangat bersyukur karena ibuku tak
pernah melahirkan seorang Oppa untukku.” Cerocos Nicole
“Tapi kau memang
punya. Meski pun kau meronta-ronta untuk menolaknya, kau tetap punya seorang Oppa.
Dan dia juga seorang gangster sepertiku.” Luhan berkata dalam hati
“Ada lagi yang kau sembunyikan dariku selain status dan
usiamu?” Tanya Nicole. Luhan tidak menjawabnya dan malah mengajaknya pergi. “Kau
tidak menjawabku. Bagiku, itu berarti masih ada.” Lanjut Nicole.
“Ya. memang masih ada
tapi kau mungkin sebaiknya tak perlu mengetahuinya. Hidup miskin akan lebih
baik daripada hidup sebagai bagian dari kami. Andai aku bisa kembali ke 19
tahun yang lalu, aku ingin bisa hidup seperti dirimu.” Luhan menjawabnya dalam hati.
“Ngomong-ngomong, setelah lulus nanti, apa rencanamu
selanjutnya?” Tanya Luhan
“Aku akan mendaftar akademi kepolisian.” Jawab Nicole
mantap. Luhan memandang tak percaya. “Kenapa?” Tanya Nicole melihat ekspresi Luhan
“Kau ingin menjadi polisi?”
“Ya. Kenapa?”
“Baiklah. Apa setelah menjadi polisi nanti, kau akan
menangkapku?” Canda Luhan
“Ya. Aku akan menangkapmu dan memenjarakanmu seumur hidup.”
Nicole balas bercanda
“Aku kan bukan warga Negara Korea. Setahuku, polisi tak
berhak menangkap warga Negara asing seenaknya.” Ledek Luhan
“Kau meremehkanku? Baiklah. Lihat saja nanti. Jika aku berhasil menjadi Interpol, aku akan
mengejarmu bahkan hingga ke ujung dunia.” Ujar Nicole
“Tadi kau tidak bilang akan jadi Interpol. Kau curang.”
“Aku baru saja memikirkannya. Itu bukan salahku. Salahkan
saja dirimu yang mengingatkanku soal kewarganegaraanmu.” Ujar Nicole
menjulurkan lidah. Luhan menyikutnya namun Nicole menangkisnya dengan sangat
cepat. Mereka pun tertawa.
^_^
“Jadi kau menyukaiku
atau tidak?” Nicole bertanya pada Suho. mungkin ini lebih mirip interogasi
daripada bertanya.
“Itu….aku….” Ujar Suho terbata-bata
“Sepertinya aku sudah salah paham padamu. Kau sama sekali
tidak suka padaku.” Kata Nicole menyimpulkan
“Nicole aku……”
“Kau tak perlu minta maaf. Bukankah sudah kubilang wajahku
ini tebal?” Kata Nicole berusaha tertawa. Nicole kembali ke kelas untuk
mengikuti kelas malam.
Nicole tidak langsung pulang usai kelas malam. Saat
teman-temannya mengajaknya pulang, ia hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah
kelas kosong, ia pindah ke tempat yang biasa diduduki Suho lalu menyenderkan
kepala ke meja. Ia menangis. Luhan yang sedari tadi ternyata belum pulang melihatnya
dari pintu kelas.
Setelah puas dan mungkin kehabisan air mata, Nicole
merapikan kembali wajahnya dan pulang. Luhan yang sedari tadi berdiri di pintu
langsung kabur dan bersembunyi di kelas sebelah. Ia keluar setelah yakin bahwa
Nicole sudah pergi. Luhan berjalan cepat-cepat untuk mengejar Nicole, tapi ia tidak
menemukannya.
^_^
Luhan berjalan pelan sepulang sekolah keesokan harinya. Beberapa meter di depannya, ada Nicole yang berjalan dengan malas. Sedangkan di belakangnya ada Suho yang berjalan sambil menulis di ponselnya. Jika Nicole berhenti berjalan, maka Suho dan Luhan ikut berhenti. Ketika Nicole kembali melangkah, Suho dan Luhan pun ikut. Mereka melewati rumah Suho tapi Suho malah mengabaikan rumahnya dan terus mengikuti Luhan dan Nicole. Mereka akhirnya berhenti setelah tiba di depan rumah Nicole.
“Terima kasih karena telah mengantarku pulang. Sebenarnya
kalian tak perlu melakukan ini. Tapi aku tetap berterima kasih.” Ujar Nicole mengusir
kedua pria itu secara tidak langsung. Luhan dan Suho tak bergeming. “Apa lagi
yang kalian tunggu? Ayo pergi!” Kali ini Nicole benar-benar mengusir mereka.
“Aku ingin bicara dengan ibu.” Ujar Luhan
“Ibu???” Tanya Nicole
“Ibumu.” Jawab Luhan menegaskan. Nicole mengangguk-angguk
pertanda mengerti.
“Dan kau?” Nicole beralih ke Suho
“Aku ingin bicara dengan Luhan.” Jawab Suho. Kali ini Nicole
mengernyit. ‘Kenapa harus mengikuti sampai
ke rumahku? Mereka kan bisa bicara di sekolah?’ Pikir Nicole.
“APA YANG KAU LAKUKAN DI RUMAHKU? BUKANKAH SUDAH KU KATAKAN
PADAMU UNTUK JANGAN PERNAH DATANG LAGI??! PERGI! PERGI!” Terdengar suara ibu
dari dalam rumah.
“Sepertinya ibuku
mengetahui kedatangan kalian. Ayo cepat pergi!” Usir Nicole. Kedua anak
itu akhirnya pergi dari situ. Detik berikutnya seorang wanita berlari keluar
diikuti oleh ibu Nicole yang mengejarnya dengan sapu. Wanita itu terlihat panik.
“Eonni, dengarkan aku dulu.” Ujar wanita yang dikejar tadi
“Eomma??? Ada apa ini?” Tanya Nicole bingung. Wanita tadi
memandang Nicole, ia tersenyum.
“Oh, kau sudah pulang. Masuklah. Ganti pakaianmu sebelum
makan. Ibu harus menyelesaikan urusan dengan wanita ini.” Ujar ibu
“Bibi, sebaiknya bibi lari secepatnya. Ibuku sering memukul
orang dengan sapu saat ia sedang marah.” Nicole memperingatkan wanita tadi.
Luhan dan suho mengintip dari balik mobil milik seorang
tetangga.
“Tadi kau bilang ingin bicara denganku. Apa yang ingin kau
bicarakan?” Tanya Luhan saat mereka di perjalanan pulang ke rumah
masing-masing.
“Aku….ingin minta maaf padamu atas semua yang telah
dilakukan ayahku terhadapmu di masa lalu. Maukah kau memaafkan kami?” Tanya Suho
penuh harap. Luhan tidak langsung menjawab. Mereka kemudian saling diam, lama
sekali.
“Aku sudah memaafkanmu. Lagi pula, aku juga bersalah padamu.
Jadi aku juga ingin minta maaf padamu, teman.” Ujar Luhan saat mereka tiba di
depan rumah Suho. Mereka saling memeluk pertanda bendera perdamaian telah
dikibarkan.
^_^
“Bibi, apa yang bibi lakukan di rumah Nicole?” Tanya Luhan menyelidiki kejadian kemarin saat ia dan Suho mengantar Nicole pulang.
“Entahlah. Aku tidak menyadari apa yang ku lakukan. Tiba-tiba
saja aku ada di sana.” Jawab ibunya Kris, wanita yang kemarin dikejar oleh ibu.
“Sebaiknya bibi jangan pernah datang lagi.” Luhan
memperingatkan
“Apa nicole-ku sering dipukul dengan sapu?” Tanya ibu Kris penasaran
“Tidak.” Jawab Luhan tapi sepertinya ibu Kris tidak percaya.
“Tapi Nicole sendiri yang mengatakan bahwa ibunya, ah tidak,
bibinya itu sering memukul seseorang dengan sapu saat ia marah.” Kata ibu Kris
“Itu memang benar. Tapi Nicole tak pernah dipukul. Gadis itu
bisa berlari seperti kuda sehingga ibunya takkan bisa menangkapnya. Bibi tak
perlu mengkhawatirkannya. Khawatirkan saja dirimu dan jangan ke sana lagi.
Pulanglah ke Hongkong. Jika diperlukan, kau tak usah memberitahu paman mengenai
kepulanganmu.”
“Kau mengusirku?”
“Tidak.” Sangkal Luhan
^_^
Luhan mengunjungi rumah Nicole lagi. Di sana ada ibu yang sedang menyapu halaman. Luhan tidak masuk dan hanya berdiri mematung di pintu depan.
“Bibi, aku datang lagi. Apa bibi punya sesuatu untuk
diceritakan padaku?” Luhan bicara sepelan mungkin sehingga tak akan ada yang
mendengarnya. Tiba-tiba ibu menoleh ke arah pintu. Ia tampak seperti
mencari-cari seseorang. Ia kemudian menggeleng melihat tak ada siapa pun di
sana. Luhan bersembunyi di balik tembok, memandangi ibu secara diam-diam. Betapa
terkejutnya ia karena saat ia berbalik hendak pergi, Sehun ada di situ, berdiri
tepat di depannya. Sehun melongok ke halaman dan melihat ibu yang kembali
menyapu halaman.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Sehun curiga
“Itu… aku…” Jawab Luhan tergagap
“Kau tidak tertarik pada ibuku kan? Dengar, ibuku sudah
hampir lima puluh tahun dan ayahku masih hidup. Jadi aku takkan membiarkanmu
menggoda ibuku.” Ujar Sehun serius
“Bukan begitu. Aku ke sini hanya…..” Kata Luhan membuat
sehun tergelak-gelak. Sepertinya Sehun berhasil mempermainkan Luhan dengan tampang
seriusnya tadi.
“Kenapa kau tidak masuk dan malah bersembunyi seperti
pencuri?” Tanya Sehun. Luhan tidak menjawab. “Ah, aku tahu. Kau takut ibu akan
memukulmu dengan sapu kan? Tapi sebenarnya kau memang pantas untuk dipukul. Ayo masuk. Aku ingin melihatmu
dipukul dengan sapu” Lanjut Sehun menyeret Luhan masuk. Luhan menurut saja. Saat
melihat kedatangan Luhan, ibu tampak agak menakutkan. Luhan sangat berharap ibu
benar-benar akan memukulnya saat ini. Dipukul dengan sapu akan lebih
menyenangkan dibanding menerima tatapan seperti itu dari ibu.
“Anak nakal. Apa yang kau lakukan di sini huh?!” Bentak ibu
lalu benar-benar memukulnya dengan sapu. Betapa terkejutnya ibu karena Luhan diam
saja. Biasanya, Nicole atau Sehun akan lari jika ibu akan memukulnya. Ibu
berhenti memukulnya dan hendak meninggalkannya, tapi langkahnya terhenti
mendengar Luhan bicara.
“Bibi, maafkan aku.” Ujar Luhan. Ibu tidak berbalik.
Sepertinya ibu menangis.
“Sehun-ah, cepat ganti baju dan makan.” Kata ibu lalu masuk
ke dalam rumah.
^_^
“Aku ingin tanya.” Celetuk Xiumin saat mereka semua termasuk Nicole dan tiga serangkai sedang istirahat di kantin sekolah minggu berikutnya.
“Apa?” Tanya Nicole meminum susu yang diberikan oleh Lay
“Waktu itu…. kenapa kau melempar Chanyeol dengan bola
baseball?” Tanya Xiumin membuat Nicole tersedak. Semua teman-temannya sontak
menoleh padanya. Menunggu penjelasan.
“Itu….” Jawab Nicole terbata-bata
“Jadi kau yang melakukannya?” Tanya Chanyeol. Ternyata
selama ini Chanyeol tidak tahu.
“Itu salahmu sendiri. Aku melihatmu menempelkan secarik
kertas di punggung Chen yang menyebabkan ia ditertawai sepanjang hari.” Jawab
Nicole tak mau kalah
“Benarkah? Apa secarik kertas bisa menjadi selucu itu?”
Tanya Lay bingung
FLASHBACK...
Chanyeol berjalan di belakang Chen saat mereka melewati
gerbang sekolah. Nicole yang sedang memandang keluar jendela kelas melihatnya. Chanyeol kemudian menepuk
punggung Chen dan merangkulnya, berpura-pura ramah pada anak lugu itu. Namun anehnya,
sepanjang jalan anak-anak malah tertawa melihat Chen. Setibanya di kelas,
Nicole langsung menyeret Chen dan melihat ke punggungnya. Di situ tertempel
secarik kertas bertuliskan ‘saya orang
gila’. Nicole geram dan langsung mencari Chanyeol.
FLASHBACK END
“Chanyeol menempelkan kertasnya tanpa sepengetahuan Chen, jadi aku pun melempar bola tanpa sepengtahuan Chanyeol. Cukup adil kan?” Jelas Nicole
“Setuju!!!!” Teriak Xiumin penuh semangat. Semua mata kini
beralih padanya. Dan mereka pun tertawa….
>>>>>THE END<<<<<