Halaman

Selasa, 12 November 2013

EXO FANFICTION|THE GANGSTER CLASSMATE

Cast     : EXO & Nicole
Genre `: Friendship
Author  : Sarni_Sky

“Halo. Aku Nicole.” Sapa Nicole membungkuk di depan teman-teman barunya. Dan cerita pun dimulai…..
Nicole merupakan seorang murid baru di sebuah SMA elit. Ia dipindahkan karena ibunya tak ingin ia berada satu sekolah dengan adiknya. Semasa SMP, ia terus membuat masalah sepanjang tahun. Ia dan adiknya yang lebih muda dua tahun darinya adalah Partner In Crime. Awalnya, Sehun (adik Nicole) yang akan dimasukkan ke sekolah baru Nicole, tapi Sehun bersikeras bahwa ia tak akan masuk SMA selain sekolah lama Nicole. Alasan sebenarnya adalah gadis yang disukai Sehun ternyata akan masuk ke sekolah itu. Ibu akhirnya mengabulkan permintaan Sehun dan memutuskan Nicole harus dipindahkan.  Ibu mereka khawatir sekolah SMA akan kacau balau lagi jika kedua kakak beradik itu terus berdekatan.

^_^

Nicole berjalan di dalam laboratorium biologi, mencari tempat untuk duduk. Di belakangnya ada Kai yang mengikutinya sambil bersiul. Kai tiba-tiba menyenggolnya dengan sengaja hingga Nicole jatuh tersungkur. Mungkin Kai sedang melakukan penyambutan bagi Nicole sebagai teman sekelas barunya, tapi Nicole ternyata jadi kesal.
“Hey, apa kau tidak melihat? Di depanmu ada orang.” Kata Nicole bangkit dengan cepat
“Wooooo……” Teriak kawan-kawan sekelasnya serempak
“Benarkah? Ku pikir yang sejak tadi berada di depanku itu tempat sampah.” Ujar Kai menyebalkan.
“Hei! Kau pikir karena aku miskin, maka aku adalah sampah, seorang pecundang dan takut padamu??? Sayang sekali aku tidak begitu. Mulai sekarang, sebaiknya pakai matamu dengan benar!” ujar Nicole mendorong Kai  ke meja. Lengan Kai bertumpu di atas meja. Nicole kemudian menancapkan pisau praktikum tepat di lengan seragam Kai. Nicole menyeringai, wajahnya jadi agak menyeramkan. Teman-teman Kai hanya ternganga tak percaya melihat pemandangan ini. Tak ada satu murid pun yang pernah melawan Kai sebelumnya.
Nicole mengambil tempat di pojok ruangan. Di sana ada tiga anak lain yang hanya menunduk dan sibuk dengan urusannya masing-masing.
“Kalian bertiga……” Ucap Nicole duduk di hadapan Kyungsoo, Baekhyun dan Chen sambil melipat lengannya. Ketiga anak lugu itu memandang Nicole.
“Kami kenapa???”  Baekhyun memberanikan diri bertanya.
“Kalian bertiga tampak seperti pecundang.” Jawab Nicole menatap mereka bertiga secara bergantian.
“Ya. Kami memang pecundang.” Ujar  Kyungsoo lalu kembali membaca prosedur praktikumnya.
“Mau berteman denganku?” Tanya Nicole tersenyum. Ketiga anak itu sontak mengangkat wajahnya, memandang Nicole dengan tatapan tak percaya.  “Kalian mau berteman denganku tidak???” Nicole mengulang pertanyaannya. Ketiga anak itu mengangguk. Mungkin karena takut pada Nicole. haha…  

^_^

Nicole pulang sekolah bersama Baekhyun. Sepanjang jalan, Nicole tak henti-hentinya mengusili Baekhyun. Entah itu menarik rambut Baekhyun dari belakang, atau menyelipkan rumput ke kerah seragam Baekhyun. Baekhyun yang sudah terbiasa dengan kejahilan semacam itu tidak mempedulikannya. Baekhyun hanya menampilkan senyum perdamaian. Tiba-tiba Baekhyun menghentikan langkahnya tidak jauh dari sebuah toko kue di persimpangan jalan.
Seorang pria paruh baya berjalan cepat ke tempat Baekhyun dan Nicole berdiri. Wajahnya terlihat marah. Nicole bertanya apakah Baekhyun mengenal pria itu. Baekhyun mengatakan bahwa pria itu adalah ayahnya dan ia pasti sangat marah karena Baekhyun tidak mengantarkan pesanan kue pagi tadi. Baekhyun ingin lari tapi Nicole menangkap lengannya. Ayah Baekhyun mendekat dan akan memukul anak itu.
“Hey, paman! Apa kau selalu memukuli anak-anak seperti ini?” Tanya Nicole menangkap tangan ayah Baekhyun yang hendak memukul anaknya
“Hey, siapa kau???” Ayah Baekhyun balik bertanya
“Aku teman Baekhyun. Paman, apa kau ini ayahnya?”
“Ya. Dan mengapa kau tak bicara secara formal padaku, anak kurang ajar?” Bentak ayah Baekhyun
“Haruskah aku bicara formal pada orang yang menyebut orang lain ‘anak kurang ajar’? Ku rasa paman tidak lebih sopan dariku. Sangat mengherankan paman bisa punya anak seperti Baekhyun.” Ujar Nicole
“Ya. Memang sangat mengherankan bagaimana aku bisa punya anak tak berguna seperti dia.”
“Anak tak berguna? Paman pikir paman ini ayah yang berguna? Lihat diri paman.  Sudah berapa lama paman hanya tinggal dan menyuruh Baekhyun ke sana ke mari untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggungjawab paman? Dan sudah berapa lama paman memukulnya seperti ini? Itukah gunanya paman sebagai seorang ayah? Apakah paman tahu apa akibatnya jika selalu menyakiti anak seperti itu? Tahukah paman jika paman selama ini sudah membuatnya menjadi anak yang terlalu penurut bahkan penakut? Dia selalu merasa bahwa dirinya sungguh pecundang dan dia tak tidak punya banyak teman. Dia dikucilkan, dan anak-anak di sekolah bertingkah sama persis seperti paman. Baekhyun merasa itu wajar saja, karena ia sudah terbiasa dengan perlakuan macam itu. Tapi tidakkah paman merasa bahwa itu salah? Baekhyun bukan berandalan. Dia anak yang sangat baik jadi perlakukanlah dia dengan baik pula. Dipukul itu sungguh tidak menyenangkan. Kalau paman ingin memukul, pukul tembok saja. Jangan memukul manusia sebaik Baekhyun. Paman mengerti?!” Cerocos Nicole setengah berteriak. Ia pun pergi meninggalkan Baekhyun dan ayahnya yang sedang terbengong-bengong. Baekhyun bengong saking kagumnya, sedang ayahnya bengong saking shock-nya.
“Dia harus mempraktekkan memukul tembok sewaktu-waktu agar ia tahu bahwa memukul itu terkadang tidak mengenakkan.” Nicole bicara pada dirinya sendiri setelah ia berada cukup jauh dari Baekhyun dan ayahnya.

^_^

Nicole dan tiga sekawan (Chen, Baekhyun dan Kyungsoo) sedang berkumpul di halaman sekolah. Chen sibuk mengerjakan essay, Kyungsoo sedang melamun, sedangkan Baekhyun sedang sibuk memotong kuku tangan Nicole. Baekhyun sungguh orang yang berdedikasi. Ia melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati. Nicole memandang wajah Baekhyun yang tampak begitu polos dan tanpa dosa, juga lumayan tampan. Hanya penampilannya saja yang sedikit berbeda dengan anak-anak lain. Jika gaya berpakaiannya bisa sedikit diubah, mungkin nasibnya juga bisa sedikit berubah. 
“Dia masih sering memukulimu?” Tanya Nicole. Yang dimaksud Nicole tentu ayah Baekhyun.
“Tidak lagi. Semua berkat kau. Terima kasih.” Ucap Baekhyun tersenyum
“Hey, kita kan teman.” Ujar Nicole. “Oh iya teman, pernahkah kau memperhatikan dirimu di cermin?”
“Tidak. Kenapa? Apa setelah mengataiku pecundang, kau juga akan mengatakan bahwa aku ini jelek?” Baekhyun merengut
“Aku tidak berpikir begitu. Aku justru berpikir bahwa kau ini lumayan tampan. Mungkin kau tidak menyadarinya, makanya aku bertanya.” Jawab Nicole membuat Chen menghentikan essay-nya, Kyungsoo sadar dari lamunannya, dan Baekhyun jadi cegukan mendengarnya. “Kenapa?” Tanya Nicole bingung. Baru kali ini wajahnya jadi tampak begitu polos.

^_^

Keesokan harinya, Baekhyun berjalan pelan di sepanjang jalan menuju sekolah. Hari masih sangat pagi dan sekali-sekali ia tampak menguap. Ia singgah sebentar di depan sebuah rumah dan berniat memencet bel rumah tersebut namun kemudian membatalkan niatnya.
“Oh, babo!” Baekhyun mengutuk dirinya sendiri, menampar dahinya. Ketika ia berbalik, Nicole sudah ada di depannya. Nicole yang muncul begitu saja lumayan mengejutkan Baekhyun. Nicole terlihat tak peduli dengan keterkejutan kawannya itu. Dia malah memandangi pintu rumah yang tadi hendak dipencet belnya oleh Baekhyun.
“Bukankah ini rumah…..” Ujar Nicole baru saja ingin memulai pertanyaanya tapi Baekhyun menyeretnya pergi.
“Kita hampir terlambat.” Ujar Baekhyun berdalih.
“Baekhyunnie.” Kata Nicole
“Baekhyunnie? Tak biasanya kau bicara seperti itu?” Tanya Baekhyun bingung mendengar cara Nicole menyebut namanya.
“Apa itu terdengar aneh?” Tanya Nicole
“Ah, tidak. Itu sangat bagus.” Jawab Baekhyun tak ingin mengesalkan Nicole. Nicole tersenyum.
“Oh, tunggu sebentar.” Ujar Nicole berdiri di depan Baekhyun sambil mencari sesuatu di dalam tasnya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah topi lalu memakaikannya pada baekhyun. “Waaa…. kau tampak seperti seorang member idol group.” Lanjut Nicole kembali berjalan. Baekhyun tersenyum malu-malu mendengar ucapan Nicole. Baekhyun kemudian mengirim pesan untuk Kyungsoo dan Chen
“Nicole baru saja memanggilku Baekhyunnie. Menurutmu itu aneh tidak?”  Begitu isi pesan Baekhyun. Sepertinya ia curiga kalau-kalau Nicole tertarik padanya. Haha…..

^_^

 Nicole sedang memain-mainkan bola baseball di tangannya. Pandangannya menatap lurus ke arah telinga  kanan Xiumin. Nicole kemudian melemparkan bola tersebut. Bola itu melintas tepat di depan hidung Xiumin. Jarak antara hidung Xiumin dengan bola nyasar tersebut kira-kira satu sentimeter. Xiumin yang terkejut langsung memutar lehernya ke arah datangnya bola tadi.
“Ups, kurasa aku hampir mematahkan hidungmu.” Ujar Nicole dengan santai. Belum sempat Xiumin mengatakan sesuatu, seseorang sudah ber-“Aww” di belakangangya. Xiumin memutar tubuhnya 180o dan melihat Chanyeol tampak kesakitan sambil memegang punggungnya. Sepertinya lemparan baseball Nicole baru saja bersarang di punggung Chanyeol.  Saat Xiumin kembali menoleh ke tempat Nicole berdiri, Nicole sudah menghilang.

^_^

Tiga serangkai sedang serius membicarakan sesuatu di kelas. Rupanya Chen menemukan sebuah dompet. Dia bilang dompet itu tergeletak di gerbang sekolah. namun setelah memeriksanya, ia tak berani mengembalikannya. Mereka pun memutuskan siapa yang harus mengembalikan dompet tersebut dengan hom pim pa. Melihat ini, Nicole pun  menghampiri mereka. Dia berdiri di sebelah Kyungsoo dengan tangan terlipat di dadanya.
“Apa-apaan ini?” Tanya Nicole mengejutkan ketiga temannya tersebut.
“Chen menemukan dompet itu di gerbang sekolah.” Jawab Kyungsoo
“Lalu kenapa kau tidak mengembalikannya?” Tanya Nicole membolak-balik dompet kecil tersebut.
“Aku tak ingin bertemu pemiliknya. Jadi, bisakah aku minta tolong padamu untuk mengembalikannya? Di antara kita berempat, kau yang paling mungkin untuk mengembalikannya.” Jawab Chen diiringi anggukan dari Kyungsoo dan Baekhyun.
“Memangnya siapa pemiliknya?” Tanya Nicole
“Buka saja dan lihat kartu pelajarnya.” Chen tidak menjawab pertanyaan Nicole dengan benar. Nicole membuka dompet tersebut dan menemukan kartu pelajar. Di situ tertulis nama Kim Jong In, tapi fotonya adalah foto Kai. Nicole mengernyit.
“Kalian tahu di mana pemiliknya sekarang?”
“Dia ada di kantin.” Jawab Kyungsoo.
Nicole mencari-cari Kai di kantin. Ia pun menemukan sosok pria tinggi itu di salah satu sudut kantin. Ia sendirian. Tanpa keenam kawannya yang berisik itu. Nicole menghampiri Kai dan menjatuhkan dompet di mejanya. Kai mendongak dan mengernyit melihat Nicole.
“Kau mencopetku huh?” Tanya Kai kasar
“Hey, Kim Jong In! Dompet jelek itu terjatuh di gerbang sekolah dan aku hanya mengembalikannya padamu.” Kata Nicole duduk di depan Kai.
“Apa??? Kim Jong In??? Siapa yang mengijinkanmu memanggilku dengan nama itu?”
“Kenapa? Kau tidak suka?” Nicole balik bertanya
“Ya.” jawab Kai mengambil dompetnya dan hendak pergi.
“Tapi aku menyukainya. Aku pernah punya seorang teman bernama Kim Jong In. Enam tahun yang lalu aku pernah hampir mematahkan hidungnya. Ku dengar sekarang dia tinggal di Myeongdong.” Ujar Nicole
“Memangnya aku peduli?” Cibir Kai
“Andai aku bertemu dengannya lagi, aku ingin minta maaf padanya.” Kata Nicole. Kai kemudian pergi begitu saja.

^_^

Ibu Victoria memasuki kelas. Meski pun ibu guru yang satu ini cantiknya luar biasa, namun ia menakutkan seperti Nicole. Ibu Victoria mengajar Bahasa Inggris.
“Anak-anak, keluarkan buku pelajaran kalian. Dan seperti biasa, aku selalu berharap tak ada satu pun dari kalian yang tidak membawa buku.” Ujar ibu Victoria menuliskan sesuatu di papan tulis. “yang tidak membawa buku, silahkan berdiri.” Lanjut ibu Victoria. Suho menelan ludah lalu berdiri di tempat duduknya. Xiumin juga sepertinya tidak membawa buku karena ia juga hendak berdiri. Nicole meletakkan bukunya di meja Xiumin lalu berdiri mendahului lelaki cantik itu. Suho memandangnya dengan heran.
“Suho, Nicole, silahkan keluar dari kelas. Berdiri di depan pintu dengan satu kaki dan tangan saling menjewer telinga.” Kata ibu Victoria mengusir Nicole dan Suho, sang ketua kelas. Mereka pun keluar untuk  menjalani hukuman.
Dua puluh menit berlalu. Suho dan Nicole saling diam selama dua puluh menit tersebut. Pada menit ke dua puluh satu, Suho memberanikan diri berbicara dengan gadis killer itu.
“Kenapa kau memberikan bukumu pada Xiumin? Kalau kau begitu baik, kenapa kau tidak memberikannya padaku?” Tanya Suho
“Aku ingin dihukum bersama ketua, bukan dengan Xiumin. Dia terlalu cantik untuk dipermalukan seperti ini.” Jawab Nicole asal
“Jadi kau merasa malu?” Suho bertanya lagi
“Tidak juga. Wajahku sudah cukup tebal.” Jawab Nicole membuat Suho tersenyum geli.

^_^

Nicole pulang agak larut usai latihan karate dan mendapati Luhan sedang dikepung sekelompok berandal.  Nicole mengintai sekelompok pemuda tersebut dari balik tempat sampah sambil memikirkan cara untuk menjauhkan mereka dari Luhan. Sebuah jeruk busuk di tempat sampah tiba-tiba memberinya ide. Ia pun memungut jeruk itu sambil menunggu waktu yang tepat. Ia kemudian melemparkannya seolah jeruk busuk itu sebuah bola baseball. Lemparannya mendarat tepat di bagian belakang kepala salah seorang pemuda di depan Luhan.
“Sial!” Geram pemuda tersebut berbalik dan menyeringai ke arah Nicole. Nicole sudah mengambil jurus langkah seribu. Pemuda yang terkena lemparan jeruk tersebut beserta seorang kawannya beralih mengejar Nicole sementara sisanya bertarung dengan Luhan. Luhan membereskan mereka kurang dari lima menit. Luhan kemudian menyusul Nicole yang mungkin sudah tertangkap atau yang lebih buruk lagi, Nicole mungkin sudah babak belur.
Tak seperti dugaannya, Luhan bertemu Nicole di pertigaan jalan. Ia sendirian. Sepertinya ia berhasil lolos dari kejaran kedua preman tadi.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Luhan canggung
“Ya.” Jawab Nicole tampak lelah
“Kau melawan mereka?” Tanya Luhan antara khawatir dan penasaran
“Tidak. Aku melarikan diri.” Jawab Nicole
“Benarkah? Apa kau secepat itu?” Luhan kurang percaya
“Hey, ini wilayahku. Aku tahu lebih banyak daripada bocah-bocah tengik itu.” Jawab Nicole tertawa ringan. “mau jalan-jalan sebentar?”
“Tentu.” Tukas Luhan
Luhan dan Nicole berjalan beriringan sembari tenggelam dalam pikiran masing-masing. Nicole berhenti melangkah ketika mereka tiba di depan sebuah taman bermain. Taman itu sangat sepi dan sudah terkunci rapat. Nicole kemudian menyeret Luhan ke bagian utara taman tersebut. Selain pohon dan bangku taman, tak ada apa-apa lagi di sana. Luhan jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa maksud Nicole membawanya ke mari? Jangan-jangan Nicole ingin melakukan sesuatu padanya? Begitu pikir Luhan. Sementara Nicole yang tidak memperhatikan Luhan mulai memanjat pohon.
“Hey, apa yang kau lakukan di bawah sana? Ke marilah sebelum kita tertangkap!” Kata Nicole dari atas tembok. Luhan, meski kebingungan tetap  mengikuti instruksi Nicole. ia ikut naik ke atas lalu melompat ke dalam taman bermain seperti yang dilakukan Nicole.
“Kau sepertinya sangat mengenal tempat ini. Kau sering ke mari?” Tanya Luhan
“Tentu.” Jawab Nicole kemudian iseng mengambil gambar self camera bersama Luhan. “Aku dan Sehun sering ke mari. Jika ayah dan ibuku bertengkar, maka aku dan Sehun akan ke mari kemudian pulang setelah larut malam. Tapi kami tak pernah ke mari di siang hari. Kami tak punya uang untuk membeli tiket masuk apalagi makanan di sini. Terlalu mahal.” Tutur Nicole antara sedih dan juga geli.
Nicole dan Luhan mengobrol hingga tak terasa malam sudah semakin larut. Nicole melirik jam tangan Luhan. Waktu menujukkan pukul 23.30 malam.
“Sepertinya ibuku sudah tidur. Ayo pulang.” Ajak Nicole turun dari komidi putar yang sedari tadi tidak bergerak. Mereka keluar melalui pintu rahasia di sebelah barat. Pintu itu hanya bisa di buka dari dalam sehingga tak ada yang bisa menggunakannya dari luar. Dan setelah ditutup kembali, pintu itu sudah tak terlihat karena ditutupi oleh tanaman yang menjalar di sepanjang tembok taman. Konon, pintu rahasia itu sengaja di buat oleh salah satu pekerja saat pembangunan taman dilakukan. Pekerja tersebut sengaja membuat pintu tersembunyi agar anak-anaknya dan juga anak-anak lain seperti Nicole bisa masuk dan keluar taman tanpa harus membayar.
Luhan mengantar Nicole pulang. Nicole berpamitan dan melambai pada Luhan sebelum menutup pintu. Di sekitar tempat itu sudah sangat sepi. Luhan menuliskan sesuatu dengan ujung jarinya di pintu rumah Nicole sebelum pergi dari sana. Tulisan itu kira-kira berbunyi “Terima kasih karena kau telah datang padaku.”
“ Kurasa, menjadi miskin bukanlah hal yang buruk. Nicole, selamat malam. Semoga tidurmu nyenyak.” Ucap Luhan berbicara dengan pintu. Ia pun pergi.

^_^

Luhan berkunjung ke rumah Nicole seminggu setelah acara jalan-jalan malam yang tak terduga itu. Nicole yang baru saja selesai membuat  masalah dengan salah satu anak tetangga sedang tidak ada di rumah. Nicole punya kebiasaan pulang lebih larut jika sedang terjadi sesuatu karena ibu pasti akan mengomelinya habis-habisan. Saat tiba di rumah Nicole, Luhan mendengar suara ibu yang sedang mengomel, tentang Nicole. Luhan menghampiri ibu dengan senyum termanisnya.
 “Dasar anak keterlaluan! Selalu saja membuat masalah dan melimpahkannya padaku. Setelah itu ia akan melarikan diri dan tidak bertanggungjawab. Berani bertaruh, ia akan pulang larut malam ini. Lihat saja, aku pasti akan menangkapnya saat ia pulang nanti.” Cerocos ibu sambil memukuli kasur dengan ekspresi penuh dendam seolah kasur itu Nicole.
“Sudahlah bu, Noona pasti tidak sengaja.” Ujar Sehun dengan santai sambil bermain dengan video game-nya
“Kau juga sama saja! Selalu saja membelanya!” Bentak ibu
“Apa kabar, Bibi.” Sapa Luhan mengagetkan ibu
“Oh. Siapa kau?” Tanya ibu
“Aku temannya Nicole.” Jawab Luhan
“Kau bersama anak nakal itu?” Tanya ibu mencari-cari Nicole
“Ehm… tidak. Ku pikir dia ada di rumah. Karena itulah aku datang ke mari.”
“Sudahlah. Jangan pedulikan dia. Ayo masuk.” Ajak ibu. Luhan menurut saja. Ini merupakan kali kedua ia berkunjung, dan baru kali ini Luhan masuk ke dalam rumah.
“Aku sangat bingung, sebenarnya kesalahan apa yang telah kulakukan. Aku selalu merasa bahwa aku membesarkan anak itu dengan baik. Tapi dia tetap seperti itu. Dia anak perempuan tapi sangat mengerikan. Bahkan Sehun tidak pernah membuatku sepusing ini. Aku sudah merasa bahwa aku tidak pernah membedakan antara kasih sayangku padanya dengan adiknya. Seringkali aku ingin mengatakan yang sebenarnya pada anak itu, tapi entah mengapa tiap kali melihatnya aku tak pernah bisa bicara lagi.” Tutur ibu menuang teh untuk Luhan. Sepertinya ibu sedang curhat dengan Luhan. Sehun, meskipun dia tidak senakal Nicole, tapi anak itu sepertinya bukan pendegar yang baik sehingga ibu tetap saja kesepian.
“Bibi, kau adalah ibu terbaik yang pernah ku temui. Aku tak punya orangtua di sini, karena itulah aku sangat senang bisa mengenal bibi. Bibi bisa menganggapku sebagai anak bibi. Melihat bagaimana sikap Nicole dan Sehun terhadap bibi, aku jadi mengerti bagaimana perasaan ibuku selama ini yang seringkali tidak didengarkan oleh anak-anaknya. Bibi, jika kau sedang membutuhkan teman untuk diajak bicara, bibi boleh meneleponku.” Ujar Luhan. Ibu tersenyum mengacak rambut Luhan.

^_^

Xiumin sedang memandangi fotonya bersama Luhan di layar poselnya. Hari ini Luhan tidak masuk sekolah dan tak ada kabar sama sekali. Xiumin menarik napas lalu menatap keluar jendela kelas dan matanya menangkap sosok Nicole di kejauhan. Ia pun tersenyum.
Nicole sedang memakan sesuatu yang ia bawa dari rumah ketika Xiumin tiba-tiba muncul dan duduk di sampingnya.
“Oh, Xiuminnie…” Sapa Nicole membuat Xiumin terperanjat. “Sudah ku duga ini akan terjadi.” Lanjut Nicole memalingkan wajah. Sepertinya Nicole sedang berusaha keras mengubah kepribadiannya dari wanita galak dan semena-mena menjadi seperti gadis-gadis pada umumnya.
“Bisakah kau mengulanginya?” Pinta Xiumin
“Kenapa aku harus melakukannya? Bukankah itu terdengar menakutkan? Chen bilang aku menakutkan saat bicara seperti itu” Nicole bingung
“Tidak. Jika kau yang mengatakannya, itu terdengar sangat cute. Jadi, bolehkah aku mendengarnya sekali lagi?” Xiumin penuh harap
“Xiuminnie…” Tukas Nicole. Senyum pun terkembang di bibir Xiumin
“Ngomong-ngomong, tahukah kau hari apa ini?” Xiumin bersemangat
“Hari Selasa.” Jawab Nicole
“Tepat.” Kata Xiumin mengedipkan sebelah matanya. WINK! “Dan pada hari selasa ini, aku berulangtahun.” Lanjut Xiumin heboh sendiri
“Benarkah??? Ooo… selamat ulangtahun temanku.” Nicole jadi ikut-ikutan heboh. “Sebagai hadiahmu, aku akan berbagi makanan denganmu. Buka mulutmu.” Kata Nicole. Xiumin menurut saja. Nicole menyuapkan makanan ke mulut Xiumin.

^_^

Xiumin berjalan di koridor sekolah sambil tersenyum-senyum sendiri. Ia tak henti-hentinya mengucapkan kata ‘Xiuminnie’ membuat anak-anak lain melempar tatapan aneh padanya. Ia kemudian  menelepon Luhan untuk menagih ucapan selamat ulangtahun.
“Ehm… Luhan, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu.” Kata Xiumin setelah mendapat satu ucapan selamat ulangtahun dari sahabatnya itu. Xiumin kembali ke jendelanya tadi dan menonton kawan-kawannya yang sedang bermain sepakbola di lapangan.
“Apa itu?”
“Menurutmu, apa aku sudah gila jika aku tertarik pada gadis itu?” Tanya Xiumin dengan lugunya
“Gadis yang mana?” Tanya Luhan tidak mengerti
“Ku rasa aku tertarik pada Nicole.” Jawab Xiumin
“Apa?????” Luhan Shock
“Ini mungkin terdengar sangat gila, tapi gadis itu menarik perhatianku sejak ia dihukum karena memberikan buku pelajarannya padaku.” Ujar Xiumin menatap lurus ke depan. Xiumin mungkin tidak tahu bahwa apa yang dilakukan Nicole waktu itu sebenarnya hanya modus agar ia bisa dihukum bersama Suho.

^_^

Ibu menyuruh Nicole mengambil pesanan ayam sepulang sekolah. Walau sedikit menggerutu, Nicole tetap mengerjakannya. Ia benci paman penjual ayam yang seringkali mempermainkannya. Paman itu sering menggoda Nicole dan menjodoh-jodohkan Nicole dengan anak laki-lakinya.
Nicole menarik napas sebelum memasuki toko paman tersebut.
“Apa kabar.” Sapa Nicole dengan lesu
“Oh, calon menantuku.” Sambut paman pemilik toko itu bersemangat. Nicole hampir pingsan mendengarnya.
“Aku….” Nicole baru saja hendak bicara namun paman itu memotong ucapannya.
“Ah, aku tahu. Pesanan ibumu kan?” Tanya paman. Nicole mengangguk. Paman membungkus daging ayam yang paling segar dengan bungkusan paling rapi dan bagus. Nicole meletakkan ponselnya yang menyala di meja kasir lalu merogoh saku-sakunya untuk mencari uang yang dititipkan ibu pagi tadi. Paman melirik layar ponsel yang menampilkan gambar Nicole bersama Luhan. Wajah paman tiba-tiba berubah.
“Luhan.” Tukas paman
“Oh, paman mengenalnya?”
“Tidak. Pulanglah! Ibumu pasti sudah menunggu.” Usir paman, tapi Nicole tidak pergi. Nicole tetap berdiri di sana. “Kau belum pergi juga?”
“Seberapa jauh paman mengenal Luhan? Dan bagaimana paman mengenalnya?” Tanya Nicole
“Apa itu penting? Sudahlah. Lupakan dan pulanglah.” Usir paman sekali lagi, tapi lagi-lagi Nicole tidak menghiraukannya. “Apa lagi???” Tanya paman hampir gila menghadapi anak itu
“Itu sangat penting. Dia hidup sendirian di sini dan tak ada yang mengenalnya. Akan sangat baik jika ia punya seseorang yang bisa ia datangi saat akhir pekan.” Jawab Nicole. Paman menarik napas.
“Ini sangat menyebalkan tapi aku akan sedikit menceritakannya. Tapi setelah ini, kau harus segera pulang.” Ujar paman. Nicole mengangguk tanda setuju. “ Beberapa tahun lalu, aku bekerja pada ayahnya. Ayahnya orang yang baik dan juga sangat malang. Ia dan istrinya mengalami kecelakaan dan ku dengar uang asuransinya diambil oleh sahabatnya. Orang jahat itu menggunakan uang asuransi tersebut untuk mendirikan perusahaan di luar negeri dan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Ia meninggalkan Luhan di Hongkong lalu kembali ke Korea. Ku dengar ia sudah menjadi direktur di perusahaan besar. Dan menurut rumor yang kudengar, dialah yang merencanakan kecelakaan yang menimpa keluarga Luhan.” Paman mengakhiri ceritanya.
“Jadi begitu? Baiklah, aku sudah berjanji akan pergi. Sampai jumpa paman.” Ujar Nicole membungkuk dan pergi.
“Oh, calon menantu.” Paman memanggil Nicole lagi. “Aku baru memerhatikan seragammu. Kau punya seragam yang sama dengan putraku. Ku dengar, putra direktur gila dan jahat itu juga bersekolah di sana.” Nicole berhenti di pintu mendengar bahwa putra pembunuh ayah Luhan bersekolah di sekolah yang sama dengannya.
“Benarkah? Siapa nama putra paman?” Tanya Nicole pura-pura tertarik
“Kyungsoo. Namanya Do Kyungsoo.” Jawab paman membuat Nicole nyaris pingsan.
“Lalu, siapa nama putra pembunuh itu?” Tanya Nicole
“Haruskah aku memberitahumu juga?”
“Tentu saja. bagaimana jika orang itu tertarik padaku lalu mengetahui bahwa aku adalah calon menantunya paman? Dia bisa mengadukan paman pada ayahnya. Apa paman tidak takut?” Tanya Nicole. sebenarnya ia tak berharap paman akan terpancing, tapi sepertinya paman benar-benar berharap Nicole akan menjadi menantunya. Paman menjawab pertanyaannya.
“Ah, kau benar juga. Ku rasa Kyungsoo pernah mengatakannya padaku. Kalau tak salah, namanya Suho.” Jawab paman membuat Nicole benar-benar akan pingsan. Nicole segera pamit pulang. Ia berjalan dengan amat sangat lesu. Semangatnya berjatuhan di sepanjang jalan menuju rumahnya.
Nicole semakin lesu melihat seseorang yang sedang bermain catur dengan ibunya di teras rumah. Nicole menghampiri mereka lalu meletakkan ayam di atas papan catur.
“Hey! Apa yang sudah kau lakukan? Aigo…anak ini.” Ibu mengomel
“Aku sangat lapar. Jadi aku tidak memperhatikan apa pun. Maafkan aku bu.” Jawab Nicole.
“Oh…anakku. Baiklah, ibu akan memasak untukmu.” Ujar ibu kasihan melihat putrinya. Ibu segera masuk ke dapur.
“Kita harus bicara.” Nicole memberitahu Luhan. Ia tiba-tiba menjadi kuat. Nicole pergi dari sana, Luhan mengikutinya. Nicole berhenti di jalan yang berundak-undak lalu duduk di sana. Luhan duduk di sampingnya.
“Apa yang ingin kau bicarakan? Tak bisakah kita bicara di rumah saja?” Tanya Luhan
 “Ada rumor yang mengatakan bahwa ayah Suho adalah penyebab kematian ayahmu.” Kata Nicole. Luhan tidak langsung menanggapi pertanyaan itu. Luhan merenung, lama sekali.
“Jadi???” Tanya Luhan setelah perenungannya selesai
“Jadi……….. kumohon kau jangan menyeret Suho ke dalam masalah ini. Kalian berteman kan?”
“Kau suka Suho ya?” Tanya Luhan
“Mungkin.”
“Bolehkah aku memberi saran?”
“Apa?”
“Nicole, sejauh yang ku ketahui, wanita selalu menggunakan hatinya dengan benar sedang pria jarang sekali menggunakan hatinya. Jadi, sebagai seorang wanita, kau harus menemukan pria yang menyerahkan hatinya padamu. Dengan begitu, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu selamanya, bukan malah membuatmu berusaha keras untuk membahagiakannya selamanya.” Luhan menjelaskan
“Menurutmu, adakah pria yang mau melakukan hal itu untukku?”
“Ada. Pasti ada.” jawab luhan tersenyum. Nicole ikut tersenyum. Senyumnya kemudian menghilang menyadari bahwa Luhan memakai seragam sekolah.
“Kau memakai seragam tapi tidak ke sekolah?!” Teriak Nicole berubah menjadi sangat galak.
“Apa????” Luhan terkejut dan baru menyadarinya juga.

^_^

Setelah berminggu-minggu mengejar Suho, akhirnya Nicole mendapat kesempatan untuk pulang bersama ketua kelasnya itu. Hari itu Suho tidak dijemput saat pulang sekolah, jadi Nicole menawarkan diri untuk menemani Suho. Sebenarnya ia punya maksud lain. Ia ingin tahu di mana rumah Suho. Menurut teman-teman sekolahnya, rumah Suho sangat besar dan megah. Mungkin tujuh kali lipat dari ukuran rumah Nicole. jadi Nicole ingin memastikannya sendiri.
“Em… Suho-ssi.” Tukas Nicole
“Ya.”
“Aku…..”
“Kau kenapa?”
“Tak ada apa-apa. aku hanya ingin menyebut namamu saja.” Jawab Nicole. Suho tersenyum geli melihat gadis killer itu tiba-tiba berubah menjadi sedikit konyol.
“Nicole-ssi.” Kata Suho
“Ya.”
“Aku hanya ingin menyebut namamu saja.” ujar Suho lalu tertawa.
“Aish… kau ingin mati ya?” Kata Nicole menyikut rusuk Suho. Suho terbungkuk-bungkuk memegang rusuknya, tampak kesakitan.
“Suho, kau baik-baik saja?”
“Oh, ini sakit sekali. Ku rasa aku akan mati.” Suho meringis kesakitan. Nicole panic. Ia meraih tangan Suho lalu memapahnya. Suho tiba-tiba menjerat leher Nicole dengan lengannya. “Tadi kau bilang apa? sekarang kaulah yang akan mati!” Ujar Suho. Ia tertawa setelah sukses mempermainkan Nicole. Suho melepaskan Nicole lalu mengacak-acak rambut gadis itu. mereka melanjutkan perjalanan sambil terus bercanda.

^_^

Suho berangkat ke sekolah tanpa di antar. Ia ingin jalan kaki saja. Sejak keluar dari pintu rumahnya, Suho tak henti-hentinya saling berkirim pesan dengan Nicole. Ia berjalan sambil tersenyum-senyum sendiri tiap kali menerima pesan dari gadis itu. Tiba-tiba seseorang menyergapnya dari belakang. Ponselnya terlempar ke tempat sampah.
Tak jauh dari rumah suho, Nicole memasukkan ponselnya ke dalam tasnya usai menerima pesan dari Suho yang berisi ‘Aku akan menunggumu di persimpangan jalan’. Tiba-tiba seseorang juga menyergap Nicole dari belakang. Ia dimasukkan secara paksa ke dalam mobil oleh empat orang pria.

^_^

Pria yang menculik Nicole menyeret gadis itu ke dalam sebuah gudang. Salah seorang pria menodongkan senjata api di kepala Nicole. Betapa terkejutnya ia melihat ibunya juga ada di sana. Ibunya terikat di kursi dan tampak acak-acakan. Sepertinya ibu memberikan perlawanan hebat saat mereka menculiknya. Orang yang berada tak jauh dari tempat duduk ibu juga tak kalah mengejutkan. Beberapa waktu lalu Nicole masih sempat saling berkirim pesan dengannya. Kondisinya tampak lebih buruk dari ibu. Selain acak-acakan, ia juga mendapat beberapa luka memar di wajahnya.
“Ketua, aku sudah membawa mereka semua.” Seseorang berbicara melalui telepon. Tak lama kemudian muncullah beberapa orang lagi. Luhan juga ada di sana, bersama dengan orang yang baru muncul tersebut. Luhan tampak terkejut melihat Nicole, sedang Nicole tampak sangat marah melihat Luhan. Luhan jarang masuk sekolah akhir-akhir ini, tapi Nicole tak pernah berharap mereka akan bertemu hari ini, di tempat seperti ini.
“Nicole-ssi….” Ucap Luhan
“Kau…..” Geram Nicole
“Wah wah wah…. Sepertinya kalian saling kenal. Ah, ya, kalian satu sekolah kan? Dan orang itu, kau juga mengenalnya kan?” Tanya pria paruh baya yang datang bersama Luhan. Pria itu menunjuk Suho.  
“Ketua, anak itu tidak membawa ponsel dan ia tidak mau memberikan nomor telepon ayahnya. Dihajar sampai mati pun dia tidak akan mengatakan apa pun.” Seorang pria melapor pada pria paruh baya tadi yang ternyata ketua mereka.
“Kita tak perlu membunuhnya.” Kata ketua tersebut
“Apa???” Para anak buahnya terkejut mendengarnya.
“Bukan kita yang akan melakukannya.” Kata ketua. Ia berjalan menghampiri Nicole. “Sekarang semua tergantung padamu. Siapa pun yang ingin kau biarkan hidup, itu terserah padamu.” Lanjutnya menjejalkan pistol ke tangan gadis itu. Luhan tak berani menatap Nicole.
 “Kau! Ku pikir kita teman. Tapi ternyata kau tidak berpikir begitu. Kau menghianati kami. Kai bahkan masih sedikit lebih baik darimu, teman.” Ujar Nicole melemparkan tatapan kebencian pada Luhan. Luhan tidak mengatakan apapun.
“Ku dengar ayahmu bekerja di perusahaan milik ayah pacarmu ini. Di sana Ayahmu hanya seorang pegawai rendahan dan keluarganya hidup miskin selama bertahun-tahun. Kau tak akan bisa mengubah nasibmu hanya dengan memacari anak orang kaya busuk itu, karena ayah anak muda tampan ini sangat benci dengan kemiskinan. Di masa lalu, ia bahkan tega membunuh seorang sahabatnya agar bisa terbebas dari kemiskinan. Seorang anak kecil menjadi terlantar dan yatim piatu akibat perbuatannya itu.” kata ketua mencoba memprovokasi Nicole. “Dan ku peringatkan, kau tak mungkin bisa lari dari sini! Atau kalian bertiga akan mati. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan ayahmu jika istri dan putri kesayangannya ditemukan tewas akibat dari perbuatan bosnya?”
Nicole berpikir keras untuk membuat keputusan paling tepat. Jika ia memilih melepaskan Suho, maka ibunya harus mati. Begitu pun sebaliknya. Jika tak memilih salah satu, maka mereka bertiga yang akan mati. Dan ia tak mungkin menang melawan orang-orang ini seorang diri.
Suho dan ibu Nicole terikat di kursi, masing-masing dijaga ketat dan senjata tertodong di kepala mereka. Perlahan Nicole mengangkat pistolnya kemudian mengarahkannya pada ibunya. Ibunya hanya bisa pasrah. Ia menangis juga tersenyum melihat putri yang sudah dibesarkannya itu akan membunuhnya. Setitik airmata menetes di pipi kiri Nicole.
“Eomma…..” Bibir Nicole bergerak namun tak mengeluarkan suara. Ibunya tersenyum pedih dan mengangguk menguatkan hatinya. Tiba-tiba Nicole mengubah sasarannya. Pistolnya kini mengarah pada teman favoritnya  . Air mata Nicole mengalir semakin deras. Akankah ia tega membunuh pria sebaik Suho? Suho yang sebelumnya sudah babak belur tampak tak berdaya.
“Suho-yah….. maafkan aku….” Tukas Nicole lalu mengarahkan pistol itu ke kepalanya sendiri.
“Nicole-ssi!!!!” Pekik Luhan
“Anakku!!!!” Ibunya ikut memekik. Nicole memejamkan mata, bersiap menarik pelatuk. Suara-suara yang tak asing baginya berpusar di kepalanya.
“Cingu-ya…..!!!!!” Suara Chen terdengar melengking di telinganya.
“Noona!!!” Bahkan Sehun pun ikut memanggilnya. Sehun??? Nicole tiba-tiba ingat sesuatu. Hari ini adalah ulangtahun Sehun dan ia sudah berjanji akan membuatkan sup rumput laut untuknya.
Seseorang menampar tangan Nicole hingga pistol di tangannya terlempar. Saat membuka mata, Nicole mendapati tempat itu sudah kacau balau. Sekilas Nicole melihat Baekhyun, Kyungsoo dan Chen memapah ibunya dan Suho pergi dari sana. Lay, Chanyeol, Xiumin, Kai, Tao, kawan-kawan seperguruan Nicole serta beberapa anak lainnya yang tidak dikenal oleh Nicole bertarung melawan para anggota gangster, sedangkan Luhan tampak masih bingung harus memihak pada siapa.
“Jangan coba-coba menyentuh Noona-ku!!!!” Teriak Sehun dari balik punggung Nicole. sepertinya ia baru saja menendangi seseorang yang mencoba menyerang Nicole dari belakang.
“Sehun-ah…..” Ujar Nicole terharu
“Kakak, kau boleh memujiku setelah kita pulang.” Ujar Sehun tersenyum. Mereka berdua pun bertarung bersama-sama, saling membelakangi.
“Sehun-ah….”  Tukas Nicole di sela-sela pertarungan.
“Em…” Jawab Sehun
“Happy Birthday…” Lanjut Nicole
“Terima kasih…” Balas Sehun melepaskan pukulan ke rahang lawannya.
“Aku mencintaimu.” Ujar Nicole menendang dada lawannya.
“Aku juga.” Jawab Sehun membanting lawannya. Nicole kemudian mencari-cari keberadaan Luhan.
Karena ini bukan di Hongkong, para anggota gangster yang kekurangan personil berhasil dilumpuhkan oleh kawan-kawan Nicole. Sayangnya, kemenangan tersebut harus dibayar mahal karena Xiumin harus mendapatkan luka yang parah di kaki kanannya.

^_^

“Paman, apa kau bukan manusia? Bagaiman mungkin kau melakukan hal semacam ini pada putrimu?” Tanya Luhan setelah semua teman-temannya pergi.
“Putriku? Putri apa? Aku tak punya anak perempuan. Kau lupa?”
“Tidak. Kaulah yang lupa.” Jawab Luhan
“Aku?” Tanya sang ketua tak mengerti
“Delapan belas tahun lalu, bukankah sesuatu terjadi di rumah paman?”

FLASHBACK...
Ibu menelepon luhan setelah Nicole membuat masalah untuk yang kesekian kalinya. Luhan yang sebelumnya sudah berjanji akan jadi pendengar yang baik bagi ibu menurut saja. ia bahkan mengajak ibu minum soju dan berjanji kali ini ia akan mentraktir ibu. Awalnya ibu tidak mau, tapi setelah Luhan berjanji bahwa ia akan minum susu saja, ibu akhirnya setuju. Ibu sepertinya sangat mempercayai anak itu.
Seperti perjanjian yang sudah disepakati sebelumnya, ibu minum soju dan Luhan minum susu. Mereka mengobrol seperti pasangan ibu dan anak sungguhan. Akrab sekali. Nicole yang tak sengaja melihat kedekatan mereka jadi sedikit cemburu. Ia pun mengabaikan ibu dan Luhan dan pergi begitu saja. Ibu sepertinya sangat tertekan karena ia minum banyak sekali. Ia sampai mabuk berat. Dalam keadaan mabuk, ibu kemudian meluapkan seluruh isi hatinya.
“Gadis tengik itu, dia tak pernah mendengarkanku. Entah dengan cara apa lagi aku harus mendidik anak itu. Aku sudah menggunakan cara halus hingga cara kasar. Tapi semua sia-sia saja. hatinya mungkin sekeras baja, persis ibunya.” Cerocos ibu tanpa sadar. ‘persis ibunya? Apa di masa lalu bibi juga sebandel Nicole?’ batin Luhan, ia jadi sedikit geli memikirkannya. Ibu kemudian melanjutkan ocehannya. “aku sudah mengingatkan wanita bodoh itu untuk tidak menikahi pria gangster menyebalkan itu. Aku sudah mengingatkannya berkali-kali. Tapi wanita itu tak mau mendengarkanku. Dia malah melarikan diri bersama pria jahat itu. Mereka menikah dan punya anak. Setelah punya anak dia baru menyesalinya. Dia dan anaknya selalu berada di bawah bayang-bayang suaminya dan hidup di bawah berbagai ancaman. Kemudian ia kembali mengandung, anak keduanya. Dan sialnya, dia malah datang mencariku tanpa sepengetahuan suaminya. Suaminya bahkan tidak tahu bahwa dia sedang hamil. Kupikir wanita itu sudah sadar dan ingin kembali pada keluarganya. Tapi ternyata tidak. Dia hanya tinggal dengan kami hingga anaknya lahir. Bukan hanya itu, dia bahkan meninggalkan bayinya pada kami. Setahuku, dia tak kekurangan uang sama sekali, tapi mengapa ia malah meninggalkan anak itu untuk hidup dalam kekurangan bersamaku? Aku tak pernah mengerti apa yang ada di pikiran wanita itu. Aku tak punya pilihan lain selain menyetujui permintaan wanita itu. Aku tak mungkin menolak anak itu karena aku memang belum punya anak setelah menikah sekian lama. Yang terpenting bukanlah seberapa banyak uang yang bisa kuberikan padanya, tapi bagaimana anak itu bisa tumbuh besar tanpa bayang-bayang reputasi keluarganya. Hidup bersamaku akan menjauhkan anak itu dari ancaman. Meski sangat menyusahkan, tapi kami sangat menyayangi anak itu. Aku harus terus menjaganya agar nasibnya tak sama seperti ibunya.”
“Lalu, di mana wanita itu sekarang?” Tanya Luhan yang sebenarnya bermaksud basa-basi
“Entahlah. Terakhir ku dengar dia tinggal di hongkong. Kuharap dia tak akan pernah datang lagi.” Jawab Ibu
“Memangnya siapa wanita itu? Apa dia teman baik bibi?”
“Dia adikku. Adikku satu-satunya. Adikku yang bodoh. Bagaimana mungkin dia bisa hidup seperti itu? Aku takkan mungkin sanggup terpisah dengan anakku selama itu.” Ujar ibu menutup pidatonya. Ibu pun tertidur. Luhan memapah ibu pulang. Untunglah tempat minum yang mereka datangi tak begitu jauh.

^_^

Luhan berjalan pulang ke apartemennya sambil melemaskan otot-ototnya yang bekerja ekstra keras usai mengantar ibu pulang dengan selamat. Di perjalanan ia menemukan Nicole sedang duduk di bangku taman. Sendirian. Luhan menghampirinya.
“Ini sudah larut malam, kenapa kau belum pulang?” Tanya Luhan. Nicole tidak menjawab. “Ibumu sudah tidur. Kau tak perlu takut.”
“Darimana kau tahu?” Tanya Nicole
“Ini sudah sangat larut. Para orangtua pasti sudah tidur sekarang.” Luhan berdalih
“Kau bisa sedekat itu dengan ibuku dalam waktu singkat. Sedangkan aku, bahkan setelah belasan tahun aku masih saja selalu bertarung dengannya. Entah bagaimana, dari dalam hatiku selalu timbul perasaan untuk melawan ibuku. Aku tak pernah mendengarkannya. Aku mungkin anak yang paling seenaknya di bumi ini.  Aku bahkan tidak mewarisi sedikit pun sifat-sifat ibu dan ayahku.” Tutur Nicole. tiba-tiba Luhan teringat pada kalimat ibu Nicole tadi.
 ‘gadis tengik itu, dia tak pernah mendengarkanku ‘,
 ‘hatinya mungkin sekeras baja, persis ibunya’,
‘Meski sangat menyusahkan, tapi kami sangat menyayangi anak itu. Aku harus terus menjaganya agar nasibnya tak sama seperti ibunya’
“mungkinkah………..yang dimaksud bibi itu………..nicole???” Gumam Luhan dalam hatinya. “Nicole, pulanglah. Ibumu mengkhawatirkanmu.” Ujar Luhan
“Ya. Aku akan pulang.”
“Mau ku antar?” Luhan menawarkan diri
“Tak perlu. Sampai jumpa.” Ucap Nicole. Ia pun berlalu dari tempat itu. Luhan menatap punggung Nicole yang menjauh. Tiba-tiba ia teringat pada sahabatnya, Kris. ia merasa bahwa Nicole itu terkadang sama dinginnya dengan Kris. Luhan lalu menelepon Kris untuk membicarakan sesuatu yang penting. Tapi yang menerima telepon tersebut ternyata ibunya Kris. Luhan kemudian tanpa sengaja bercerita tentang keluarga Nicole yang tak disangka justru menarik perhatian ibu Kris.
“Berapa usia gadis itu?” Tanya ibu Kris di seberang sana
“Dia kelas tiga SMA. Jadi kira-kira usianya sekitar tujuh belas tahun.” Jawab Luhan
“Apa dia cantik?” Goda ibu Kris
“Bukankah semua anak perempuan di dunia ini pasti cantik? Kalau dia tampan, itu bukan anak perempuan namanya.” Canda Luhan membuat ibu Kris tertawa.
Luhan pulang dengan perasaan bahagia usai mengobrol dengan ibu Kris meski hanya lewat telepon. Ia naik ke tempat tidurnya tanpa melepas sepatunya. Ia baru saja mencoba tidur ketika sesuatu terasa mengganggunya. Gangguan itu datang dari foto yang terpajang di meja belajarnya. Itu foto keluarganya. Di sana ada Luhan, Kris, ibu Kris dan ayahnya. Ia memandangi foto itu lagi dan lagi. Kemudian ia sadar akan sesuatu. Ayah Kris ternyata sangat mirip dengan Nicole. Kata-kata ibu Nicole di rumah minum tadi kembali terngiang-ngiang di kepalanya. ‘Hongkong’, ‘anak kedua’, ‘adikku’ dan ‘gangster’. Ia pun mencoba memastikan dugaannya dengan menelepon ibunya Kris lagi. Walau dengan sedikit memaksa, akhirnya Luhan mendapat jawaban memuaskan. Kris ternyata punya adik perempuan, dan namanya Nicole. Usianya sekarang 17 tahun.  Namun ibu Kris memohon padanya agar merahasiakan hal ini pada ayah Kris. Nicole harus tetap hidup seperti ini, sampai kapan pun.

FLASHBACK END

“Omong kosong macam apa itu?” Pak ketua tak percaya
“Itu bukan omong kosong. Itulah kenyataannya.” Jawab Luhan. Luhan pun pergi begitu saja.
“Kau mau ke mana?” Tanya ketua
“Entahlah.” Jawab Luhan. Ketua merenungkan cerita Luhan. Apa benar jika selama ini istrinya punya rahasia sebesar itu sekian lama? 18 tahun lalu, istrinya memang meninggalkan rumah. tapi ia tidak ke Korea. Ia meminta seorang anak buahnya untuk membeli tiket pesawat ke Amerika. Saat itu tuan ketua memang tak pernah mencari istrinya karena suasana sedang kurang baik. Ketua saat itu berpikiran bahwa berada di luar negeri selama beberapa bulan memang lebih baik bagi istrinya dan anak laki-lakinya yang masih berusia dua tahun. Ketua sama sekali tidak memiliki kecurigaan sedikit pun terhadap istrinya. “Jemput Kris dan ibunya! Sekarang!!!!” Perintah ketua. Ia memerintahkan anak buahnya untuk membawa istri dan anaknya ke Korea. Mendengar ini, Luhan pun kembali.
“Jangan mengusik hidup Nicole jika paman masih hidup seperti ini. Bibi pasti punya alasannya sendiri sehingga ia tidak mengatakan apa pun pada paman. Nicole hidup dengan sangat baik. Dia akan menjadi seseorang yang besar di masa depan. Dan jika saat itu tiba, ia membutuhkan ayah yang bisa membuatnya merasa bangga.” Ujar Luhan kemudian pergi lagi.

^_^

“Aku sangat berterima kasih karena kalian telah menyelamatkan kami. Aku tahu kau melakukannya untuk Suho, tapi aku tetap berterima kasih. Tanpa kalian, aku mungkin sudah bunuh diri.” Ujar Nicole saat ia bertemu Kai di sekolah.
“Sebenarnya aku tidak tahu bahwa Suho juga ada di sana. Lay dan Chanyeol melihat secara langsung saat kau diculik, tapi mereka gagal mengejarmu. Jadi mereka menghubungiku dan juga anak-anak lainnya.”

FLASHBACK...
Lay dan Chanyeol yang kebetulan lewat melihat kejadian penculikan  tersebut. Mereka berusaha mengejar mobil yang membawa Nicole namun mereka  gagal. Chanyeol  menelepon Suho, tapi Suho tak menjawab telepon. Kemudian Lay menelepon Luhan dan hasilnya sama dengan Chanyeol, Luhan juga tak menjawab teleponnya. Mereka kemudian menelepon Kai. Kai yang belum tiba di sekolah berbalik arah menuju sekolah lama Nicole. Beruntung, saat ia tiba Sehun belum masuk ke sekolah.

FLASHBACK END

“Lalu kenapa kau akhirnya setuju untuk menyelamatkanku? Bukankah kau membenciku? Sejak hari pertamaku di sekolah, kau tak pernah menyukaiku.”
“Itu karena aku berhutang maaf padamu.” Jawab Kai “karena……. aku adalah Kim Jongin, temanmu dari Myeongdong.” Lanjut Kai.
Sejak hari  itu, Nicole dan Kai jadi teman baik….. sepertinya Nicole berhasil mengubah image menakutkan yang ia ciptakan di sekolah lamanya menjadi seseorang yang lebih manis dan lebih terbuka.  Baru kali ini ia menyadari bahwa ada baiknya juga jika ia tak bersama Sehun sepanjang waktu. Ia sangat berterima kasih pada adiknya yang menyebabkan ia dipindahkan ke sekolah tersebut.
Sejak peristiwa penculikan itu, Kai dan teman-temannya setiap hari mengantar Nicole pulang sekolah secara bergiliran. Kai yang paling pertama melakukan pengawalan istimewa tersebut. Selanjutnya secara berturut-turut dilakukan oleh Chanyeol, Lay dan Tao. Suho dan Luhan mendapat giliran paling terakhir karena Suho dijemput pulang setiap hari, sedangkan Luhan tak pernah masuk sekolah selama  beberapa hari belakangan ini. Sementara Xiumin masih dirawat di rumah sakit.

^_^

Setelah dua hari dirawat, Nicole dan kawan-kawannya menjenguk Xiumin di rumah sakit. Satu-satunya orang yang tidak ada saat itu hanya Luhan. Meski pun ia kesal pada Luhan, tapi sebenarnya Nicole sangat berharap Luhan akan datang menemui Xiumin. Bagaimana pun juga, di masa lalu Luhan lumayan dekat dengan flower boy yang satu ini.
“Halo teman. Bagaimana kakimu?” Tanya Lay yang selalu lebih perhatian kepada temannya lebih dari yang lainnya. Ia mendekati kaki Xiumin yang terbalut gips tepal.
“Aku merasa lebih baik.” Jawab Xiumin tersenyum melihat Nicole.
“Nicole-ssi, sepertinya pria ini akan segera sembuh jika kau menjenguknya setiap hari.” Celetuk  Tao. Teman-temannya kemudian bergantian menggoda Nicole. Bahkan Baekhyun pun ikut-ikutan menggodanya. Mereka sangat berisik sehingga suster berkali-kali masuk untuk menyuruh mereka diam dan segera pergi.
“Em… Nicole.” Tukas Xiumin saat teman-temannya akan pergi. “Bolehkah aku meminta untuk ditemani olehmu? Sebentar saja. aku ingin mengatakan sesuatu. Aku akan menyuruh sopirku untuk mengantarmu pulang setelahnya.” Lanjut Xiumin. Nicole setuju dan menyuruh teman-temannya yang lain untuk pulang lebih dulu.
“Ternyata kau lebih manja dari perkiraanku.” Ledek Nicole mengoles selembar roti dengan selai kacang. Xiumin tersenyum.
“Tadi Luhan ada di sini. Dia duduk di tempat yang kau duduki sekarang. Dia juga mengupaskan buah untukku. Dia selalu baik padaku.” Ujar Xiumin. Nicole menghentikan pekerjaannya.

FLASHBACK...
Luhan datang menjenguk Xiumin seorang diri. Ia tampak tak berubah sama sekali, hanya saja tak bisa dipungkiri bahwa ia merasa sangat bersalah pada Xiumin sehingga ia jarang sekali memandang wajah Xiumin saat mereka bicara. Luhan terus mengupas buah dan menyuapkannya untuk Xiumin. Dalam hati ia tak henti-hentinya minta maaf karena telah menimbulkan banyak masalah bagi teman-temannya.
 “Kau ingin mengatakan sesuatu?” Tanya Xiumin yang menyadari Luhan sedari tadi hanya sibuk memberinya makan tanpa mengatakan apa pun.
“Jika aku mengatakannya, akankah kau mempercayaiku?” Luhan balik bertanya
“Itu tergantung pada apa yang akan kau katakan.” Jawab Xiumin
“Kau percaya jika aku mengatakan bahwa bukan aku yang mengirim orang untuk menculik Nicole, ibunya dan juga Suho?”
Xiumin diam, tak tahu harus menjawab apa. semua yang terjadi rasanya terlalu memberatkan posisi Luhan. Jika saja Luhan tak berada di tempat kejadian dan tidak berada di pihak para gangster itu, kondisinya mungkin akan berbeda.
“Sudahlah, lupakan saja. Bagiku, kau percaya atau tidak, asalkan kau masih ingin bertemu dan bicara denganku, itu sudah lebih dari cukup. Dengan begitu aku akan merasa memiliki seseorang untuk menjadi temanku.” Ujar Luhan sedih.

­ FLASHBACK END

“Xiuminnie, ku rasa aku harus pulang sekarang. Kau tak perlu menyuruh sopirmu untuk mengantarku pulang. Aku akan menelepon Sehun. Jadi kau tak perlu menghawatirkanku. Cepatlah sembuh. Oke.” Ujar Nicole lalu pergi begitu saja. Nicole berjalan tergesa-gesa sambil menatap layar ponselnya. Ia sedang berusaha melacak keberadaan Luhan dengan ponselnya. Dan akhirnya ia menemukannya di tepi Sungai Han.
“Ku kira kau tak ingin bicara denganku lagi.” Ujar Luhan menatap lurus ke sungai saat Nicole datang.
“Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa wanita selalu menggunakan hatinya dengan benar? Jadi aku ingin menggunakan hatiku untuk memaafkanmu.” Kata Nicole. Luhan sangat tersentuh mendengar kalimat Nicole hingga rasanya ia ingin menangis. Ia sangat terharu karena Nicole ternyata mau mendengarkannya.
“Wajahmu tampak baby faced, tapi ternyata kau seorang gangster. Apa ada hal lainnya yang tidak ku ketahui tentangmu?” Tanya Nicole bermaksud bercanda.
“Ya.”
“Apa?” Nicole penasaran
“Aku…. Dua tahun lebih tua darimu. Jadi, tidakkah kau merasa bahwa kau seharusnya memanggilku Oppa?” Goda Luhan
“What???? Dengar, aku sangat senang karena Sehun memanggilku Noona, tapi aku tak pernah memikirkan bahwa suatu hari nanti aku akan memanggil seseorang dengan Oppa. Itu menggelikan. Aku sangat bersyukur karena ibuku tak pernah melahirkan seorang Oppa untukku.” Cerocos Nicole
“Tapi kau memang punya. Meski pun kau meronta-ronta untuk menolaknya, kau tetap punya seorang Oppa. Dan dia juga seorang gangster sepertiku.”  Luhan berkata dalam hati
“Ada lagi yang kau sembunyikan dariku selain status dan usiamu?” Tanya Nicole. Luhan tidak menjawabnya dan malah mengajaknya pergi. “Kau tidak menjawabku. Bagiku, itu berarti masih ada.” Lanjut Nicole.
“Ya. memang masih ada tapi kau mungkin sebaiknya tak perlu mengetahuinya. Hidup miskin akan lebih baik daripada hidup sebagai bagian dari kami. Andai aku bisa kembali ke 19 tahun yang lalu, aku ingin bisa hidup seperti dirimu.”  Luhan menjawabnya dalam hati.
“Ngomong-ngomong, setelah lulus nanti, apa rencanamu selanjutnya?” Tanya Luhan
“Aku akan mendaftar akademi kepolisian.” Jawab Nicole mantap. Luhan memandang tak percaya. “Kenapa?” Tanya Nicole melihat ekspresi Luhan
“Kau ingin menjadi polisi?”
“Ya. Kenapa?”
“Baiklah. Apa setelah menjadi polisi nanti, kau akan menangkapku?” Canda Luhan
“Ya. Aku akan menangkapmu dan memenjarakanmu seumur hidup.” Nicole balas bercanda
“Aku kan bukan warga Negara Korea. Setahuku, polisi tak berhak menangkap warga Negara asing seenaknya.” Ledek Luhan
“Kau meremehkanku? Baiklah. Lihat saja nanti.  Jika aku berhasil menjadi Interpol, aku akan mengejarmu bahkan hingga ke ujung dunia.” Ujar Nicole
“Tadi kau tidak bilang akan jadi Interpol. Kau curang.” 
“Aku baru saja memikirkannya. Itu bukan salahku. Salahkan saja dirimu yang mengingatkanku soal kewarganegaraanmu.” Ujar Nicole menjulurkan lidah. Luhan menyikutnya namun Nicole menangkisnya dengan sangat cepat. Mereka pun tertawa.

^_^

 “Jadi kau menyukaiku atau tidak?” Nicole bertanya pada Suho. mungkin ini lebih mirip interogasi daripada bertanya.
“Itu….aku….” Ujar Suho terbata-bata
“Sepertinya aku sudah salah paham padamu. Kau sama sekali tidak suka padaku.” Kata Nicole menyimpulkan
“Nicole aku……”
“Kau tak perlu minta maaf. Bukankah sudah kubilang wajahku ini tebal?” Kata Nicole berusaha tertawa. Nicole kembali ke kelas untuk mengikuti kelas malam.
Nicole tidak langsung pulang usai kelas malam. Saat teman-temannya mengajaknya pulang, ia hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah kelas kosong, ia pindah ke tempat yang biasa diduduki Suho lalu menyenderkan kepala ke meja. Ia menangis. Luhan yang sedari tadi ternyata belum pulang melihatnya dari pintu kelas.
Setelah puas dan mungkin kehabisan air mata, Nicole merapikan kembali wajahnya dan pulang. Luhan yang sedari tadi berdiri di pintu langsung kabur dan bersembunyi di kelas sebelah. Ia keluar setelah yakin bahwa Nicole sudah pergi. Luhan berjalan cepat-cepat untuk mengejar Nicole, tapi ia tidak menemukannya.

^_^

Luhan berjalan pelan sepulang sekolah keesokan harinya. Beberapa meter di depannya, ada Nicole yang berjalan dengan malas. Sedangkan di belakangnya ada Suho yang berjalan sambil menulis di ponselnya. Jika Nicole berhenti berjalan, maka Suho dan Luhan ikut berhenti. Ketika Nicole kembali melangkah, Suho dan Luhan pun ikut. Mereka melewati rumah Suho tapi Suho malah mengabaikan rumahnya dan terus mengikuti Luhan dan Nicole. Mereka akhirnya berhenti setelah tiba di depan rumah Nicole.
“Terima kasih karena telah mengantarku pulang. Sebenarnya kalian tak perlu melakukan ini. Tapi aku tetap berterima kasih.” Ujar Nicole mengusir kedua pria itu secara tidak langsung. Luhan dan Suho tak bergeming. “Apa lagi yang kalian tunggu? Ayo pergi!” Kali ini Nicole benar-benar mengusir mereka.
“Aku ingin bicara dengan ibu.” Ujar Luhan
“Ibu???” Tanya Nicole
“Ibumu.” Jawab Luhan menegaskan. Nicole mengangguk-angguk pertanda mengerti.
“Dan kau?” Nicole beralih ke Suho
“Aku ingin bicara dengan Luhan.” Jawab Suho. Kali ini Nicole mengernyit. ‘Kenapa harus mengikuti sampai ke rumahku? Mereka kan bisa bicara di sekolah?’ Pikir Nicole.
“APA YANG KAU LAKUKAN DI RUMAHKU? BUKANKAH SUDAH KU KATAKAN PADAMU UNTUK JANGAN PERNAH DATANG LAGI??! PERGI! PERGI!” Terdengar suara ibu dari dalam rumah.
“Sepertinya ibuku  mengetahui kedatangan kalian. Ayo cepat pergi!” Usir Nicole. Kedua anak itu akhirnya pergi dari situ. Detik berikutnya seorang wanita berlari keluar diikuti oleh ibu Nicole yang mengejarnya dengan sapu. Wanita itu terlihat panik.
“Eonni, dengarkan aku dulu.” Ujar wanita yang dikejar tadi
“Eomma??? Ada apa ini?” Tanya Nicole bingung. Wanita tadi memandang Nicole, ia tersenyum.
“Oh, kau sudah pulang. Masuklah. Ganti pakaianmu sebelum makan. Ibu harus menyelesaikan urusan dengan wanita ini.” Ujar ibu
“Bibi, sebaiknya bibi lari secepatnya. Ibuku sering memukul orang dengan sapu saat ia sedang marah.” Nicole memperingatkan wanita tadi.
Luhan dan suho mengintip dari balik mobil milik seorang tetangga.
“Tadi kau bilang ingin bicara denganku. Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Luhan saat mereka di perjalanan pulang ke rumah masing-masing.
“Aku….ingin minta maaf padamu atas semua yang telah dilakukan ayahku terhadapmu di masa lalu. Maukah kau memaafkan kami?” Tanya Suho penuh harap. Luhan tidak langsung menjawab. Mereka kemudian saling diam, lama sekali.
“Aku sudah memaafkanmu. Lagi pula, aku juga bersalah padamu. Jadi aku juga ingin minta maaf padamu, teman.” Ujar Luhan saat mereka tiba di depan rumah Suho. Mereka saling memeluk pertanda bendera perdamaian telah dikibarkan.

^_^

“Bibi, apa yang bibi lakukan di rumah Nicole?” Tanya Luhan menyelidiki kejadian kemarin saat ia dan Suho mengantar Nicole pulang.
“Entahlah. Aku tidak menyadari apa yang ku lakukan. Tiba-tiba saja aku ada di sana.” Jawab ibunya Kris, wanita yang kemarin dikejar oleh ibu.
“Sebaiknya bibi jangan pernah datang lagi.” Luhan memperingatkan
“Apa nicole-ku sering dipukul dengan sapu?” Tanya ibu Kris penasaran
“Tidak.” Jawab Luhan tapi sepertinya ibu Kris tidak percaya.
“Tapi Nicole sendiri yang mengatakan bahwa ibunya, ah tidak, bibinya itu sering memukul seseorang dengan sapu saat ia marah.” Kata ibu Kris
“Itu memang benar. Tapi Nicole tak pernah dipukul. Gadis itu bisa berlari seperti kuda sehingga ibunya takkan bisa menangkapnya. Bibi tak perlu mengkhawatirkannya. Khawatirkan saja dirimu dan jangan ke sana lagi. Pulanglah ke Hongkong. Jika diperlukan, kau tak usah memberitahu paman mengenai kepulanganmu.”
“Kau mengusirku?”
“Tidak.” Sangkal Luhan

^_^

Luhan mengunjungi rumah Nicole lagi. Di sana ada ibu yang sedang menyapu halaman. Luhan tidak masuk dan hanya berdiri mematung di pintu depan.
“Bibi, aku datang lagi. Apa bibi punya sesuatu untuk diceritakan padaku?” Luhan bicara sepelan mungkin sehingga tak akan ada yang mendengarnya. Tiba-tiba ibu menoleh ke arah pintu. Ia tampak seperti mencari-cari seseorang. Ia kemudian menggeleng melihat tak ada siapa pun di sana. Luhan bersembunyi di balik tembok, memandangi ibu secara diam-diam. Betapa terkejutnya ia karena saat ia berbalik hendak pergi, Sehun ada di situ, berdiri tepat di depannya. Sehun melongok ke halaman dan melihat ibu yang kembali menyapu halaman.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Sehun curiga
“Itu… aku…” Jawab Luhan tergagap
“Kau tidak tertarik pada ibuku kan? Dengar, ibuku sudah hampir lima puluh tahun dan ayahku masih hidup. Jadi aku takkan membiarkanmu menggoda ibuku.” Ujar Sehun serius
“Bukan begitu. Aku ke sini hanya…..” Kata Luhan membuat sehun tergelak-gelak. Sepertinya Sehun berhasil mempermainkan Luhan dengan tampang seriusnya tadi.
“Kenapa kau tidak masuk dan malah bersembunyi seperti pencuri?” Tanya Sehun. Luhan tidak menjawab. “Ah, aku tahu. Kau takut ibu akan memukulmu dengan sapu kan? Tapi sebenarnya kau memang pantas untuk  dipukul. Ayo masuk. Aku ingin melihatmu dipukul dengan sapu” Lanjut Sehun menyeret Luhan masuk. Luhan menurut saja. Saat melihat kedatangan Luhan, ibu tampak agak menakutkan. Luhan sangat berharap ibu benar-benar akan memukulnya saat ini. Dipukul dengan sapu akan lebih menyenangkan dibanding menerima tatapan seperti itu dari ibu.
“Anak nakal. Apa yang kau lakukan di sini huh?!” Bentak ibu lalu benar-benar memukulnya dengan sapu. Betapa terkejutnya ibu karena Luhan diam saja. Biasanya, Nicole atau Sehun akan lari jika ibu akan memukulnya. Ibu berhenti memukulnya dan hendak meninggalkannya, tapi langkahnya terhenti mendengar Luhan bicara.
“Bibi, maafkan aku.” Ujar Luhan. Ibu tidak berbalik. Sepertinya ibu menangis.
“Sehun-ah, cepat ganti baju dan makan.” Kata ibu lalu masuk ke dalam rumah.

^_^

“Aku ingin tanya.” Celetuk Xiumin saat mereka semua termasuk Nicole dan tiga serangkai sedang istirahat di kantin sekolah minggu berikutnya.
“Apa?” Tanya Nicole meminum susu yang diberikan oleh Lay
“Waktu itu…. kenapa kau melempar Chanyeol dengan bola baseball?” Tanya Xiumin membuat Nicole tersedak. Semua teman-temannya sontak menoleh padanya. Menunggu penjelasan.
“Itu….” Jawab Nicole terbata-bata
“Jadi kau yang melakukannya?” Tanya Chanyeol. Ternyata selama ini Chanyeol tidak tahu.
“Itu salahmu sendiri. Aku melihatmu menempelkan secarik kertas di punggung Chen yang menyebabkan ia ditertawai sepanjang hari.” Jawab Nicole tak mau kalah
“Benarkah? Apa secarik kertas bisa menjadi selucu itu?” Tanya Lay bingung

FLASHBACK...
Chanyeol berjalan di belakang Chen saat mereka melewati gerbang sekolah. Nicole yang sedang memandang keluar jendela  kelas melihatnya. Chanyeol kemudian menepuk punggung Chen dan merangkulnya, berpura-pura ramah pada anak lugu itu. Namun anehnya, sepanjang jalan anak-anak malah tertawa melihat Chen. Setibanya di kelas, Nicole langsung menyeret Chen dan melihat ke punggungnya. Di situ tertempel secarik kertas bertuliskan ‘saya orang gila’. Nicole geram dan langsung mencari Chanyeol.

FLASHBACK END

“Chanyeol menempelkan kertasnya tanpa sepengetahuan Chen, jadi aku pun melempar bola tanpa sepengtahuan Chanyeol. Cukup adil kan?” Jelas Nicole
“Setuju!!!!” Teriak Xiumin penuh semangat. Semua mata kini beralih padanya. Dan mereka pun tertawa….

>>>>>THE END<<<<<

Tidak ada komentar:

Posting Komentar